Banggai Kreatif

NEGERI INI SEHARUSNYA CUKUP

04 Sep 2026 Oleh Rastono Sumardi

Negeri ini cukup.

Cukup tanahnya,
cukup lautnya,
cukup kekayaannya,
cukup untuk membuat rakyat
hidup layak dan sejahtera.

Tetapi ada yang lebih rakus
daripada perut bumi:

perut manusia
yang tak pernah mengenal cukup.

Mereka datang membawa jabatan,
pulang membawa kekayaan.

Datang membawa sumpah,
pulang membawa siasat.

Mengaku pelayan rakyat,
tetapi menjadikan rakyat
ladang kepentingan.

Di mana ada subsidi,
di sana tumbuh akal-akalan.

Di mana ada anggaran,
di sana tangan-tangan
mulai menghitung keuntungan.

Hukum begitu keras
kepada yang tak punya kuasa,
namun begitu lentur
kepada mereka yang punya akses.

Pencuri kecil dipenjara karena mencuri ayam,
pencuri besar mencari celah
agar pencurian tampak seperti administrasi.

Ironisnya,
mereka bicara tentang rakyat
tetapi lupa wajah rakyat.

Bicara tentang pengabdian,
tetapi hidup dari penderitaan.

Bersumpah atas nama Tuhan,
tetapi lupa:

Tuhan tidak bisa disuap.

Lalu di mana nasionalisme?

Para pahlawan
rela kehilangan nyawa
agar negeri ini merdeka.

Mereka mengusir penjajah
dengan darah dan keberanian.

Hari ini,
penjajahan bisa datang
dengan dasi,
stempel,
surat keputusan,
dan tanda tangan.

Dulu penjajah mengambil
hasil bumi.

Kini keserakahan
mengambilnya atas nama
pembangunan.

Kita bukan kekurangan
kekayaan.

Kita kekurangan
keteladanan.

Kita kehilangan manusia
yang malu mengambil
yang bukan haknya.

Kita kehilangan pengabdi
yang tetap jujur
meski tak ada kamera.

Sebaliknya,

wajah paling suci
kadang menyimpan tangan
paling kotor.

Doa menjadi hiasan.
Sumpah menjadi formalitas.
Amanah menjadi kendaraan.
Jabatan menjadi ladang.

Dan rakyat?

Hanya menjadi alasan
dalam pidato.

Lalu kita bertanya:

Apakah hukum telah membangun
nurani bangsa?

Belum.

Sebab ketika hukum
bisa dibengkokkan,
keadilan bisa ditawar,
dan kebenaran bisa dibeli,

kepada siapa
rakyat harus percaya?

Maka kita kembali
kepada nurani.

Dan kepada Tuhan.

Sebab ada hakim
yang tak mengenal lobi,
tak menerima suap,
dan tak takut kekuasaan:

Tuhan, waktu, dan sejarah.

Kelak jabatanmu
hanya menjadi nama dalam arsip.

Hartamu berpindah tangan.
Gedungmu ditempati orang lain.
Pidatomu dilupakan.

Tetapi perbuatanmu
akan tetap tinggal.

Dan sejarah akan bertanya:

Ketika negeri memberimu kekuasaan,
siapa yang kau selamatkan—
rakyat,
atau dirimu sendiri?

Ingatlah:

Negeri ini seharusnya cukup.

Yang membuatnya terasa kurang
bukan tanahnya,
bukan lautnya,
bukan kekayaannya.

Melainkan keserakahan
orang-orang yang
tak pernah merasa cukup.

Sebab yang paling berbahaya
bukan orang miskin
yang mencuri karena lapar,

melainkan orang kenyang
yang masih mencuri
karena merasa
belum cukup.

Dan pada akhirnya,

rakyat boleh dibohongi,
hukum boleh dipermainkan,
kebenaran boleh dibungkam.

Tetapi:

waktu tidak pernah lupa.
Sejarah tidak pernah tidur.
Dan Tuhan tidak pernah keliru.

R

Ditulis oleh

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Karya Ini