Banggai Kreatif

CAMELA: CINTA YANG DIBAWA ANGIN SELATAN

19 Aug 2026 Oleh Rastono Sumardi

1. Pertemuan di Bawah Bayang-Bayang Kastela

Malam telah turun di Ternate.

Dari kejauhan, Benteng Kastela berdiri seperti seekor raksasa batu yang mengawasi laut. Cahaya obor bergerak di antara celah-celah dindingnya. Di pelabuhan, kora-kora bergoyang perlahan, sementara aroma cengkih bercampur dengan asin laut.

Adi Saka berdiri seorang diri di ujung dermaga.

Ia belum mengenal siapa pun di negeri itu.

Ia datang dari Jawa membawa sebilah keris warisan gurunya, pakaian sederhana, dan luka yang belum selesai dari tanah kelahirannya.

“Orang Jawa?”

Adi menoleh.

Seorang perempuan berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Namanya Camela.

Rambutnya diterpa angin laut. Matanya menyimpan ketenangan, tetapi ada sesuatu di balik tatapannya yang membuat Adi merasa perempuan itu sedang menyembunyikan kesedihan.

“Ya,” jawab Adi.

“Kalau begitu, mengapa kau datang sejauh ini?”

Adi memandang laut.

“Karena kadang-kadang manusia harus pergi jauh untuk menemukan siapa dirinya.”

Camela tersenyum tipis.

“Dan apakah kau sudah menemukannya?”

“Belum.”

“Barangkali,” katanya pelan, “negeri ini akan membuatmu menemukannya.”

Adi tidak tahu bahwa kalimat sederhana itu kelak akan mengubah seluruh hidupnya.

 
2. Cinta yang Tumbuh Diam-Diam

Mereka tidak langsung jatuh cinta.

Cinta mereka tumbuh seperti akar pohon yang bekerja diam-diam di bawah tanah.

Adi bekerja di pelabuhan. Ia menghitung karung cengkih, memeriksa persediaan, membantu para prajurit, dan perlahan memperoleh kepercayaan.

Camela sering datang ke tempat itu.

Kadang membawa makanan.

Kadang hanya berdiri di dekat dermaga sambil memandang laut.

Kadang mereka tidak berbicara sama sekali.

Namun justru dalam diam itulah sesuatu tumbuh.

Suatu sore, Camela menyerahkan sebuah kain kecil kepada Adi.

“Untuk apa?”

“Angin laut Ternate keras.”

“Aku seorang prajurit.”

“Prajurit juga bisa kedinginan.”

Adi tertawa.

Itulah pertama kalinya Camela melihat lelaki itu benar-benar tertawa.

Namun kebahagiaan mereka tidak bertahan lama.

Ada mata yang mengawasi.

Kapitan Sabua.

Ia telah lama memperhatikan kedekatan keduanya.

Bagi Sabua, Adi bukan sekadar pendatang dari Jawa.

Adi adalah orang asing yang terlalu cepat mendapatkan tempat.

Dan Camela adalah perempuan yang tidak seharusnya berada di dekatnya.

3. Malam Ketika Cinta Menjadi Bahaya

Malam itu hujan turun deras.

Adi menerima pesan agar datang ke gudang tua di belakang pelabuhan.

Ia tahu itu jebakan.

Namun ketika melihat Camela berada di sana, ia segera masuk.

“Camela!”

Perempuan itu terikat pada tiang kayu.

Di belakangnya berdiri beberapa prajurit.

Dan di antara mereka, Sabua.

“Lepaskan dia,” kata Adi.

Sabua tersenyum.

“Untuk pertama kalinya, orang Jawa ini terdengar seperti seorang panglima.”

Adi mencabut kerisnya.

Pedang-pedang terhunus.

Hujan menghantam atap gudang.

Camela berteriak,

“Adi, jangan!”

Tetapi Adi sudah bergerak.

Pertarungan pecah.

Ia menangkis pedang pertama, menghindari tikaman kedua, lalu menghantam seorang prajurit hingga jatuh. Sabua sendiri maju dengan kemarahan yang selama ini disimpannya.

Keris bertemu pedang.

Percikan api terlempar di antara hujan.

Sabua lebih kuat.

Adi lebih cepat.

Namun sebelum pertarungan selesai, suara terompet terdengar dari luar.

Pasukan kedaton datang.

Sabua mundur.

Ia menatap Adi dengan kebencian.

“Ini belum selesai.”

Kemudian ia menghilang di tengah hujan.

Adi segera memotong tali Camela.

Perempuan itu berlari memeluknya.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam.

“Aku takut kehilanganmu,” bisik Camela.

Adi memeluknya lebih erat.

“Aku juga.”

4. Laut yang Menguji Cinta

Setelah kejadian itu, mereka tahu bahwa Ternate tidak lagi aman bagi cinta mereka.

Mereka harus pergi.

Sebuah kora-kora disiapkan.

Tujuan mereka: tanah Banggai.

Malam sebelum keberangkatan, Camela berdiri di tepi pantai.

“Apakah kau yakin kita akan selamat?”

Adi memandang laut yang hitam.

“Tidak.”

Camela menoleh.

Adi tersenyum.

“Tapi aku yakin kita harus berangkat.”

Mereka naik ke kapal.

Layar dikembangkan.

Dayung mulai bergerak.

Ternate perlahan menjauh.

Namun laut tidak memberikan perjalanan yang mudah.

Pada hari ketiga, badai datang.

Langit berubah hitam.

Ombak mengangkat kora-kora seperti daun kering.

Camela terjatuh.

Adi meraihnya tepat sebelum tubuh perempuan itu terseret ke laut.

“Pegang aku!”

“Aku takut!”

“Jangan lihat laut!”

“Aku takut kehilanganmu!”

Adi menggenggam tangannya.

“Kalau begitu, jangan lepaskan tanganku.”

Mereka bertahan dalam badai itu berjam-jam.

Hingga akhirnya, menjelang fajar, ombak mulai tenang.

Camela bersandar di dada Adi.

Mereka memandang langit yang perlahan memerah.

“Aku kira kita akan mati,” katanya.

Adi mengusap rambutnya.

“Kalau kita mati tadi malam…”

“Ya?”

“Aku tetap bersyukur karena orang terakhir yang kugenggam adalah kau.”

Camela menatapnya.

“Jangan bicara tentang kematian.”

“Baik.”

Adi tersenyum.

“Kalau begitu, mari kita bicara tentang hidup.”

5. Tanah Banggai

Hari berikutnya, dari atas kapal, mereka melihat daratan.

Kabut perlahan terbuka.

Bukit-bukit hijau muncul dari kejauhan.

Pantai berbatu membentang di bawah matahari pagi.

Adi berdiri di haluan.

“Banggai.”

Camela mendekat.

“Apakah ini rumah kita?”

Adi terdiam.

Ia melihat tanah yang belum mengenalnya.

Tanah yang kelak akan mempertemukan dirinya dengan para Basalo, perang, adat, kekuasaan, dan takhta.

Namun saat itu ia belum tahu semuanya.

Ia hanya tahu satu hal.

Tangannya masih menggenggam tangan Camela.

“Kita belum tahu apakah tanah ini akan menerima kita.”

Camela tersenyum.

“Kalau tanah ini tidak menerima kita?”

Adi memandang matanya.

“Kita akan membuat rumah di dalam hati masing-masing.”

Kora-kora mendekati pantai.

Lambung kapal menyentuh karang.

Krrreeek!

Para pendayung menghentikan kayuhan.

Adi melangkah turun.

Kakinya pertama kali menginjak tanah Banggai.

Ia menoleh kepada Camela.

Perempuan itu berdiri di belakangnya.

Angin selatan meniup rambutnya.

Adi mengulurkan tangan.

Camela menyambutnya.

Mereka berjalan bersama.

Tidak ada istana.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada jaminan keselamatan.

Hanya sebuah tanah baru dan cinta yang telah melewati badai.

Adi menggenggam tangan Camela.

“Mulai hari ini,” katanya, “kita menulis kehidupan baru.”

Camela memandang pegunungan di hadapan mereka.

“Dan kalau perang datang?”

Adi mengusap hulu keris di pinggangnya.

“Kalau perang datang, aku akan menghadapinya.”

“Dan kalau takhta datang?”

Adi tersenyum.

“Takhta bukan tujuan.”

“Lalu apa?”

Adi menatap Camela.

“Pulang.”

Camela tersenyum.

“Ke mana?”

Adi memandang tanah Banggai.

“Kepada orang yang kita cintai.”

Angin bergerak dari laut.

Di hadapan mereka, tanah Banggai terbentang luas.

Dan tanpa mereka sadari, perjalanan itu bukanlah akhir dari kisah cinta mereka.

Justru itulah permulaannya.

Sebab di tanah karang itu, cinta akan diuji oleh adat, darah, perang, pengkhianatan, dan kekuasaan.

Dan kelak, seorang lelaki bernama Adi Saka akan berdiri di antara dua dunia:

cinta yang ia pilih, dan takdir yang memilihnya, SEBAGAI PELETAK BERDIRINYA KERAJAAN BANGGAI.

 

R

Ditulis oleh

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Karya Ini