Banggai Kreatif

Misteri Alarm Subuh yang Hilang

28 Sep 2026 • Oleh Rissa Churria

Di sebuah rumah kayu yang asri, hiduplah tiga bersaudara yang punya misi besar setiap harinya: bangun sebelum matahari terbit. Ada Mustafa, si sulung yang duduk di kelas 6 SD; Faqih, adiknya yang kelas 3 SD; dan si bungsu yang lincah, Hilwa (atau sering dipanggil Dik Hil).

Malam itu, mereka sudah sepakat. “Besok kita harus salat Subuh berjemaah di masjid sama Ayah,” ucap Mustafa sambil menyetel jam weker tua berwarna perak milik mereka. “Jam 04.15 ya, jangan ada yang tarik selimut lagi!”

Faqih dan Dik Hil mengangguk mantap. Namun, keesokan paginya, suasana kamar sangat sunyi. Tidak ada bunyi kring yang memekakkan telinga. Matahari mulai mengintip malu-malu di balik jendela saat Mustafa tiba-tiba terjaga karena mendengar suara azan dari kejauhan.

“Astagfirullah! Jam berapa ini?” Mustafa melompat dari tempat tidur. Ia melihat jam dinding, sudah pukul 04.40. Ia segera menoleh ke meja kecil tempat alarm diletakkan. Kosong. Jam itu hilang!

Mustafa segera membangunkan adik-adiknya. “Faqih! Dik Hil! Bangun! Kita terlambat, dan jam weker kita hilang!”

Faqih yang masih mengantuk mengucek matanya. “Hah? Hilang? Padahal semalam Faqih lihat jamnya di sana.”

Dik Hil yang biasanya paling ceria malah tampak menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Mustafa merasa ada yang aneh. “Dik Hil, kamu lihat jam weker kita?”

Perlahan, Dik Hil menarik bantalnya. “Maafkan Dik Hil, Kak… Tadi malam, Dik Hil takut jamnya bunyi berisik dan bikin Dik Hil kaget. Jadi, Dik Hil ambil dan… Dik Hil sembunyikan di dalam lemari kain supaya suaranya pelan.”

Mustafa dan Faqih saling berpandangan. Mereka segera membuka lemari dan benar saja, jam itu ada di sana, terbungkus handuk tebal. Bunyi alarmnya tadi pagi ternyata teredam sempurna hingga tak terdengar siapa pun.

“Duh, Dik Hil,” Faqih menghela napas. “Gara-gara itu kita jadi hampir ketinggalan salat Subuh.”

Mustafa duduk di samping adik bungsunya dan berkata dengan lembut, “Dik Hil, disiplin itu memang butuh perjuangan. Suara alarm mungkin berisik, tapi itu adalah ‘panggilan kasih sayang’ supaya kita bisa menghadap Allah tepat waktu. Kalau kita sengaja menghilangkannya, kita sendiri yang rugi tidak dapat pahala di awal waktu.”

Dik Hil menunduk sedih. “Maaf ya Kak Mustafa, Kak Faqih. Besok Dik Hil janji gak akan sembunyikan jamnya lagi. Dik Hil mau belajar disiplin!”

“Ya sudah, ayo cepat ambil wudhu! Meski tidak sempat ke masjid, kita tetap harus salat berjemaah di rumah sekarang juga,” ajak Mustafa.

Pagi itu, meski diawali dengan misteri jam yang hilang, Mustafa, Faqih, dan Dik Hil belajar satu hal penting: bahwa rintangan terbesar untuk bangun Subuh terkadang bukan dari luar, melainkan dari keinginan diri sendiri untuk terus terlelap.

2025

Audio
Dengarkan Karya Ini
Narasi oleh Rissa Churria
0:00 0:00
R

Ditulis oleh

Rissa Churria

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Karya Ini