Banggai Kreatif

PMP: Ketika Sebuah T-Shirt Menghidupkan Kembali Kenangan Masa Kecil

23 Aug 2026 Oleh Subrata Kalape

Sebuah pelajaran, sebuah nilai, dan sebuah kenangan yang tak lekang oleh waktu

Ada kenangan masa kecil yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia mungkin tersimpan puluhan tahun di sudut ingatan, lalu tiba-tiba hadir kembali hanya karena melihat sebuah tulisan, sebuah buku, sebuah ruang kelas, atau bahkan selembar pakaian. Bagi saya, salah satu kenangan itu adalah Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

Sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, PMP menjadi salah satu pelajaran yang saya sukai. Bagi sebagian orang mungkin hanya sebuah mata pelajaran, tetapi bagi saya PMP memiliki cerita tersendiri.

Dari pelajaran itulah saya mengenal Pancasila bukan hanya sebagai lima sila yang harus dihafalkan, tetapi juga sebagai nilai yang mengajarkan bagaimana seharusnya kita hidup bersama: saling menghormati, bergotong royong, bermusyawarah, mencintai tanah air, dan berlaku adil kepada sesama.

Karena itulah saya membuat T-shirt bertuliskan “Pendidikan Moral Pancasila”.

T-shirt ini bukan sekadar pakaian. Ia adalah cara sederhana untuk mengenang masa kecil—masa ketika buku pelajaran, ruang kelas, guru, dan pelajaran PMP menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. 

PMP dalam Perjalanan Pendidikan Indonesia Pendidikan Pancasila memiliki perjalanan panjang dalam sejarah pendidikan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka dan Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara, pengenalan serta penanaman nilai-nilai Pancasila menjadi bagian penting dalam pendidikan nasional. Dalam perkembangan kurikulum, Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dikenal sebagai mata pelajaran wajib pada Kurikulum 1975.

Kehadirannya menggantikan mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara pada Kurikulum 1964 dan Pelajaran Kewarganegaraan pada Kurikulum 1968.

Pada masa itu, pendidikan mengenai Pancasila mendapatkan ruang tersendiri sebagai mata pelajaran yang secara khusus diarahkan untuk membentuk pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Kami belajar bahwa Pancasila bukan sekadar materi ujian.

Pancasila berbicara tentang kehidupan. Tentang bagaimana menghormati orang lain. Tentang bagaimana hidup dalam keberagaman. Tentang pentingnya persatuan. Tentang musyawarah ketika mengambil keputusan. Tentang keadilan dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat. Nilai-nilai itulah yang kemudian melekat dalam ingatan kami hingga dewasa.

Dari Kenangan Menjadi Pesan untuk Generasi Sekarang Hari ini saya kembali mengenakan T-shirt PMP tersebut di tengah generasi muda.

Ada sebuah kebahagiaan tersendiri ketika sebuah kenangan masa lalu bertemu dengan generasi masa kini. Apalagi ketika kenangan itu tidak berhenti sebagai nostalgia, tetapi dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya pendidikan, karakter, dan nilai-nilai kebangsaan.

Dalam foto ini, saya berdiri bersama para pelajar. Di tangan kami ada buku dan berbagai bahan bacaan. Bagi saya, gambar ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar sebuah dokumentasi. 

Ada masa lalu yang sedang mengenang, dan ada masa depan yang sedang belajar.

Saya memakai T-shirt PMP untuk mengenang pelajaran yang pernah saya cintai ketika SD. Sementara mereka adalah generasi yang akan membawa bangsa ini ke masa depan. Zaman boleh berubah. Kurikulum boleh berganti. Buku pelajaran boleh berbeda.

Teknologi pendidikan semakin maju. Tetapi satu hal yang tidak boleh hilang adalah nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, persatuan, tanggung jawab, dan kecintaan kepada bangsa.

Mungkin itulah alasan mengapa sebuah T-shirt sederhana bisa memiliki arti yang begitu besar. Ia mengingatkan saya bahwa pendidikan tidak hanya soal seberapa banyak pengetahuan yang kita miliki, tetapi juga tentang nilai apa yang kita bawa dalam menjalani kehidupan.

PMP: Sebuah Pelajaran yang Menjadi Kenangan Ketika melihat kembali masa kecil, saya menyadari bahwa banyak hal yang dahulu terasa biasa ternyata memiliki arti yang besar.

Pelajaran PMP adalah salah satunya. Dahulu saya mempelajarinya sebagai seorang anak SD. Kini, setelah melewati perjalanan panjang kehidupan, saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

PMP bukan hanya tentang menghafal sila-sila Pancasila. Ia adalah bagian dari cerita sebuah generasi yang pernah belajar tentang moral, kehidupan bermasyarakat, persatuan, dan tanggung jawab melalui ruang-ruang kelas sederhana.

Maka T-shirt ini saya buat bukan karena ingin kembali ke masa lalu.

Saya hanya ingin mengabadikan sebuah masa yang pernah membentuk diri saya. Sebab kenangan masa kecil tidak selalu harus disimpan dalam album foto.

Kadang ia bisa hadir dalam sebuah tulisan, sebuah lagu, sebuah buku, atau bahkan sebuah T-shirt yang kita kenakan dengan bangga. Dan setiap kali saya mengenakan T-shirt bertuliskan

“Pendidikan Moral Pancasila”, seolah-olah saya kembali menjadi anak SD—duduk di bangku kelas, membuka buku pelajaran, mendengarkan guru, dan belajar tentang nilai-nilai yang hingga hari ini tetap relevan. 

PMP adalah pelajaran dari masa lalu. Nilai-nilainya adalah bekal untuk masa kini. Dan pengamalannya adalah warisan untuk generasi masa depan.

Karena pada akhirnya, mengenang masa lalu bukan berarti ingin hidup kembali di masa itu. Kita hanya ingin mengingat apa yang pernah mengajarkan kita menjadi manusia seperti hari ini.

— Subrata Kalape

S

Ditulis oleh

Subrata Kalape

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Karya Ini