Kamandanu, Pendekar Tanpa Tahta
09 Jun 2025 | Oleh: Rastono Sumardi
Di langit Timur yang berselimut luka
Saat Singhasari retak di ambang senja
Lahir seorang dari bara pandai besi
Bukan raja, bukan bangsawan — hanya hati yang bersih
Kamandanu...
Namamu bukan disanjung karena takhta
Tapi karena langkahmu di atas luka
Karena pedangmu tak haus darah
Tapi tegas menjaga marwah
Dikhianati darah sedarah
Saudara sendiri menghunus belati gelap
Ditinggal cinta yang kau jaga dalam diam
Namun kau tidak runtuh...
Kau bangkit, bukan untuk membalas
Tapi untuk berdiri... bagi yang tak sanggup lagi berdiri
Tak kau rebut singgasana
Meski kau bisa
Tak kau rebut wanita
Meski hatimu luka
Karena bagi pendekar sejati
Kemenangan sejati bukan dalam kuasa
Tapi dalam menjaga jiwa dari gelap dunia
Kamandanu...
Engkau ksatria dalam bayang,
Yang datang saat rakyat tak punya pegangan
Yang bertarung tanpa sorak sorai
Yang pergi tanpa pamrih dan sanjungan ramai
Kau ajarkan:
Bahwa kekuatan bukan di genggaman tangan
Tapi di kendali jiwa dan keikhlasan
Bahwa keadilan tak harus menghunus
Kadang cukup berdiri teguh... saat yang lain tunduk
Damai adalah jalanmu
Kesetiaan adalah bajumu
Dan luka-luka adalah mahkota tak kasat mata
yang menghiasi kesunyianmu
Kini, sejarah menyebutmu legenda
Bukan karena takhta, bukan karena harta
Tapi karena kau berdiri,
saat semua memilih berlutut.
Kamandanu
pendekar tanpa mahkota
penjaga damai dari sunyi
bayangan yang abadi di lorong sejarah negeri
Simpang Raya, 07-06-2025