AIR MATA LAUT

06 May 2026 | Oleh: Rissa Churria

AIR MATA LAUT

Tanah yang terkurung tembok-tembok angkuh itu
perempuan-perempuan tak lagi melahirkan nyanyian
rahim mereka telah berubah menjadi kuil perlawanan
menyimpan bayi-bayi yang di keningnya telah tertulis: Merdeka atau Syahid

Gaza bukan lagi sekadar nama di peta yang kau raba dengan jari gemetar
ia adalah jantung dunia yang dipaksa berhenti berdetak
oleh tangan-tangan besi yang haus akan jelaga dan kuasa

Lihatlah anak-anak itu
bocah-bocah dengan mata sehitam jelaga
mereka tak belajar membaca dari buku-buku kertas yang wangi
tapi dari guratan nasib yang terukir di reruntuhan beton

Tangan mungil mereka tak lagi menggenggam manisan
melainkan menggenggam kunci rumah yang telah jadi abu
dan batu-batu jalanan yang mereka anggap sebagai taring sejarah

Bagi mereka
suara jet tempur adalah pengantar tidur yang lebih karib
ketimbang dongeng tentang peri atau kerajaan di awan

O, dunia yang bersolek di atas panggung kemunafikan!
Kau hitung jumlah korban seperti menghitung angka di meja judi
sementara di jalur itu, darah bukan lagi cairan yang mengalir di urat
tapi sungai yang mengairi ladang-ladang zaitun yang hangus

Setiap dentum adalah cara maut mengetuk pintu
setiap tangisan adalah melodi yang kau sumbat dengan alasan diplomasi

Apakah kau harus menunggu seluruh tanah itu menjadi kuburan massal
baru kau akan percaya bahwa Tuhan sedang menangis di sana?

Kita semua adalah saksi bisu
penonton yang memakai topeng
bicara tentang hak asasi di bawah lampu kristal yang mahal
saat seorang ibu di Rafah harus mencuci mayat anaknya dengan air mata
karena air tanah telah asin bercampur keringat dan mesiu

Jangan beri kami diksi yang lembut jangan suguhi kami puisi yang manis!
Sebab di Palestina kata-kata adalah amunisi
setiap larik adalah saksi bahwa martabat manusia tak bisa diratakan
meski gedung-gedung telah lumat menjadi debu

Esok, ketika matahari terbit dari balik reruntuhan
ia akan mendapati anak-anak itu telah tumbuh menjadi pohon-pohon baja
yang akarnya menghujam ke pusat bumi
cabangnya menggapai Arsy

Sebab luka Gaza adalah luka kita paling purba
selama satu nyawa anak kecil masih terenggut oleh ambisi
maka sebenarnya kitalah yang sedang mati 
dalam tubuh yang masih bernapas

5 April 2026

 

dengarkan Musikalisasinya, Klik link di bawah ini : 

Air Mata Laut - Banggai Kreatif

Ditulis oleh:

Rissa Churria

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: