‎Mas Rasto, Menyemai Literasi dalam Sunyi Bukit Halimun

30 Apr 2026 | Oleh: Herdiyanto Yusuf

‎Mas Rasto, Menyemai Literasi dalam Sunyi Bukit Halimun

Oleh: Herdiyanto Yusuf

Di sebuah rumah sederhana di lereng Bukit Halimun, Banggai, kesunyian justru menjadi ruang paling subur bagi lahirnya karya. Dari tempat yang jauh dari hiruk-pikuk, Rastono Sumardi—atau yang akrab disapa Mas Rasto—menyemai gagasan, merawat literasi, dan menggerakkan komunitas kreatif yang kini mulai bergema hingga ke luar daerah. 

‎Saya menyeruput kopi yang disuguhkan Mas Rasto, sambil melantai di ruang tamu sederhana itu. Aroma tembakau terhirup kuat, bercampur angin sore yang pelan menyusup dari celah dinding. Suasananya tenang, nyaris sunyi.

‎“Alhamdulillah… akhirnya sampean bisa jalan-jalan ke sini,” kata Mas Rasto membuka percakapan. Sarung masih menutupi badannya, sederhana, tanpa jarak.

‎Hari itu, lebih dari sepekan lalu, saya menyambangi kediamannya di Perum Apernas Bukit Halimun. Sebuah perumahan yang baru kembali digarap setelah lama seperti tertidur tanpa progres. Jalan menuju ke sana, dari aspal utama, masih dipenuhi batuan dan debu.

‎Saya sempat membayangkan, jika aksesnya sudah baik, kawasan ini mungkin tak lagi terasa terisolasi di kedalaman Bukit Halimun, Kabupaten Banggai.

‎Di tempat yang cenderung sunyi itulah, seorang pria bernama asli Rastono Sumardi menenun banyak hal—pikiran, kegelisahan, sekaligus karya.
‎Ia bukan sosok yang lahir dari ruang serba mudah. Lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 10 Maret 1974, dan tumbuh besar di Desa Beringin Jaya, Banggai, Mas Rasto ditempa dari lingkungan sederhana yang akrab dengan nilai kerja keras dan pendidikan.

‎ Perjalanan hidupnya membentang dari dunia pendidikan sebagai guru, hingga kini menjadi bagian dari birokrasi di Pemerintah Kabupaten Banggai.
‎Namun, di balik rutinitas formal itu, ada ruang lain yang ia rawat dengan tekun—ruang sunyi yang melahirkan karya.
‎Jujur, saya mengaguminya.

‎ Di tengah kesibukannya sebagai aparatur pemerintah, ia masih menyisihkan waktu untuk menulis cerpen, puisi, hingga lagu-lagu tematik. Tema yang ia angkat pun dekat—tentang alam, tentang Banggai, tentang pengalaman personal yang sederhana namun jujur.

‎“Benar kata orang… kesunyian bisa menjadi alasan untuk melahirkan banyak karya,” ucapnya pelan.

‎Kalimat itu seperti menjelaskan semuanya. Bahwa apa yang lahir dari rumah sederhana di jantung bukit ini bukanlah sesuatu yang kebetulan.

Mas Rasto kemudian bercerita tentang satu kegelisahan yang ia rasakan sejak lama. Ia melihat banyak karya anak-anak Banggai—puisi, lagu, cerita pendek—muncul, tetapi tak pernah benar-benar hidup lama. Tidak terdokumentasi, tidak terpublikasi dengan baik, lalu hilang begitu saja.

‎Dari kegelisahan itulah lahir Banggai Kreatif.
‎Sebuah ruang yang ia bangun bersama rekan-rekannya, bukan hanya untuk berkumpul, tetapi untuk memberi keberanian. Ruang bagi siapa saja yang ingin berkarya tanpa rasa takut, tanpa merasa kecil.

‎“Kita ini punya banyak potensi, tapi sering kali tidak percaya diri untuk mempublikasikan karya sendiri,” katanya.
‎Perlahan, ruang itu berkembang. Aktivitas karya lagu dan puisi yang kian ramai bahkan ikut mendorong eksistensi radio di Banggai. Hingga kini, sedikitnya tujuh radio lokal telah terintegrasi dalam jejaring Banggai Kreatif.
‎Karya-karya yang sebelumnya tercecer kini mulai menemukan jalannya. Disiarkan, diperdengarkan, dan dinikmati lebih luas.

‎Tak hanya itu, Banggai Kreatif juga mengelola sejumlah media sebagai wadah distribusi karya—portal serta radio streaming seperti Suara Banggai Kreatif dan Radio Bonua Sastra. Dari ruang-ruang kecil ini, karya lokal bergerak, perlahan tapi pasti, menembus batasnya sendiri.
‎Gaungnya bahkan telah sampai ke luar daerah. Melalui kolaborasi para penyair dan penulis, Banggai Kreatif mulai dikenal di Makassar, Manado, Padang, Jakarta hingga Bandung.
‎Namun bagi Mas Rasto, semua itu bukan soal seberapa jauh nama itu melangkah.

‎Lebih dari itu, ia ingin menghadirkan ruang yang hidup—yang saling menguatkan. Ada dorongan, ada dukungan, dan ada rasa persaudaraan di dalamnya. Sebab baginya, karya bukan hanya soal hasil, tetapi juga tentang keberanian untuk memulai dan kebersamaan untuk terus bertahan.
‎Sore itu, kopi di tangan saya mulai mendingin. Angin masih berembus pelan, membawa aroma tembakau yang belum sepenuhnya hilang.

‎Di hadapan saya, seorang pria bersarung itu kembali tenggelam dalam kesunyian yang justru melahirkan banyak suara.
‎Dari Bukit Halimun, dari ruang yang sunyi, ia terus menyemai sesuatu yang kelak tumbuh—pelan, tapi pasti: literasi.(*)

Ditulis oleh:

Herdiyanto Yusuf

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: