Banggai Kreatif

HUD-HUD DI ZAMAN KITA

20 Sep 2026 • Oleh rastono sumardi

Berhenti sejenak!

Dengarkan.

Bukan suara manusia.
Bukan suara penguasa.
Bukan suara mereka
yang memiliki ribuan pengikut.

Dengarkan suara zaman kita—

kebenaran sedang berteriak,
tetapi kebohongan
berbicara lebih keras.

Berita belum tentu benar,
tetapi sudah dibagikan.

Tuduhan belum terbukti,
tetapi sudah dipercaya.

Fitnah belum selesai ditulis,
tetapi sudah menjadi hukuman.

Dan manusia—

begitu mudah menghakimi,
begitu sulit mengoreksi diri.

Satu jari
dapat menyebarkan kebohongan
ke ribuan manusia.

Satu mulut
dapat menghancurkan nama seseorang.

Satu keputusan
dari kursi kekuasaan
dapat mengubah hidup banyak orang.

Tetapi di tengah zaman
yang begitu bising,

ada sebuah kitab
yang tidak pernah kehilangan suaranya:

Al-Qur’an.

Ia membawa kisah
bukan sekadar untuk dikenang,
tetapi untuk menjadi cermin.

Dan di antara kisah itu
ada seorang nabi
dengan kerajaan yang luas—

Nabi Sulaiman AS.

Allah memberinya ilmu,
kekuasaan,
dan pasukan dari manusia, jin,
serta burung-burung.

Namun di tengah kerajaan sebesar itu,
Al-Qur’an menghadirkan
seekor makhluk kecil:

Hud-Hud.

Ia terbang,
melihat sebuah negeri,
lalu kembali membawa kabar.

Bukan emas.
Bukan mahkota.
Bukan pujian.

Sebuah berita.

Tentang sebuah negeri
yang dipimpin seorang ratu,
tentang kaum yang menyembah matahari,
dan tentang sebuah kebenaran
yang perlu disampaikan.

Nabi Sulaiman tidak meremehkannya
karena ia hanya seekor burung.

Ia memeriksa kabar itu.

Dan dari sinilah
kita belajar:

kebenaran tidak menjadi kecil
hanya karena pembawanya kecil.

Hud-Hud tidak mengejar perhatian.

Ia hanya menyampaikan
apa yang dilihatnya
dengan amanah.

Maka hari ini,
ketika dunia dipenuhi suara,

pertanyaannya bukan:

“Seberapa besar pengaruhku?”

Tetapi:

“Seberapa jujur aku
ketika melihat kebenaran?”

Sebab kita hidup
di zaman ketika kebohongan
begitu mudah diteruskan,

sementara kebenaran
sering membutuhkan keberanian
untuk disampaikan.

Maka jangan tunggu menjadi besar
untuk berbuat benar.

Jangan tunggu memiliki kekuasaan
untuk menjaga amanah.

Dan jangan merasa kecil
ketika memilih berdiri
di pihak yang benar.

Karena seekor burung kecil
pernah membawa sebuah berita
kepada seorang nabi.

Dan berita itu
membuka jalan
menuju perubahan sebuah kerajaan.

Kini kisah itu
telah sampai kepada kita.

Jika suatu hari kebenaran
datang kepadamu
ketika semua orang memilih diam—
apa yang akan kau lakukan?

Apakah kau akan menundukkan kepala
demi kenyamanan?

Atau berdiri
meski sendirian?

Sebab pada akhirnya,

bukan banyaknya manusia
yang memuji kita.

Bukan tingginya tempat
yang pernah kita duduki.

Tetapi ketika Allah bertanya:

“Aku telah memperlihatkan kebenaran kepadamu.
Lalu, apa yang engkau lakukan?”

Semoga kita mampu menjawab:

**“Ya Allah,
aku mungkin tidak memiliki kerajaan,
tidak memiliki kekuasaan.

Aku hanya memiliki hati
yang Engkau titipkan.

Dan ketika kebenaran datang,
aku memilih untuk menjaganya.”**

Maka—

jadilah Hud-Hud.

Bukan karena engkau besar,

tetapi karena kebenaran
lebih besar daripada ketakutanmu.

Dan jika dunia terlalu bising
untuk mendengar kebenaran,

biarlah hatimu
menjadi tempat pertama
di mana kebenaran tetap hidup.

Terbanglah.

Bawalah amanah.

Dan ketika kelak
engkau kembali kepada Allah,

jangan pulang
dengan kebenaran
yang pernah kau jual
demi dunia.

R

Ditulis oleh

rastono sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Karya Ini