Episentrum Sunyi : Elegi Kapur dan Ketulusan

23 Apr 2026 | Oleh: Rastono Sumardi

Episentrum Sunyi : Elegi Kapur dan Ketulusan

Di atas lantai semen yang retak dimakan usia,
kau berdiri—tegak, setia, menantang ketidakpastian.
Di punggungmu, negeri ini kau pikul diam-diam,
tanpa keluh, tanpa riuh—
hanya napas yang beradu dengan debu kapur
yang perlahan memutihkan rambutmu,
menyematkan waktu pada setiap helai pengabdian
yang tak pernah dibayar lunas oleh dunia.

Kau adalah anomali—
kenyang oleh satu kata: “Merdeka”
yang terbata di bibir muridmu.
Sementara di dapurmu, api nyaris padam,
kayu-kayu harap tinggal arang.
Kau pejuang yang tak pernah diabadikan sejarah,
namamu hanya bergetar di lembar absensi lusuh,
terselip sunyi di bawah kata “honorer”
yang tajamnya lebih dari sekadar luka.

Lihatlah tangan itu—
gemetar menahan lapar,
namun tetap teguh menggenggam pena.
Dengan jemarimu, kau lukis pelangi
di langit masa depan anak-anak orang lain,
sementara anak-anakmu sendiri
belajar arti sabar dari diam yang panjang.
Kau beri sayap pada mimpi yang bukan milikmu,
hingga kau lupa
bagaimana caranya terbang untuk dirimu sendiri.

Wahai yang abadi dalam kesunyian—
andai dunia ini adil,
namamu telah dipahat di puncak gunung tertinggi,
bukan terselip di lorong birokrasi yang tuli.
Namun kau tak menuntut itu—
sebab setiap pagi, kau telah membangun surga kecil:
di ruang kelas yang bocor,
di mana tiap kata menjadi doa,
dan tiap langkah menuju sekolah
adalah ziarah menuju keabadian.

Biarlah mereka lupa mencatat jasamu—
sebab semesta tak pernah lalai merawat cahaya.
Kau bukan sekadar guru—
kau denyut nadi bangsa yang menolak berhenti,
meski dadamu sesak
oleh janji-janji yang beterbangan seperti debu.

Engkau adalah lilin—
yang habis terbakar dalam sunyi,
namun dari nyalamu
matahari lahir
di mata setiap anak didikmu.

Ditulis oleh:

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: