MERAPUH TANPA RASA BANGGA
Seikat kata ditebar pada ladang berfrasa
Bait sajak telah di tanam benih aksara
Saatnya bagaimana menata
Indah tidaknya tergantung seberapa elok punya rasa
Angin berhembus menerpa
Gumpalan awan lukis angkasa
Sang surya menembus bilik celah
Terangi lorong yang sedari tadi gulita
Alam Pertiwi hadirkan nuansa
Tumbuh subur beragam flora dan fauna
Mengalir mata air menuju muara
Gugusan gunung berbaris semarak pesona
Kekaguman tiada terkira
Zamrud khatulistiwa tertoreh di sana
Hamparan mulai berubah bentuknya
Menjulang menara mencakar buana
Gelisah mengoyak kata
Mulai merapuh tanpa rasa bangga
Sungai jernih kini ternoda
Menjadi buangan limbah mereka
Jengah untaian merebak murka
Hanya lewat barisan menista
Selebihnya hanya keajaiban merubahnya
Entah di sudut mana alam belum terjamah serakah manusia
Di hutan mana populasi hewan tumbuhan masih terjaga
Tatkala kebutuhan manusia mulai terusik suasana
Alam akan menjaga sekitarnya
Apabila peduli kelestariannya
Jika tak acuh tentang lingkungannya
Alam juga bisa murka
Pasuruan
20082026/07:42