Fatamorgana Baju Merah
Langit ibu kota tampak aneh memerah di saat fajar
Alunan adzan subuh masih tak terdengar di sisa malam
Sayup-sayup desiran suara angin kadang terdengar
Mengajak insan-insan yang lelah terbuai makin pulas
Keheningan malam tiba-tiba berubah histeris mencekam
Laras sepatu serdadu memecah sunyi malam … seolah lonceng petaka…!
Berjalan penuh nafsu, mengokang senjata, muntahkan amarah
Tujuh nyawa berkalang tanah mengerikan, gugur sebagai tumbal
Siapa sangka, gerakan revolusi mereka salah perhitungan
Revolusi yang mereka gagas, justru menjadi hantu yang menyeramkan
Namun bukan bagi TNI, guru bangsa dan bukan pula kyai bahkan rakyat muak .. !
Mereka hanya segerombolan baju merah, antek-antek asing, sayap kiri yang anti tuhan
Menumpas si baju merah adalah bhakti mulia, panggilan negara
Terlalu tebal noda hitam yang sudah mereka sandang
Tak terhitung harta mereka rampas, ribuan nyawa yang mereka penggal
Kepada rakyat tak berdosa, petani, santri, hingga tokoh bahkan kiai
Tragedi kudeta itu ternyata kuburan yang mereka gali sendiri
Nafsu menjadikan negeri berkiblat ateis, hanya mimpi, ber-fatamorgana…
Karena Tuhan inginkan negeri ini tetap berketuhanan
Kuat bersatu dalam nada-nada sila Pancasila yang terjaga
Negeri ini akan tetap terbang tinggi bersama burung Garuda
Mengepakkan sayap, membusungkan dada, membawa Pancasila se-nusantara
Membawa Indonesia menjadi macan Asia, mengaum menggetarkan semesta
Berdiri sejajar, menghapus sejarah kelam, menyambut esok tanpa luka
Pasuruan, 30 September 2026