Fahri Hamzah dan Feri Amsari Berdebat Soal Seruan Aksi Mahasiswa, Reformasi Jilid 2 Menggema

14 Jun 2026 | Oleh: rastono sumardi

Fahri Hamzah dan Feri Amsari Berdebat Soal Seruan Aksi Mahasiswa, Reformasi Jilid 2 Menggema

Jakarta – Gelombang kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menguat seiring rencana aksi mahasiswa yang digelar di berbagai daerah. Dalam program ROSI KompasTV bertajuk "Seruan Aksi Menggema, Reformasi Jilid 2?", dua tokoh dengan latar belakang aktivis yang berbeda pandangan, Fahri Hamzah dan Feri Amsari, terlibat perdebatan mengenai kondisi demokrasi dan arah pemerintahan saat ini.

Fahri Hamzah, mantan aktivis Reformasi 1998 yang kini berada dalam pemerintahan, menegaskan bahwa aksi demonstrasi merupakan hak konstitusional warga negara dan mahasiswa memiliki peran penting sebagai pengawal demokrasi. Namun, ia menilai kondisi Indonesia saat ini tidak dapat disamakan dengan situasi menjelang Reformasi 1998.

Menurut Fahri, pada masa Orde Baru ruang kebebasan publik sangat terbatas, konstitusi masih membuka peluang otoritarianisme, media tidak bebas, dan pergantian kekuasaan hampir mustahil terjadi. Sementara saat ini, berbagai instrumen demokrasi telah tersedia, mulai dari keterbukaan informasi, media sosial, hingga pembatasan masa jabatan presiden.

Fahri juga menilai pemerintahan Presiden Prabowo sedang berupaya melanjutkan agenda reformasi melalui pemberantasan korupsi, pengurangan kebocoran sumber daya negara, dan pengurangan kesenjangan ekonomi. Ia menyebut kritik dan demonstrasi mahasiswa sebagai alarm yang penting bagi pemerintah untuk mendengar aspirasi publik.

Di sisi lain, akademisi dan aktivis pro-demokrasi Feri Amsari menilai keresahan publik saat ini tidak muncul secara tiba-tiba. Ia menyebut adanya kekecewaan terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap kurang berpihak kepada rakyat serta melemahnya fungsi kontrol lembaga demokrasi. Menurutnya, sebagian masyarakat melihat adanya gejala kemunduran demokrasi yang perlu segera diperbaiki.

Feri menyoroti sejumlah persoalan seperti meningkatnya peran aparat di ruang sipil, minimnya partisipasi publik dalam penyusunan kebijakan, hingga kondisi ekonomi yang dinilai belum memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa aksi mahasiswa merupakan bentuk peringatan kepada pemerintah agar tidak mengabaikan suara rakyat.

Meski berbeda pandangan, kedua tokoh sepakat bahwa kritik dan demonstrasi merupakan bagian sah dari kehidupan demokrasi. Fahri menegaskan pemerintah tidak boleh menutup telinga terhadap aspirasi masyarakat, sementara Feri menilai mahasiswa memiliki peran penting untuk terus mengingatkan penguasa agar tetap berada di jalur reformasi.

Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa wacana mengenai "Reformasi Jilid 2" masih menjadi ruang diskusi terbuka di tengah masyarakat. Sebagian pihak melihat kondisi saat ini masih berada dalam koridor demokrasi yang sehat, sementara pihak lain menilai perlu ada koreksi serius terhadap arah kebijakan pemerintah agar cita-cita reformasi tetap terjaga.

Editor: Rastono Sumardi
Sumber: Program ROSI KompasTV "Seruan Aksi Menggema, Reformasi Jilid 2?" dan publikasi KompasTV.

Ditulis oleh:

rastono sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: