Kutulis Namamu di Hati (Puisi untuk Affan Kurniawan)

19 Apr 2026 | Oleh: Rastono Sumardi

Kutulis Namamu di Hati (Puisi untuk Affan Kurniawan)

Judul:  Kutulis Namamu di Hati (Puisi untuk Affan Kurniawan)
Nuansa: Dramatis, sendu → memuncak → reflektif → harapan getir
Instrumen: Piano, biola, gitar akustik, perkusi ringan (cajon / snare lembut), ambient pad
Vokal:

  • Deklamator (suara tegas & emosional)
  • Penyanyi (melodi lirih, kadang naik penuh emosi)

🎤 ARANSEMEN PUISI


(Intro musik: Piano pelan + suara ambient kota pagi, tempo lambat)

DEKLAMATOR:

Affan
kau bangun pagi, pasang jaket hijau,
gas motor tua yang kadang mogok
cuma buat cari rezeki halal
Pesanan makanan di belakang
doa ibu di kepala

(Masuk gitar akustik petikan + biola lembut)

DINYANYIKAN (lirih, nada minor):

Affan...
jalan hidupmu sederhana
mengantar harapan dari rumah ke rumah
dengan doa ibu di kepala...


(Musik mulai gelap, biola menegang, tempo sedikit naik)

DEKLAMATOR (lebih tegas & dramatis):

Tapi hari itu
jalan yang tiap hari kau lewati
berubah jadi liang lahat
Bukan karena banjir, bukan karena lubang
tapi karena roda besi aparat
yang harusnya menjagamu
malah hancurkan tubuhmu

(Beat masuk pelan, piano ditekan lebih kuat)

DINYANYIKAN (emosi meningkat):

Hari itu langit runtuh diam-diam
tak ada tanda, tak ada ampun
yang menjaga berubah jadi ancaman
dan kau pulang… tanpa tubuh utuh...


(Musik diturunkan tiba-tiba, hanya piano)

DEKLAMATOR (pelan tapi tajam):

Affan
kau bukan perusuh
kau bukan maling
kau bukan musuh negara
Kau cuma tukang antar makan
yang ingin pulang bawa senyum buat keluarga

(Masuk biola minor, suara vokal penuh rasa)

DINYANYIKAN:

Kau hanya ingin pulang...
bawa tawa sederhana
tapi jalan lebih cepat
mengambil segalanya...

(Musik berhenti sesaat → lalu masuk ketukan pelan seperti detak)

DEKLAMATOR:

Tapi apa daya
aspal menelanmu lebih cepat dari doa yang sempat kau bisikkan

(Masuk gitar + pad, nuansa satire getir)

DEKLAMATOR setengah teatrikal:

Orang-orang berjas datang melayat,
kamera ramai, janji berhamburan.
“Kami berduka.”
“Kami usut tuntas.”
“Kami transparan.”

Ah, janji itu enteng sekali,
lebih enteng dari kantong plastik tempat makanan yang kau bawa.

(DINYANYIKAN, nada sinis tapi lembut)

Janji... hanya kata
bertebaran tanpa makna
lebih ringan dari bebanmu
yang tak pernah mereka rasa...

(Musik kembali sunyi, hanya piano tunggal)

DEKLAMATOR (emosional, perlahan naik):

Affan
ibu menangis
adikmu menangis
teman-temanmu menangis

Tapi negara?
Negara sibuk rapat
negara sibuk siaran pers
negara sibuk jaga wibawa

(Masuk full instrumen perlahan, emosi naik)

DINYANYIKAN (powerful):

Tangis tak terdengar di ruang kuasa
suara kecil tenggelam di meja mereka
kau pergi... tanpa pembela...

(Musik mulai ritmis, seperti gerakan massa)

DEKLAMATOR:

Kini namamu ada di spanduk
disebut di jalan-jalan
diteriakkan dalam demo

Ironi sekali, Fan.
Kau yang sederhana
yang berjuang cari makan keluarga
tiba-tiba dijadikan simbol kemarahan rakyat

(DINYANYIKAN, lebih kuat dan penuh energi)

Namamu kini menggema
di jalan dan amarah
yang dulu sunyi
kini jadi suara...

(Musik kembali turun, reflektif)

DEKLAMATOR (tenang tapi dalam):

Affan
kami tak bisa hidupkanmu kembali
Tapi kami bisa mengingatmu
dengan bahasa sederhana:
kau mati bukan karena salah
kau mati karena oknum aparat yang abai

(DINYANYIKAN lembut, penuh haru)

Namamu kami jaga
dalam luka yang nyata
kau bukan salah...
kau korban mereka...

(Musik perlahan naik ke harapan getir)

DEKLAMATOR:

Dan kalau buku sejarah nanti tak mau menulis namamu
biar kami tulis di hati kami
di helm-helm ojol yang terus melaju
di klakson motor-motor yang tiap hari cari rezeki

(DINYANYIKAN – bagian klimaks, penuh perasaan)

Di jalan-jalan hidup kami
namamu takkan hilang
kau hidup...
di setiap perjuangan...

(Outro: piano + biola sangat lembut)

DEKLAMATOR (pelan, hampir berbisik):

Affan,
istirahatlah

Kau pergi dengan cara paling pahit
tapi namamu akan terus hidup
di antara rakyat kecil yang selalu jadi korban(DINYANYIKAN penutup, sangat lirih)

Istirahatlah...
damai di sana...
namamu abadi
di hati kami...

(Outro musik fade out, suara motor menjauh perlahan)

Ditulis oleh:

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: