Qurban dan Pengorbanan

26 May 2026 | Oleh: Rastono Sumardi

Qurban dan Pengorbanan

Qurban membuka pagi
Dengan napas keikhlasan
Menyentuh dahi-dahi yang letih
Dan bumi mendengar
Doa-doa berjalan tanpa kaki
Namun sampai ke jantung manusia.

Idul Qurban datang
Bukan sekadar darah
Bukan sekadar pisau
Bukan sekadar hewan yang rebah.

Idul Qurban datang
Sebagai sungai rahasia
Yang mengalir dari dada
Menuju langit yang sabar.

Aku melihat Ibrahim
Di dalam cermin zaman
Bukan hanya seorang nabi
Tetapi pohon keteguhan
Yang akarnya menembus takut
Dan rantingnya menaungi iman.

Aku melihat Ismail
Bukan sekadar anak
Melainkan mata air kepasrahan
Yang tetap jernih
Meski gurun menggigil
Di bawah matahari ujian.

Pisau itu—
Ah, pisau itu—
Bukan besi yang lapar
Ia hanya saksi
Yang gemetar di tangan takdir.

Dan langit pun berbicara
Dengan bahasa yang tidak bersuara:
Yang diminta bukan nyawa,
Melainkan kabut di hatimu.

Maka qurban adalah jalan pulang
Ketika manusia menyembelih
Kesombongan yang tumbuh seperti ilalang
Ketamakan yang beranak-pinak
Di ladang keinginan
Dan ego yang sering menjadi raja
Di kerajaan tubuhnya sendiri.

Pengorbanan berjalan di antara kita
Sebagai pelita yang tak tidur
Ia mengetuk pintu dada
Ia memanggil nama-nama yang lupa pulang
Ia menampung tangis
Yang jatuh tanpa alamat.

Pengorbanan berkata:
Berbagi.
Pengorbanan berkata:
Mengasihi.
Pengorbanan berkata:
Jangan biarkan saudaramu
Memeluk lapar sendirian.

Sebab Idul Qurban
Bukan pesta daging
Bukan harum sate
Yang sebentar mengepul lalu hilang.

Idul Qurban adalah pengakuan—
Bahwa manusia terlalu sering
Menyimpan berhala kecil
Di lemari ambisinya.

Berhala pujian.
Berhala kuasa.
Berhala dunia.

Dan sekali lagi
Qurban membuka pagi
Dengan napas keikhlasan.

Sekali lagi
Kita belajar menjadi Ibrahim
Yang rela kehilangan
Namun tidak kehilangan Tuhan.

Sekali lagi
Kita belajar menjadi Ismail
Yang menyerahkan takut
Kepada cinta yang lebih tinggi.

Sebab qurban sejati
Adalah saat hati
Berani rebah di hadapan-Nya
Tanpa topeng
Tanpa dusta
Tanpa sisa kesombongan.

Dan malam Idul Qurban
Menaikkan doa-doanya ke langit
Seperti burung-burung tak terlihat
Sedang pengorbanan duduk di beranda jiwa
Membacakan kasih Tuhan
Yang tak pernah selesai.

Dengarkan Musikalisasinya, Klik di bawah ini:

Qurban dan Pengorbanan - Banggai Kreatif

Ditulis oleh:

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: