Harapanmu Masih Menjadi Arah
Ibu,
harapan itu kini tak lagi kudengar langsung dari bibirmu.
Tak ada lagi nasihat yang mengalun lembut di telingaku,
tak ada lagi suaramu yang menguatkan saat langkahku mulai goyah.
Namun percayalah, Ibu,
langkah ini tetap kokoh menapaki jalan yang kau impikan.
Meski ragamu telah tiada di sisiku,
pesan-pesanmu tetap hidup dalam setiap denyut perjuanganku.
Aku masih mengingat tatapan penuh harap itu,
saat kau berkata bahwa pendidikan adalah bekal kehidupan,
bahwa ilmu adalah cahaya yang akan menuntun masa depan,
dan bahwa anakmu harus terus maju tanpa mengenal menyerah.
Kini harapan itu sedang kuperjuangkan, Ibu.
Di setiap lembar yang kubaca,
di setiap malam yang kulewati bersama doa dan kerja keras,
ada namamu yang selalu hadir mengiringi langkahku.
Aku tahu,
kau ingin melihat anakmu mencapai pendidikan tertinggi,
berdiri tegak dengan ilmu dan martabat,
menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak kehidupan.
Meski kau tak lagi dapat menyaksikannya dengan mata yang sama,
aku percaya doamu masih mengalir dari alam yang berbeda.
Dan ketika lelah datang menghampiri,
aku mengingat kembali pengorbananmu yang jauh lebih besar.
Ibu,
jika suatu hari nanti aku sampai pada puncak yang kau cita-citakan,
gelar yang kuraih bukanlah milikku seorang.
Di dalamnya ada air matamu,
ada pengorbananmu,
ada cinta yang kau tanam sejak aku belajar melangkah.
Maka izinkan aku terus berjalan, Ibu.
Menembus jarak antara rindu dan kenyataan,
mewujudkan harapan yang pernah kau titipkan,
hingga kelak aku dapat berkata dalam doa:
"Ibu, aku masih meneruskan mimpimu.
Meski suaramu tak lagi kudengar,
harapanmu tetap menjadi arah bagi setiap langkah hidupku."