Mata Air, Air Mata
05 Oct 2025 | Oleh: Herdiyanto Yusuf
Mata Air, Air Mata
Oleh : Herdiyanto Yusuf
Sinopsis:
Di Desa Hondo, air bersih yang dijanjikan pemerintah tak pernah datang. Proyek SPAM bernilai miliaran rupiah berhenti di pipa karatan, sementara sungai satu-satunya sumber hidup berubah jadi racun akibat tambang nikel di hulu.
Susi, seorang ibu buruh air, kehilangan suami dan putri bungsunya karena air tercemar itu. Duka dan amarahnya berubah menjadi keberanian: menantang kepala desa dan aparat di tengah hujan, membawa ember berisi air keruh sebagai bukti penderitaan warganya.
Mata Air, Air Mata menggambarkan wajah getir pedesaan: korupsi, ketimpangan, dan perlawanan kecil seorang ibu terhadap janji pembangunan yang menguap di udara.
==================
Susi merapikan pakaiannya. Rambutnya yang kusut diikat menggunakan karet gelang yang selalu melingkar di pergelangan tangannya. Teriakan Alika, putri bungsu yang kemarin baru genap empat tahun membangunkannya dari mimpi indahnya.
Mimpi menjadi single parent yang hidup berkecukupan, punya rumah layak, dan mampu membesarkan anak-anaknya dengan baik. Ia ingin Alika dan kakaknya, Gapin, bisa mengecap pendidikan setinggi langit. Tak seperti dirinya, hanya tamatan SD yang kini banting tulang kerja serabutan agar dapur tetap mengepul.
Ia melirik jam tua di dinding rumah reyotnya.
“Ibihh... baru jam tiga, belum juga subuh,” gumamnya sembari buru-buru ke dapur menuangkan air ke gelas, lalu memberikannya kepada Alika.
“Minumlah, Nak. Tak apa-apa ini. Nanti besok kita ke Puskesmas untuk periksa dan minta obat,” ucap Susi menenangkan. Tapi dalam hati ia gusar. Suhu badan Alika terus naik, wajahnya pucat pasi. Tadi malam sebelum tidur, anak itu beberapa kali muntah lalu tertidur karena kelelahan.
Semalaman Susi bolak-balik ke sungai, menimba air untuk warga yang membutuhkan jasanya. Ia benar-benar kehabisan energi. Tulangnya terasa remuk, otot-ototnya kaku. Dua ember bekas cat penuh air ditentengnya, diantar ke rumah-rumah yang memesan. Seember dua ribu lima ratus rupiah—sekali jalan dua ember, lima ribu. Kalau kuat lima kali bolak-balik sungai, ia bisa mengumpulkan dua puluh lima ribu rupiah. Cukup untuk mengepulkan dapur dan memberi uang jajan untuk Gapin, yang tahun ini masuk SMA.
Susi menghela nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya. Ingatannya melayang kepada almarhum suaminya, Limbo. Andai saja suaminya masih ada, Ia tak harus berjuang sekeras ini. Tapi takdir memang tak bisa ditebak. Setahun lalu, Limbo meninggal, hanya dua hari setelah sakit perut hebat melandanya. Sudah sempat dibawa ke Puskesmas, tapi nyawanya tak tertolong. "Suami ibu terkena infeksi akut di saluran pencernaan, kami masih mencari apa penyebabnya," Susi mengenang kembali ucapan dokter Puskesmas, sesaat setelah suaminya dinyatakan pergi untuk selamanya, meninggalkan dirinya dan dua anaknya. Bulir air mata tak terasa menetes di pipi perempuan yang belum genap berusia 40 tahun itu.
***
Pagi itu, matahari baru menyembul di balik bukit. Susi merapikan sajadahnya, subuh baru berlalu. Ia angkat Alika yang menggeliat lemah, membungkus tubuh kecil itu dengan kain sarung usang, dan berjalan tertatih ke sungai yang berjarak dua kilometer dari kampung. Udara pagi masih dingin menusuk, tapi keringat sudah bercucuran di punggungnya.
Jalan desa yang belum tersentuh aspal itu menyisikan debu setiap kali kakinya yang kurus kerontang dihentakkan ke tanah. Terlebih di musim kemarau seperti saat ini. Jika bukan karena sungai itu adalah satu-satunya sumber air di kampung, Susi mungkin tak harus bolak balik ke sana. Mana pula sungainya tak lagi jernih. Dulu ketika remaja, sungai itu bak cermin yang jatuh dari langit. Kini keruh pekat, lumpur cokelat mengalir lamban, bau amis menyengat. Itu setelah IUP Nikel beroperasi tak jauh dari hulu sungai itu. “Air ini... racun,” bisik Susi teringat kata-kata Limbo di malam terakhirnya.
Flashback itu selalu datang seperti ombak yang memecah pantai. Limbo terbaring di tikar reyot, wajahnya pucat seperti kain kafan, tangannya gemetar memegang perut yang membengkak.
“Si... airnya... tak usah diminum lagi,” desahnya dengan suara parau.
Susi ingat, malam itu ia baru saja menanak nasi dengan air sungai itu—air yang murah, satu-satunya pilihan.
“Tapi, mau ambil air di mana lagi, paia? Ini satu-satunya sumber air. Sabar saja, tahun ini Proyek SPAM dari PUPR sudah mengalir," Susi mencoba menyemangati Limbo, suaminya.
Limbo hanya tersenyum pahit. “Jangan terlalu percaya janji pemerintah, Si. Janji mereka seperti sungai ini, mengalir, tapi bikin mabuk.”
Malam itu Limbo muntah darah, merah pekat bercampur lumpur cokelat. Pagi harinya, ia pergi selamanya. Susi menangis di tepi sungai, air matanya jatuh ke air keruh itu, seolah mencoba membersihkannya. Tapi tak ada yang berubah.
Kini Alika menangis pelan di gendongan. “Sakit, Bu... perut...”
Susi berhenti sejenak, menatap permukaan sungai bergelombang. “Maafin ibu, Nak... Ibu yang salah. Ibu yang pilih air ini buat kita.”
Ia menimba air dengan ember, tangannya gemetar. Hari ini pesanan banyak—tiga rumah butuh air untuk mandi. Tapi Alika tak bisa ditinggal. Gapin sudah berangkat sekolah sejak subuh, dengan tas usang dan seragam bolong di siku.
“Bu, jangan lupa bawa uang jajan,” katanya tadi pagi penuh harap.
Susi hanya mengangguk. Dalam hati ia berjanji: dua puluh lima ribu hari ini cukup untuk obat Alika dan bekal Gapin.
Menjelang siang, Susi membawa Alika ke Puskesmas desa. Satu kilometer jauhnya, melewati jalan tanah berlubang penuh lumpur. Alika sudah lemas, kepalanya terkulai di bahu Susi.
Di ruang tunggu yang pengap, dokter tua menggelengkan kepala. “Diare akut lagi, Bu. Dari air sungai itu. Suhunya 39 derajat. Kalau nggak ditangani cepat, bisa dehidrasi parah. Sudah berapa jiwa tahun ini? Lima? Enam? Proyek SPAM kok belum kelar-kelar?”
Susi diam. Di sebelahnya, Mbak Ika—tetangga yang kehilangan bayi dua bulan lalu—menghela napas. “Proyek itu, Bu. Sudah tiga tahun dikerjakan, yang tersisa cuma pipa kosong karatan di ujung kampung. Kata kades sudah selesai, eh airnya tak ada pun menetes. Pejabat desa impor air minum dari kota, kita disuruh minum lumpur!”
Mbak Ika menyodorkan koran lusuh Radar Luok. Headline-nya pudar: Korupsi SPAM Desa Hondo, Rp 2 Miliar Menguap, Kadis PUPR dan Kades Diduga Terlibat. Kemarin potongan koran itu dibagikan oleh Suparlan, wartawan Radar Luok yang biasa wara-wiri ke desa ini dan desa sebelahnya Uwe.
Sebagai salah satu penggerak di desa, Mbak Ika memang akrab dengan beberapa wartawan. Dia bahkan sering menjadi narasumber untuk berbicara soal kasus dugaan korupsi di desanya, Desa Hondo. Termasuk soal dugaan korupsi proyek SPAM yang sudah mulai dikerjakan sejak tiga tahun lalu.
Menurut investigasi Suparlan, bau amis korupsi di proyek SPAM itu sangat terasa. Bayangkan sejak tahun lalu proyek sudah dinyatakan selesai 100 persen, tapi tak ada setetes air pun yang mengalir ke rumah warga. Pipa induk yang sudah karatan tergeletak begitu saja di ujung kampung, tepat di depan Gudang Kapuk milik Haji Ambi.
Investigasi wartawan Radar Luok menyebutkan bahwa material proyek dimark up habis-habisan. Pipa induk itu hanya produk China murahan di pasaran. Jelas kontraktornya mau untung besar.
Kades Hondo yang diwawancarai wartawan pun bak kura-kura dalam perahu, ia mengaku tak tahu menahu. Namun koran Radar Luok menemukan keterlibatan kades yang ikut main mata bersama kontraktornya. Mereka berhasil mendapatkan bukti transfer dari kontraktor kepada kepala desa. Tak bisa mengelak.
Soal keterlibatan Kadis PUPR Kabupaten Dongkalan, Desta Suparmanggola, warga desa sudah mahfum. Kontraktornya dikenal kawan dekat Desta. Bahkan dalam kampanye Pilkada tiga setengah tahun lalu, sang kontraktor ikut kampanye bersama Bupati di kampung ini. Di sanalah mereka menjanjikan air bersih untuk warga Hondo.
Susi hanya membaca sekilas. Huruf-huruf kabur di matanya yang makin basah. “Suami saya mati gara-gara ini. Anak saya...” suaranya pecah.
Dokter menyuntik Alika dengan infus darurat, obatnya gratis dari program pemerintah—tapi akar masalah tetap di sana: air sungai yang tercemar limbah tambang ilegal di hulu. Air yang telah merenggut Limbo, dan kini mengancam Alika.
“Malam ini rawat di rumah, Bu. Besok kalau panasnya nggak turun, bawa ke RS kota. Tapi... biayanya?” Dokter menggeleng. Tak ada jawaban.
***
Malam itu berita menyebar cepat. Warga desa berkumpul di balai desa, suara mereka bergemuruh.
“Air bersih atau mati!” teriak Mbak Ika memimpin puluhan ibu-ibu.
Susi ragu. Alika masih demam di rumah, dijaga Gapin. Tapi wajah Limbo muncul di benaknya. Amarahnya meledak. “Aku ikut,” gumamnya. Ia tinggalkan ember air di depan pintu dan berjalan ke balai desa di bawah langit mendung.
Di tangannya, ia membawa ember kecil berisi air sungai keruh—bukti nyata racun yang mereka minum tiap hari.
Rapat pejabat desa berlangsung tertutup, tapi warga memblokir pintu. Obor dinyalakan, cahaya oranye menari di kegelapan, menciptakan bayang-bayang mengerikan di dinding balai.
“Kapan airnya mengalir? Tiga tahun janji palsu! Nyawa warga bukan mainan!”
Susi berdiri di barisan depan, suaranya menggelegar.
“Suami saya mati gara-gara air ini! Anak saya sekarat! Kalian duduk manis di kursi empuk, minum air kemasan, sementara kami mandi lumpur? Ini darah warga, bukan duit kalian!”
Pak Gombe, kepala desa gemuk dengan dasi miring, keluar dengan wajah merah padam. “Sabar, Ibu-ibu. Proyek SPAM lagi diproses. Sabar...”
Tapi kata-katanya tenggelam oleh teriakan.
Sebuah batu melayang, kaca jendela pecah. Polisi desa datang dengan dua truk pick-up, tongkat rotan di tangan. “Bubar! Ini rapat resmi!” teriak mereka. Bentrokan pun pecah.
Mbak Ika kena pukul, darah menetes di bibirnya. Tapi ia bangkit lagi. “Jangan mundur!”
Susi maju, ember air di tangannya berayun. Seorang polisi menampar keras, ia jatuh di lumpur. Tapi tak menyerah. Ia angkat ember itu, menyiram wajah Pak Gombe dengan air sungai keruh.
“Rasakan ini! Air yang kalian janjikan! Ini yang bunuh suami saya!”
Pak Gombe mundur terhuyung. Polisi mendorong Susi ke tepi sungai di samping balai. Kakinya tergelincir, nyaris jatuh. Di benaknya terdengar suara Limbo, lirih: “Bertahan, Si... demi anak-anak.”
Hujan deras turun tiba-tiba, mencampur lumpur, darah, dan air mata warga. Petir menyambar, obor padam, jeritan menggema.
Susi bangkit, luka di lutut berdarah, tapi hatinya menyala. Ia berlari pulang dalam hujan deras. Pintu rumah reyot terbuka. Gapin berdiri di ambang, wajahnya pucat.
“Bu... Alika... dia...”
Kata-katanya tercekat. Susi berlari ke tikar. Alika terbaring diam, tubuh kecilnya dingin seperti batu. Bibirnya biru, bekas muntah kering di sudut mulut.
Gapin menangis tersedu. “Saya coba bangunkan, Bu... dia bilang panggil Papa... Tapi dia sudah tidak bergerak.”
Susi memeluk tubuh Alika, jeritannya pecah seperti kaca retak. “Tidak! Nak! Bangun! Ibu sudah pulang... Ibu sudah berjuang... jangan!” Air matanya membasahi wajah anak itu, bercampur lumpur dari tubuhnya sendiri.
Ia mencoba napas buatan, menekan dada kecil itu. Tapi jantung Alika sudah berhenti berdetak, direnggut air sungai yang sama yang membunuh Limbo. “Maafkan ibu, Nak..Ibu terlambat....”
Gapin memeluk ibunya dari belakang. Tangisan mereka bergema di malam hujan, seperti ratapan desa yang tak berujung.
Pagi berikutnya, desa berduka. Alika dikubur di pemakaman kecil di tepi sungai. Batu nisan darurat dari kayu bertuliskan:
“Alika, 4 thn – Nyawanya Direnggut Oleh Air Ini”
Warga datang membawa bunga liar, tapi mata mereka penuh amarah. Proyek SPAM masih janji kosong. Pak Gombe tak berani muncul. Hanya surat maaf datang dari kabupaten—janji investigasi, janji air truk sementara.
Susi tak membacanya. Ia duduk di makam Alika, meremas karet gelang di tangannya, menatap sungai yang masih mengalir keruh.
“Bu, kita pindah saja ke Kota Luok. Aku bisa kerja sambil sekolah,” bisik Gapin.
Susi menggeleng pelan. “Tidak Nak. Ibu tinggal. Ini bukan akhir. Insya Allah air mata kita ini tidak sia-sia. Ibu akan terus berjuang sampai ada tetes air yang mengalir untuk kita.”
Malam itu, Susi berdiri sendirian di tepi sungai, hujan rintik turun lagi. Ia menimba air terakhir dan menuangnya ke makam Alika.
“Susul Bapak ya, Nak. Tapi Ibu janji... Ibu bakal bikin sungai ini jernih. Bukan buat kita lagi, tapi buat yang lain.”
Di matanya, duka tak lagi membeku—ia membara, siap membakar janji palsu itu. Desa akan berubah, atau terbakar habis.
Mata air keruh itu kini bercampur dengan air mata seorang ibu yang tak lagi punya apa-apa lagi untuk hilang. (*)
Herdiyanto Yusuf
Penulis lepas dan pekerja serabutan di Luwuk-Banggai, Sulawesi Tengah
=========
Catatan:
Foto ilustrasi dihasilkan oleh AI sebagai pemanis visual. Isi cerpen ini murni fiksi, terinspirasi dari isu kekurangan air bersih di beberapa desa di Kabupaten Banggai. Tidak ada kaitan sama sekali dengan individu, entitas, atau peristiwa spesifik di wilayah tersebut.