KALOMBA' - Bab 3 : "Tragedi Berlanjut" (Novel)

02 May 2026 | Oleh: Abdy Gunawan

KALOMBA' - Bab 3 :

Dihyah memacu motor Beat hitam miliknya dengan kecepatan tinggi. Untungnya, jalanan Luwuk yang masih berstatus kota kecil itu tidak padat kendaraan, bahkan jauh dari kata macet, sehingga Dihyah dengan mudah sampai ke tempat tujuan.

Di sana, Dirga dan Azizi telah menunggu bersama personel Polresta Luwuk lainnya. Mereka berkerumun di sekitar sesosok mayat yang terbujur kaku di teras masjid.

Pemandangan tersebut tidak hanya menarik perhatian polisi, tetapi juga masyarakat sekitar. Walaupun sudah dihalangi oleh tim Reserse dan Inafis, beberapa warga berhasil meloloskan diri dan mengintip wajah mayat yang tertutup kain putih itu.

“Innalillahi wa innailaihi rajiun, ini Pak Kiai!”

Beragam reaksi muncul dari warga. Semuanya bernada negatif—mulai dari sedih, marah, hingga kaget. Bahkan, ada seorang ibu yang pingsan tatkala mengetahui bahwa pimpinan pondok pesantren tersebut tewas dengan tubuh bersimbah darah.

“Ini ulah neo-komunis! Para atheis kafir itu memang ingin membuat Luwuk menjadi kota Sodom!” teriak seorang pria mengenakan gamis dan peci putih. Teriakannya langsung disahuti oleh sekelompok pria di belakangnya.

Para anggota polisi tampak tidak acuh dengan komentar warga. Dirga dan Azizi memperhatikan tanda-tanda kematian pada jenazah dengan teliti, sesekali mencatat temuan penting. Sementara itu, tim Inafis sibuk mengambil foto dan sampel sidik jari di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).

Tiba-tiba, salah seorang warga yang protes tadi menahan petugas saat hendak memasukkan mayat ke kantong jenazah. “Mau kalian apakan jenazah Pak Kiai?”

“Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui detail serta penyebab kematiannya. Ini dilakukan agar penyelidikan bisa mengarah ke tersangka,” jelas Dirga tenang.

“Halah! Bilang saja kalian mau menutupi alasan sebenarnya, kan? Sama seperti kejadian brutal lain yang menimpa tokoh-tokoh agama di Luwuk. Kalian hanya sibuk membangun narasi palsu untuk menyembunyikan kebenaran!”

Dihyah memantau dari kejauhan sambil menyeduh segelas kopi hitam di warung depan masjid. Perhatiannya terbagi antara kelompok yang bertikai dan Azizi yang masih sibuk mengamati mayat. Tanpa disadari oleh jamaah yang melayangkan protes, Azizi diam-diam memperhatikan luka menganga serupa bekas kuku pada jenazah tersebut.

“Hei, perempuan! Apa yang kau lakukan? Jauhkan tanganmu dari jenazah Kiai!”

Entah tidak dengar atau sengaja abai, Azizi tetap menjalankan tugasnya. Ia terus meraba dan mengamati bagian leher mayat dengan serius, tentu saja dengan menggunakan sarung tangan sesuai SOP kepolisian.

“Kau tuli, ya? Kau itu perempuan dan Pak Kiai bukan mahrammu!” Pria yang tampak alim itu melangkah ke arah Azizi. Ia hendak menarik tangan Azizi, namun segera dihalangi oleh Dihyah yang sejak tadi berjalan mendekat.

“Katanya bukan mahram, tapi kok situ mau narik tangan cewek, Pak Ustaz?”

Pria itu tidak menanggapi sindiran Dihyah. Matanya tertuju pada kartu identitas yang tergantung di leher Dihyah. “Wartawan media kafir rupanya? Kalian-kalian inilah yang mencuci otak masyarakat Luwuk agar mendukung adanya klab malam,” ucapnya merendahkan. Kalimat itu memancing amarah jamaah di luar garis polisi.

“Pikiranmu sempit. Itu konsekuensi dari perubahan status Luwuk menjadi kota madya—kota terbesar kedua di Pulau Sulawesi! Kalian inilah yang justru memperlambat pembangunan!” bantah Dihyah.

“Apa? Kalian dengar yang dia katakan? Memangnya siapa kamu berani bicara begitu tentang kami?” Pria paruh baya itu mengangkat tangan, hendak memukul Dihyah.

“Cukup!” Seseorang mengangkat garis polisi dan melangkah masuk. Sama seperti Azizi dan Dirga, ia tidak memakai seragam dinas. Ia tampil rapi dengan jaket kulit hitam dan celana jins gelap. Rambutnya dipangkas pendek, hampir plontos.

“Dari mana saja kamu, Marwin?” tegur Dirga.

“Maaf, Dan! Ada urusan yang harus saya selesaikan dulu. Bagaimana hasil investigasinya?”

“Sulit. Orang-orang ini melarang kita membawa jenazah Kiai untuk diautopsi.”

“Ah, Nak Marwin!” Sikap pria pemimpin jamaah tadi berubah drastis—dari tegang menjadi ramah begitu melihat Marwin.

“Tenang saja, Pak. Apa yang dilakukan polisi penting untuk mencari tahu penyebabnya. Sebagai mukmin, bukankah kita diminta bertabayun untuk mencari kebenaran? Jika tidak, kematian Kiai hanya akan menimbulkan tanda tanya, bahkan hoaks dari para provokator.”

“Benar juga. Kami mempercayakan jenazah Kiai kepadamu, Marwin, sebagai salah satu petinggi pesantren ini.” Setelah itu, pria tersebut mengajak rekan-rekannya meninggalkan TKP.

Jenazah Kiai diangkat ke ambulans, diiringi isak tangis para pengikutnya di sepanjang jalan.

“Terima kasih, Marwin. Aku tidak tahu kau pengurus pesantren,” ucap Azizi.

“Masih banyak hal keren dariku yang belum kamu tahu, Azizi,” jawab Marwin percaya diri.

Dihyah terkekeh sinis. Namun, Marwin tampaknya tersinggung. “Kalau bukan karena aku, sudah habis kau dihajar massa tadi.”

“Aku tidak memintamu membantuku!” balas Dihyah ketus.

“Sudah, sudah,” Dirga menengahi. “Kenapa kau tidak menjawab panggilan radioku sejak tadi malam, Marwin? Kalau tahu kau bagian dari pesantren ini, kita bisa mendapat informasi lebih awal.”

“Maaf Komandan. Seperti yang kubilang, urusan yang kumaksud tadi adalah memperbaiki radio saya yang rusak.”

Saat mereka hendak bubar, pria yang tadi berdebat dengan Dihyah kembali menghampiri Marwin. “Maafkan sikap kasarku tadi, aku tidak tahu kalian rekan kerja Marwin. Oh ya, Marwin, seorang santri melihatmu kemarin sore di pesantren. Kenapa tidak memberitahu? Kalau kami tahu kau datang, pasti akan disambut hangat. Sudah beberapa bulan kamu jarang berkunjung.”

Marwin tampak tertegun sejenak. “Ah, masa? Mungkin santri itu salah lihat. Seperti sebelumnya, pekerjaan di kantor polisi sangat banyak. Lain kali saya akan berkunjung.”

Sepanjang jalan menuju kos, Dihyah terus memikirkan percakapan itu. Entah hanya kebetulan atau alibi Marwin memang ada hubungannya dengan sang Kiai, Dihyah belum berani menyimpulkan. Namun, benih kecurigaan sudah tertanam di kepalanya.

 

Ditulis oleh:

Abdy Gunawan

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: