Cinta di Dua Arah Doa
26 May 2026 | Oleh: Ridayati
Aku mengenalmu
dari senja yang jatuh perlahan
di pelataran waktu yang sederhana,
saat namamu singgah
lebih teduh dari hujan pertama.
Kita tumbuh seperti dua musim
yang saling merindukan,
namun langit menuliskan jalan berbeda
pada kitab-keyakinan
yang sejak awal dijaga keluarga.
Aku mencintaimu
dengan cara paling diam,
menyebut namamu dalam harap
meski doa-doa kita
menuju arah yang tak sama.
Sering kali aku bertanya pada malam,
mengapa hati dipertemukan
jika akhirnya dipisahkan
oleh sekat yang tak mampu
dijembatani air mata.
Namun cinta tak selalu tentang memiliki,
kadang ia hanya belajar ikhlas
menjadi kenangan paling indah,
meski tak sempat menetap
dalam satu rumah dan satu nama.
Bila nanti waktu membawa kita berjauhan,
aku ingin kau tahu—
pernah ada seseorang
yang mencintaimu sepenuh jiwa,
tanpa membenci keyakinanmu.
Dan jika takdir memang berpihak,
mungkin semesta akan menemukan jalannya sendiri.
Tetapi bila tidak,
biarlah cinta ini tinggal
sebagai doa yang saling menguatkan.
Dengarkan Pembacaan Puisinya, Klik di bawah ini