Banggai Kreatif

MONOLOG: Aku Ini Kopi

30 Sep 2026 • Oleh Irwan Dwikustanto

(Lampu temaram. Seorang perempuan berdiri di tengah panggung. Di tangannya, secangkir kopi. Ia menatapnya lama. Musik latar instrumental pelan. Ia mulai berbicara.)

Aku ini kopi.
Masih sama.
Sejak pertama kali kau temui aku di kedai kecil itu,
di sudut Yogyakarta yang tak pernah disebut dalam peta.
Aku tak berubah.
Masih hitam.
Masih pahit.
Masih menyala.

Aku ini kopi.
Yang kau peluk diam-diam
saat dunia terlalu bising untuk didengar.
Yang kau cari saat malam terlalu panjang
dan rindu terlalu berat untuk ditanggung.

(Seteguk. Diam. Tatapan jauh.)

Aku tahu rasamu.
Aku tahu malam-malammu yang tak tidur,
doa-doa yang tak pernah kau kirim
karena kau terlalu lelah berharap.
Aku tahu luka yang kau sembunyikan
di balik senyum dan tisu kedai kopi.

Aku ini kopi.
Tak pernah meminta gula.
Tak pernah merayu susu.
Tak pernah memohon agar kau menyukai aku.
Aku hanya ingin kau merasai aku
apa adanya.

Karena pahitku bukan kutukan.
Pahitku adalah bahasa pertama semesta.
Bahasa yang dipahami akar,
dipahami batu,
dipahami kupu-kupu yang menenun baju ibumu
di pagi yang sunyi.

(Senyum tipis. Ia duduk perlahan.)

Aku pernah menjadi senandung.
Di tangan lelaki buta yang hanya ingin bernyanyi
dengan gitarnya yang mekar
dan secangkir purnama.
Ia tak ingin memetik bintang,
tak ingin memeluk rembulan.
Ia hanya ingin bersenandung sendiri saja,
dengan pahit yang ia cintai.

Aku pernah menjadi mimpi.
Di lereng Merapi,
di ladang-ladang sunyi,
di pagi yang dihujani bebatuan dan awan panas.
Aku adalah mimpi petani,
adalah embun yang patah,
adalah langit yang menatap haru.

Aku tak pernah mengutuk barista buta
yang membidani kelahiranku.
Dari tangan seorang pemuda yang tak bisa melihat ,
tercipta sebuah racikan kopi yang sensasional.
Bukan hanya menggugah rasa,
tetapi juga menyentuh jiwa.
Seduhan itu melampaui batas indera,
menjelma menjadi pengalaman yang menggetarkan kesadaran.

Aku tak pernah menolak air mendidih
yang memandikanku dari ujung kepala
hingga ke ujung kaki.
Aku menerima semuanya.
Karena aku tahu,
pahitku adalah cara semesta
mengurai rahasia yang berabad-abad
terpendam dalam lidah-lidah penyair.

(Diam. Ia berdiri. Menatap penonton.)

Dan kau...
kau yang berdiri di hadapan cangkirmu,
yang bertanya-tanya tentang hidup,
tentang luka,
tentang kehilangan—
kau pun tahu,
bahwa hidup itu pahit.

Tapi aku ini kopi.
Pahit yang dinikmati.
Pahit yang dicari.
Pahit yang tak pernah memaksa
untuk disukai,
tapi selalu ada
untuk mereka yang berani
merasai hidup
apa adanya.

(Seteguk terakhir. Ia menatap cangkir kosong.)

Dan jika suatu hari aku tak lagi ada,
jika suaraku tak lagi terdengar,
jika namaku hanya tinggal jejak di dasar gelas,
ingatlah aku
sebagai pahit yang pernah kau peluk.
Sebagai kopi
yang menyala
di tengah sunyi.

(Lampu perlahan meredup. Musik berganti nada. Ia berjalan pelan ke sisi panggung, lalu duduk kembali.)

Di beranda kedai itu,
aku memesan dua cangkir kopi.
Agar waktu tak cemburu,
agar angin bisa bernapas panjang,
dan agar aku tetap setia menunggumu.
Tapi cangkir kopimu yang hening,
bening,
tak henti memanggil namaku.
Ia seperti mengapung di lautan luas,
tak pernah menemukan pantainya.

Aku menunggu.
Menunggu hadirmu yang kadang datang, kadang pergi.
Menunggu kupu-kupu yang hinggap di bulu matamu.
Menunggu senyummu yang lebih manis dari arabika.

Kadang aku meditasi.
Menyeruput pelan,
menghirup uap yang mengandung suara-suara ghaib,
menyaksikan cicak memadu kasih,
dan kuda yang merumput di dinding.
Aku benar-benar di sini.
Benar-benar hadir.
Benar-benar jatuh cinta.

Jam dinding berdetak pelan.
Jarumnya setia,
menyambangi angka-angka yang sabar menunggu,
tanpa janji, tanpa keluh.

Dan aku,
aku tetap di sini.
Di antara cangkir, asbak, dan puisi.
Menunggu.
Menyeruput.
Mengingat.

Aku duduk di beranda, senja menyapa pelan.

Audio
Dengarkan Karya Ini
Narasi oleh Irwan Dwikustanto
0:00 0:00
I

Ditulis oleh

Irwan Dwikustanto

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Karya Ini