Pucuk Cengkeh yang Menguning

06 Jun 2025 | Oleh: Sri Kurniasih

Pucuk Cengkeh yang Menguning

(Luruhnya Sebuah Harapan)

Di tanah rantau, di bumi yang belum hafal langkahku,
kami tiba... keluarga kecil dengan sejuta harap di punggung waktu.
Adik-adikku tertawa dalam pelukan debu,
aku terdiam, menatap langit yang tak kukenal warnanya.
Ibu dan Bapak menatapku, “Kau sulungku, pijakkan kakiku dengan kokoh di bumi ini.”
Netranya berkata dalam diam.

Ibu dan Bapak menggenggam cangkul 
suatu benda yang dulu asing bagi mereka.
Menanam mimpi di ladang sunyi.
Rutinitas asing menari di ujung pagi,
kami belajar menyebut nama-nama baru bumi ini.
Aku menulis di benak, “Inilah hidup, meski tak kukenal nadinya.”
Bapak tak pernah mengeluh, Ibu tak pernah bersuara.
Keduanya menyemai sabar dalam tanah yang keras,
menanam benih cengkeh, berharap menjadi pelipur luluh 
agar kelak kami, anak-anaknya, tumbuh tanpa warisan lelah.

Lalu cengkeh tumbuh, menjulang seperti doa yang dikabulkan
daun-daunnya melambai seperti tangan masa depan.
Kami tersenyum, menggenggam pagi dengan penuh nyali
berkhayal tentang sekolah yang tak lagi harus dicicil janji
Namun hari tak selalu ramah dalam pelukannya
musim seakan tak peduli pada harap yang dijaga diam-diam

Pucuk cengkeh menguning, seperti luka yang perlahan menganga
daunnya kering, retak, luruh satu-satu seperti asa
Kami menatap batang yang dulu kami puja 
kini menjadi nisan bagi impian yang patah di tengah usia
Ibu memeluk adik lebih erat dari biasanya
dan Bapak hanya menatap langit dengan mata yang tak lagi berkata

Kami menahan air mata, seperti menahan hujan di langit panas 
tak ingin rapuh, tapi tak bisa juga jadi karang yang keras
Aku belajar menerima kenyataan bukan sebagai kutukan
melainkan musim yang datang untuk menguji keteguhan
Namun tetap saja, di dada kami ada luka yang tak sembuh 
ketika harapan tak tumbuh, dan pohon-pohon pun menyerah pelan-pelan, luruh.

Kini kami hidup dari serpihan mimpi yang tersisa
berjalan pelan, namun tak ingin mati sebelum makna terasa
Cengkeh boleh mati, tapi cinta dan harap tak pernah benar-benar kering
Di balik tanah yang tandus, masih ada benih yang ingin berkembang
Kami akan menanam lagi — entah apa, entah di mana,
sebab kami percaya: hujan akan kembali, membawa cahaya dari luka

 

Ditulis oleh:

Sri Kurniasih

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: