Suara Sartini dari Sudut Desa

05 Oct 2025 | Oleh: Rastono Sumardi

Suara Sartini dari Sudut Desa

Dengarkan!
Di sudut desa yang sepi,
hidup seorang ibu bernama Sartini.
Ia bukan pejabat, bukan orang besar,
hanya seorang janda yang ditinggal suaminya—
suami yang mati jatuh dari truk tua
saat mencari sesuap nasi!

Sejak hari itu,
Sartini memikul dunia seorang diri.
Ia bangun pagi,
berangkat ke kebun milik orang lain,
mencangkul tanah yang bukan miliknya,
menyiangi rumput,
mengikat batang jagung,
mengangkat karung singkong
lebih berat dari tubuhnya sendiri!

Tangannya kapalan,
punggungnya bengkok,
keringatnya tumpah tanpa hitungan.
Namun upahnya?
Hanya beberapa lembar lusuh
yang habis sebelum sampai di dapur!

Sementara itu…
Bansos yang dijanjikan?
Tak pernah sampai!
Selalu ditahan di meja pertanyaan:
"Sudah pilih siapa kemarin?"
Hei!
Sejak kapan perut rakyat kecil
harus ditimbang dengan suara politik?

Dan di gedung megah sana,
para wakil rakyat sibuk dengan proyek pokir!
Menggambar jalan,
mengecat gedung,
menghitung untung—
sementara di rumah-rumah reyot desa,
anak-anak tidur dengan perut lapar,
ibu-ibu menangis tanpa suara,
dan dapur hanya mengenal bunyi panci kosong!

Tapi dengarkan lagi—
Sartini tidak menyerah.
Ia pulang setiap sore dengan tubuh remuk,
namun matanya tetap memandang anaknya
penuh cinta, penuh doa.
"Anakku," katanya,
"belajarlah setinggi langit.
Jangan kau ulangi nasib bapakmu
yang pulang sebagai nama di nisan.
Jangan kau ulangi langkah ibumu
yang menunduk di tanah orang lain.
Kelak, jadilah cahaya,
agar hidupmu tak lagi ditimbang suara,
tak lagi ditukar dengan janji."

Dan kini aku bertanya pada kalian semua—
Wahai para pemimpin!
Apakah kalian tuli pada tangisan rakyat kecil?
Apakah kalian buta pada punggung yang membungkuk?
Bansos bukan hadiah,
tapi hak rakyat untuk hidup!
Proyek pokir bukan milik keluarga,
tapi amanah untuk menegakkan keadilan!

Ingatlah!
Kekuasaan hanya sebentar,
tapi doa dan kutukan rakyat
akan abadi sepanjang masa!
Jangan remehkan suara Sartini,
karena dari sudut desa yang kecil,
jeritnya bisa mengguncang negeri!

Luwuk, 5/10/2025

 

Ditulis oleh:

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: