Di jantung Luwuk,
kau temukan teluk kecil,
tempat laut membisik rindu
kepada daratan.
Teluk Lalong,
hamparan biru seluas harapan,
di mana ombak tak hanya membawa kabar,
tetapi juga kenangan
yang diam-diam menetap.
Kita duduk di bangku
Ruang Terbuka Hijau,
di antara daun yang menari
dan lampu-lampu yang malu bercahaya.
Kau tersenyum,
seperti cahaya dari warung jajanan di seberang,
yang tak pernah padam,
bahkan saat hujan
Angin laut menyisir rambutmu
dengan lembut.
Dan aku tahu,
di sini cinta bisa begitu sederhana.
Sepotong ubi goreng,
secangkir saraba hangat,
dan kamu—
yang lebih hangat dari keduanya.
Kapal-kapal berlabuh pelan,
seperti hatiku
yang tak pernah terburu
Sebab di pelabuhan matamu,
aku ingin tinggal lama,
selamanya.
Di tepinya,
Masjid Agung An Nur
berdiri megah menyentuh langit,
dalam senyap penuh berkah.
Mengingatkan kita
pada anugerah Sang Pencipta,
bahwa cinta dan alam
dicipta untuk saling menjaga.
Dari sore hingga larut malam,
Teluk Lalong menjadi panggung
bagi cinta yang tak perlu suara keras.
Cukup bisikan,
cukup tatapan,
cukup kita berdua…
dan laut
yang mengerti segalanya.