Ayah, Kau Adalah Lentera Itu
29 Apr 2026 | Oleh: Herdiyanto Yusuf
Lentera petromaks itu masih memendarkan cahayanya,
bergetar di sela gelombang selat Pulau Bandang yang angkuh,
seolah nyala kecil yang menantang takdir—
seperti dirimu, Ayah,
yang tak pernah benar-benar padam.
Aku masih mengingat malam itu,
ketika laut menjadi wajah yang muram,
dan angin seperti bisikan leluhur
yang memperingatkan betapa kecilnya kita
di hadapan samudera.
Aku memandang sosok parobaya itu—dirimu,
diam, tanpa kedip,
wajah kuyuhmu diguyur cahaya redup,
namun matamu…
lebih dalam dari palung mana pun.
Dan kini aku tahu,
bukan lampu itu yang redup,
bukan malam yang menelan cahaya,
bukan pula langit yang menutup bumi—
melainkan duka yang kau sembunyikan
rapat-rapat di balik dada.
“Nak, malam ini samudera belum merestui…”
suaramu lirih,
seperti ombak yang surut sebelum sampai pantai,
“ikan-ikan belum menyambung nasib kita esok.”
Itu kalimat yang meluncur dari bibirmu yang pucat,
kata-kata yang masih menggantung seperti jangkar
di dasar ingatanku.
Ayah…
itu kisah lama kita,
yang kini menjelma doa yang tak pernah selesai.
Ada suatu waktu di selat Peling,
aku adalah bocah yang dipeluk ketakutan,
ombak mengangkat dan menjatuhkan jiwaku
seperti daun kering di tangan badai.
Sementara kau—
berdiri seperti karang tua,
diam, tegar, seakan tak mengenal gentar.
Namun aku kini mengerti,
karang pun retak diam-diam,
dan laut tak pernah benar-benar jinak.
Kau hanya menelan takutmu sendiri,
menguburnya di dasar keberanian
agar aku belajar satu hal:
bahwa menjadi laki-laki bukan tentang tak gentar,
melainkan tetap berdiri
meski dunia berguncang tanpa ampun.
Ayah,
engkau adalah lentera yang tak sekadar menerangi,
melainkan membakar gelap dalam diriku,
mengusir ragu yang tumbuh seperti lumut
di sela-sela keyakinan.
Kini, tanpamu…
laut tetap sama ganasnya,
namun aku tak lagi punya arah
untuk pulang.
Perahu ini masih berlayar,
tapi kehilangan nahkoda,
dan angin tak lagi bisa kuterjemahkan
seperti dulu saat kau ada.
Kenangan tentangmu
adalah peta yang mulai pudar,
namun tetap kupeluk
seperti satu-satunya jalan pulang.
Ayahku…
engkau telah pergi,
berlayar lebih jauh dari cakrawala yang mampu kupandang,
meninggalkan aku di antara riuh ombak
dan sunyi yang tak terucap.
Semoga di sana
kau menemukan laut yang teduh,
tanpa badai, tanpa lapar, tanpa gelisah—
tempat di mana jiwamu berlabuh dengan damai.
Dan jika suatu hari
ombak hidup mencoba menenggelamkanku,
aku akan mengingat caramu menatap laut—
dengan tenang, dengan berani,
seolah maut pun hanyalah arus
yang harus dilalui.
Sebab meski ragaku kini rapuh tanpamu,
nyalamu, Ayah…
masih hidup,
di setiap langkah yang kupaksa tetap tegak,
engkau adalah lentera itu!