Banggai Kreatif

LITERASI DI ERA DIGITAL: MASIHKAH MEMBACA BUKU MENJADI KEBUTUHAN?

28 Sep 2026 • Oleh Rastono Sumardi

PODCAST BANGGAI KREATIF

LITERASI DI ERA DIGITAL: MASIHKAH MEMBACA BUKU MENJADI KEBUTUHAN?

Host: Arini
Narasumber: Rastono Sumardi

OPENING

ARINI:
Halo, Sobat Banggai Kreatif!

Apa kabar hari ini?

Kita kembali hadir dalam Podcast Banggai Kreatif, ruang untuk ngobrol santai tentang berbagai hal yang dekat dengan kehidupan kita.

Nah, kali ini kita mau membicarakan sesuatu yang sebenarnya sudah kita lakukan sejak kecil.

Membaca.

Tapi sekarang pertanyaannya sedikit berbeda.

Di zaman ketika kita bisa mendapatkan informasi hanya dengan membuka HP, membaca berita lewat media sosial, menonton video pendek, bahkan bertanya kepada AI...

Masihkah membaca buku menjadi kebutuhan?

Ini menarik sekali.

Karena sekarang orang bisa membaca tanpa merasa sedang membaca.

Baca WhatsApp, baca caption Instagram, baca komentar, baca berita, membaca prompt AI...

Tapi apakah semua itu sudah bisa disebut literasi?

Untuk ngobrol tentang hal ini, sudah hadir bersama kita Pak Rastono Sumardi.

Pak Rastono, apa kabar?

RASTONO:
Alhamdulillah, baik.

Dan saya kira pertanyaan pembukanya menarik.

Karena sekarang kita memang hidup dalam kondisi yang agak unik.

Informasi semakin banyak, tetapi belum tentu orang semakin literat.

ARINI:
Nah!

Itu dia.

Informasinya banyak, tetapi literasinya belum tentu meningkat.

BAGIAN 1

DULU BUKU, SEKARANG SMARTPHONE

ARINI:
Pak Rastono, kalau kita bicara literasi, yang ada di kepala banyak orang mungkin langsung satu kata:

Buku.

Padahal sekarang orang membaca lewat HP.

Apakah buku masih penting?

RASTONO:
Masih sangat penting.

Tetapi kita perlu memperluas cara pandang kita terhadap buku dan literasi.

Buku adalah salah satu media untuk membangun literasi.

Tetapi literasi sendiri bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis.

Literasi adalah kemampuan untuk memahami informasi, mengolahnya, menilai kebenarannya, kemudian menggunakan pengetahuan itu secara tepat dalam kehidupan.

Jadi seseorang bisa membaca ribuan halaman, tetapi kalau tidak mampu membedakan informasi benar dan informasi palsu, tentu ada persoalan literasi.

ARINI:
Berarti orang yang rajin membaca belum tentu otomatis literat?

RASTONO:
Betul.

Karena literasi bukan hanya soal berapa banyak yang kita baca, tetapi juga seberapa baik kita memahami apa yang kita baca.

BAGIAN 2

APA BEDANYA MEMBACA BUKU DAN SCROLLING?

ARINI:
Sekarang kita punya kebiasaan baru.

Scroll.

Scroll TikTok.

Scroll Instagram.

Scroll Facebook.

Baca sedikit.

Geser.

Baca lagi.

Geser lagi.

Menurut Bapak, apakah kebiasaan itu bisa menggantikan membaca buku?

RASTONO:
Tidak sepenuhnya.

Karena karakter informasinya berbeda.

Media sosial cenderung cepat, pendek, dan dirancang untuk menarik perhatian kita.

Sementara buku biasanya mengajak kita mengikuti sebuah gagasan secara lebih panjang dan mendalam.

Misalnya kita membaca sebuah buku tentang sejarah.

Kita tidak hanya mendapatkan satu fakta.

Kita mengikuti konteks, sebab-akibat, tokoh, peristiwa, dan hubungan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya.

Itulah yang melatih kedalaman berpikir.

ARINI:
Jadi masalahnya bukan HP-nya?

RASTONO:
Bukan.

HP bukan musuh literasi.

Justru HP bisa menjadi alat literasi yang luar biasa.

Masalahnya adalah bagaimana kita menggunakan HP.

Kalau HP hanya digunakan untuk scrolling tanpa tujuan, tentu manfaatnya berbeda dengan HP yang digunakan untuk membaca buku digital, mengikuti kursus, membaca jurnal, mencari informasi, atau belajar keterampilan baru.

BAGIAN 3

GENERASI SEKARANG TIDAK KEKURANGAN INFORMASI

ARINI:
Saya sering merasa anak-anak sekarang justru punya terlalu banyak informasi.

Dulu mencari informasi susah.

Sekarang malah kebanyakan.

RASTONO:
Betul.

Dan ini tantangan baru.

Dulu tantangannya adalah:

“Bagaimana mendapatkan informasi?”

Sekarang tantangannya:

“Bagaimana memilih informasi yang benar?”

Ini perubahan besar.

Karena di internet, informasi benar dan informasi salah bisa muncul berdampingan.

Bahkan kadang informasi yang salah dibuat dengan sangat meyakinkan.

Ada judul yang menarik.

Ada gambar.

Ada video.

Ada orang yang terlihat meyakinkan.

Padahal belum tentu benar.

ARINI:
Berarti literasi digital sangat penting?

RASTONO:
Sangat penting.

Kita harus membiasakan diri bertanya:

Siapa yang membuat informasi ini?

Dari mana sumbernya?

Kapan informasi itu dibuat?

Apakah ada data pendukung?

Apakah ada sumber lain yang membenarkannya?

Jangan hanya karena informasi itu viral lalu kita anggap benar.

BAGIAN 4

LITERASI BUKAN HANYA SOAL BACA DAN TULIS

ARINI:
Sekarang kita masuk ke bagian yang menurut saya menarik.

Hari Aksara Internasional sekarang juga semakin mengaitkan literasi dengan berbagai aspek kehidupan.

Bukan hanya membaca dan menulis.

Ada sosial, ekonomi, lingkungan, teknologi, dan sebagainya.

Bagaimana Bapak melihat perubahan ini?

RASTONO:
Karena kehidupan manusia memang semakin kompleks.

Coba kita ambil contoh sederhana.

Seseorang mungkin bisa membaca tulisan.

Tetapi ketika menerima pesan penipuan digital, dia tidak mampu mengenali bahwa itu penipuan.

Berarti kemampuan membaca ada.

Tetapi literasi digitalnya perlu diperkuat.

Contoh lain.

Seseorang mendapatkan informasi tentang investasi.

Dia bisa membaca penjelasannya.

Tetapi tidak memahami risiko keuangan.

Berarti literasi finansialnya perlu diperkuat.

Begitu juga dengan lingkungan.

Kita membaca tentang perubahan iklim.

Tetapi apakah kita memahami bagaimana sampah, penggunaan energi, air, dan perilaku sehari-hari berkaitan dengan lingkungan?

Itu juga bagian dari literasi.

BAGIAN 5

LITERASI EKONOMI: BISA MEMBACA, TAPI BISA MENGELOLA UANG?

ARINI:
Menarik.

Kalau begitu literasi juga berhubungan dengan kehidupan ekonomi kita?

RASTONO:
Sangat berhubungan.

Misalnya seseorang mendapatkan penghasilan.

Dia harus mampu membuat keputusan:

Berapa untuk kebutuhan?

Berapa untuk tabungan?

Bagaimana mengelola utang?

Bagaimana memahami bunga?

Bagaimana menghindari penipuan?

Bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan?

Itu semua membutuhkan literasi.

Bahkan bagi pelaku UMKM.

Mereka harus bisa membaca pasar.

Membaca tren.

Menghitung biaya produksi.

Menentukan harga.

Membuat promosi.

Mengelola keuangan.

Sekarang bahkan perlu memahami algoritma media sosial dan pemasaran digital.

Jadi literasi sudah masuk ke hampir semua aspek kehidupan.

BAGIAN 6

LITERASI SOSIAL: BISA MEMBACA ORANG LAIN

ARINI:
Kalau literasi sosial itu seperti apa?

RASTONO:
Literasi sosial berkaitan dengan kemampuan memahami kehidupan bersama.

Kita hidup bersama orang yang berbeda.

Berbeda usia.

Berbeda pendidikan.

Berbeda pekerjaan.

Berbeda pandangan.

Maka kita perlu kemampuan untuk mendengarkan, berdialog, menghargai perbedaan, dan tidak mudah menghakimi.

ARINI:
Jadi literasi bukan cuma hubungan kita dengan buku, tetapi juga hubungan kita dengan manusia?

RASTONO:
Tepat.

Karena pengetahuan seharusnya membuat kita lebih mampu memahami kehidupan.

Bukan malah membuat kita merasa paling tahu.

BAGIAN 7

BAGAIMANA DENGAN ANAK-ANAK?

ARINI:
Sekarang pertanyaan untuk orang tua.

Bagaimana cara menumbuhkan budaya membaca pada anak di tengah gempuran gadget?

RASTONO:
Jangan mulai dengan melarang.

Mulailah dengan memberikan contoh.

Kalau orang tua ingin anak membaca buku, anak harus melihat orang tuanya juga membaca.

Tidak harus selalu buku tebal.

Bisa majalah.

Bisa koran.

Bisa buku cerita.

Bisa e-book.

Yang penting anak melihat bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan.

Kemudian jangan menjadikan membaca sebagai hukuman.

Misalnya:

“Kalau tidak belajar, tidak boleh main.”

Akhirnya anak menganggap belajar dan membaca sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan.

Kita perlu membangun pengalaman membaca yang positif.

ARINI:
Jadi bukan:

“Matikan HP! Baca buku!”

RASTONO:
He-he-he...

Kalau setiap hari begitu, mungkin bukunya malah jadi korban.

ARINI:
Bisa jadi anaknya membaca buku sambil berharap HP-nya kembali.

RASTONO:
Nah, itu.

Lebih baik kita katakan:

“Yuk, kita cari cerita yang kamu suka.”

BAGIAN 8

BUKU CETAK ATAU E-BOOK?

ARINI:
Pak Rastono, kalau harus memilih buku cetak atau e-book?

RASTONO:
Tidak harus memilih.

Keduanya memiliki kelebihan.

Buku cetak memberikan pengalaman membaca yang berbeda.

Ada bentuk fisiknya.

Bisa diberi catatan.

Bisa disimpan.

Bahkan bagi sebagian orang, membaca buku cetak membuat konsentrasi lebih terjaga.

Tetapi e-book juga luar biasa.

Satu perangkat bisa membawa ratusan bahkan ribuan buku.

Yang penting bukan medianya.

Yang penting adalah kebiasaan membaca dan kualitas bacaan.

ARINI:
Berarti jangan sampai kita berdebat:

“Buku cetak lebih baik!”

“E-book lebih modern!”

RASTONO:
Yang lebih penting adalah:

Apakah kita membaca?

Dan setelah membaca:

Apakah kita memahami?

Kemudian:

Apakah pengetahuan itu kita gunakan?

BAGIAN 9

LITERASI DAN AI

ARINI:
Nah, ini bagian yang tidak boleh dilewatkan.

Sekarang ada AI.

Orang bisa bertanya apa saja.

Bahkan bisa meminta AI membuat tulisan.

Kalau semua bisa dibuat AI, apakah orang masih perlu membaca?

RASTONO:
Justru semakin perlu.

Karena AI bisa memberikan jawaban, tetapi manusia tetap harus mampu menilai jawaban tersebut.

AI bukan pengganti kemampuan berpikir.

Kalau kita tidak memiliki pengetahuan dasar, kita bisa menerima jawaban AI begitu saja.

Padahal jawaban AI tetap perlu diperiksa.

Kita perlu bertanya:

Apakah datanya benar?

Apakah sumbernya jelas?

Apakah konteksnya tepat?

Apakah ada kesalahan?

Jadi di era AI, literasi bukan berkurang.

Justru naik level.

ARINI:
Wah, jadi AI malah membuat kita harus lebih kritis?

RASTONO:
Betul.

Dulu kita belajar membaca buku untuk mendapatkan pengetahuan.

Sekarang kita juga harus belajar membaca informasi yang dihasilkan mesin.

BAGIAN 10

APA YANG TERJADI KALAU MASYARAKAT TIDAK LITERAT?

ARINI:
Kalau budaya literasi rendah, dampaknya apa?

RASTONO:
Dampaknya luas.

Masyarakat lebih mudah percaya hoaks.

Lebih mudah terjebak penipuan.

Sulit mengambil keputusan berdasarkan data.

Sulit memahami persoalan sosial.

Bahkan bisa terjadi konflik karena informasi yang tidak benar.

Karena itu literasi sebenarnya bukan sekadar program pendidikan.

Literasi adalah fondasi masyarakat.

BAGIAN 11

LITERASI DI BANGGAI

ARINI:
Kalau kita bicara Banggai, bagaimana kita membangun budaya literasi?

RASTONO:
Menurut saya, harus dilakukan bersama.

Sekolah tentu punya peran.

Perpustakaan punya peran.

Pemerintah punya peran.

Orang tua punya peran.

Komunitas juga punya peran.

Media punya peran.

Termasuk komunitas literasi dan komunitas kreatif.

Dan sekarang kita bisa memanfaatkan teknologi.

Misalnya:

Perpustakaan digital.

Podcast.

Buku audio.

Video edukasi.

Komunitas membaca.

Diskusi daring.

Kelas menulis.

Bahkan AI bisa digunakan untuk membantu orang belajar.

Jadi literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas.

Literasi bisa hadir di rumah, di komunitas, di tempat kerja, dan di ruang digital.

BAGIAN 12

MEMBACA BUKU 15 MENIT SEHARI

ARINI:
Kalau masyarakat ingin mulai membangun kebiasaan membaca, tetapi merasa tidak punya waktu, apa yang bisa dilakukan?

RASTONO:
Mulai kecil.

Tidak perlu langsung satu jam.

Coba 15 menit sehari.

Yang penting konsisten.

Lima belas menit hari ini.

Besok lima belas menit.

Lusa lima belas menit.

Dalam sebulan, kita sudah punya kebiasaan.

Dan jangan terlalu memikirkan harus membaca buku yang berat.

Mulailah dari topik yang disukai.

Kalau suka sejarah, baca sejarah.

Kalau suka sastra, baca sastra.

Kalau suka bisnis, baca bisnis.

Kalau suka teknologi, baca teknologi.

ARINI:
Jadi kuncinya bukan memaksa diri membaca buku yang tidak kita suka?

RASTONO:
Betul.

Karena tujuan awalnya adalah membangun kebiasaan membaca.

Setelah kebiasaan terbentuk, selera membaca biasanya berkembang.

BAGIAN 13

PERTANYAAN TERAKHIR: MASIHKAH BUKU DIBUTUHKAN?

ARINI:
Pak Rastono, kita kembali ke pertanyaan awal.

Di era TikTok, YouTube, Instagram, Google, dan AI...

Masihkah membaca buku menjadi kebutuhan?

RASTONO:
Jawaban saya:

Masih.

Tetapi buku tidak boleh berdiri sendiri.

Buku harus menjadi bagian dari ekosistem literasi yang lebih luas.

Kita membaca buku.

Kita membaca berita.

Kita belajar dari pengalaman.

Kita berdiskusi.

Kita memeriksa informasi digital.

Kita belajar menggunakan teknologi.

Dan yang paling penting, kita menggunakan pengetahuan itu untuk memperbaiki kehidupan.

Jadi bukan:

Buku atau digital.

Tetapi:

Buku dan digital.

Bukan:

Membaca atau teknologi.

Tetapi:

Membaca dengan memanfaatkan teknologi.

CLOSING

ARINI:
Wah, menarik sekali.

Jadi ternyata persoalannya bukan apakah buku akan kalah oleh teknologi.

Tetapi apakah kita mampu menggunakan teknologi untuk membuat diri kita semakin literat.

Karena di zaman informasi seperti sekarang, mungkin masalah kita bukan lagi kekurangan informasi.

Tetapi kelebihan informasi tanpa kemampuan menyaringnya.

Pak Rastono, satu kalimat terakhir untuk Sobat Banggai Kreatif?

RASTONO:
Jangan takut pada teknologi.

Tetapi jangan pula menyerahkan pikiran kita sepenuhnya kepada teknologi.

Bacalah. Pahamilah. Periksalah. Dan gunakan pengetahuan untuk kehidupan.

ARINI:
Luar biasa.

Terima kasih Pak Rastono Sumardi.

Dan terima kasih Sobat Banggai Kreatif yang sudah menemani obrolan kita hari ini.

Saya Arini.

Sampai bertemu di episode berikutnya.

Tetap membaca.

Tetap belajar.

Tetap kritis.

Dan tentu saja...

Tetap kreatif bersama Banggai Kreatif!

RASTONO:
Salam literasi!

ARINI:
Salam literasi dari Banggai!

PERTANYAAN PEMANCING UNTUK INTERAKSI PENDENGAR

  1. Apakah Anda masih rutin membaca buku?
  2. Lebih suka buku cetak atau e-book?
  3. Berapa menit sehari Anda membaca?
  4. Apakah media sosial membuat kita semakin literat atau justru semakin sulit fokus?
  5. Apakah AI membantu kebiasaan belajar Anda?
  6. Buku apa yang paling berkesan dalam hidup Anda?
  7. Bagaimana cara membuat anak-anak Banggai kembali menyukai membaca?
  8. Menurut Anda, apa tantangan literasi terbesar di era digital?

 

 

R

Ditulis oleh

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Karya Ini