Suara Hati Seorang Guru PAUD

08 Oct 2025 | Oleh: Ridayati

Suara Hati Seorang Guru PAUD

 

Suara Hati Seorang Guru PAUD

By : Ridayati

 

Pagi itu udara masih lembap, kabut tipis menggantung di atas halaman kecil PAUD Pelita Harapan. Dari ruang kelas mungil berdinding cat hijau muda, terdengar suara anak-anak bernyanyi riang, tapi di antara tawa itu, ada nada-nada lelah yang disembunyikan oleh satu sosok—Bu Lestari, sang guru PAUD yang setiap harinya berjuang dengan cinta dan kesabaran.

“Anak-anak, ayo kita tepuk semangat pagi!” serunya ceria.
“Tepuk semangat—pagi!” sahut anak-anak riuh, kecuali satu anak yang berlari ke belakang kelas sambil menendang kursi kecil.

Rafi, anak berusia lima tahun, penuh energi tak terbendung, namun sering mengubah kelas menjadi arena kecil kekacauan. Ia berteriak, memukul meja, bahkan mencoret dinding dengan krayon.
Di sisi lain, ada Dina, gadis mungil yang pemalu, nyaris tak pernah berbicara. Ia lebih suka menatap jendela daripada menulis atau bermain bersama teman-temannya.

Bu Lestari mendekati Rafi perlahan.
“Rafi sayang, ayo duduk dulu. Kita mau nyanyi, nanti Ibu kasih bintang kalau Rafi bisa ikut, ya.”
Rafi berhenti sejenak, lalu menatapnya dan berkata dengan nada tinggi,
“Ah, Ibu cerewet! Aku nggak mau duduk!”

Beberapa anak menatap kaget. Ada yang menutup mulutnya, ada yang tertawa kecil. Bu Lestari menarik napas panjang. Ia tahu, marah bukan solusi.
Ia berjongkok, menatap Rafi sejajar mata.
“Tidak apa-apa, Nak. Ibu tahu kamu anak baik, tapi yuk kita belajar ngomong yang sopan, ya. Kalau kamu marah, bilang baik-baik.”
Namun Rafi sudah berlari keluar kelas, menendang pintu kecil di belakang ruangan.

Malam itu, di meja kecil rumahnya, Bu Lestari menatap buku catatan pengamatan siswa. Di bawah nama “Rafi”, ia menulis pelan:

“Perilaku hiperaktif meningkat. Mulai mengucapkan kata-kata kasar. Membutuhkan perhatian khusus dan pendekatan dari orang tua.”

Ia tahu, besok pagi ia harus berbicara dengan ibunya Rafi

Keesokan harinya, saat jam pulang, Bu Lestari menahan Ibu Rafi di depan gerbang sekolah.
“Bu, boleh sebentar? Saya ingin bicara soal Rafi.”

Ibu Rafi tampak terburu-buru, dengan tas belanja di tangan.
“Iya Bu, kenapa lagi? Rafi nakal, ya?” katanya datar.

Bu Lestari menelan ludah, mencoba berbicara hati-hati.
“Bukan nakal, Bu. Rafi hanya butuh pendampingan lebih. Dia sangat aktif, tapi tadi di kelas sempat berkata kasar pada guru dan teman. Saya khawatir kalau tidak dibimbing, dia akan meniru kebiasaan itu terus.”

Ibu Rafi mengangkat alis, lalu tertawa kecil.
“Ah, Bu… namanya juga anak-anak. Biarin saja. Nanti juga sembuh sendiri. Di rumah dia memang begitu, tapi saya kan sibuk. Yang penting dia datang sekolah, udah bagus.”

Bu Lestari terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya seperti pisau tumpul yang pelan tapi menyakitkan.
“Saya paham, Bu. Tapi kalau boleh, mohon bantuannya untuk mengingatkan Rafi di rumah juga. Kami di sekolah akan terus berusaha, tapi anak-anak butuh konsistensi,” ucapnya pelan.

Namun ibu itu hanya tersenyum singkat, menatap jam di tangannya.
“Nanti-nanti aja ya, Bu. Saya buru-buru. Terima kasih.”
Lalu ia pergi, meninggalkan Bu Lestari berdiri di depan gerbang dengan perasaan campur aduk—antara kecewa, sedih, dan pasrah.

Hari-hari berikutnya, perjuangan itu berlanjut. Rafi makin sulit dikendalikan, sering mengucapkan kata kasar jika diminta diam atau berbagi mainan.
Sementara Dina, tetap diam di sudut kelas, menulis perlahan dengan huruf yang tak beraturan.

Namun suatu hari, keajaiban kecil terjadi. Saat anak-anak menggambar bunga, Rafi datang membawa setangkai bunga liar dari halaman belakang sekolah.
“Ibu… ini buat Ibu. Biar kelas wangi,” katanya polos.

Bu Lestari terharu. “Terima kasih, Rafi. Ibu senang sekali. Bunga ini cantik, seperti hatimu kalau kamu mau sabar.”
Rafi tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya, ia duduk diam lebih dari lima menit, menggambar bunga di kertasnya.

Melihat itu, Dina perlahan mendekat.
“Ibu… aku juga mau gambar bunga, boleh?”
“Tentu boleh, sayang. Yuk kita gambar bareng.”

Bu Lestari menatap keduanya—dua anak dengan dunia berbeda, namun sama-sama butuh pelukan dan pengertian.

Malamnya, di bawah cahaya lampu redup, Bu Lestari menulis di buku harian yang sudah lusuh di pinggirannya.

“Menjadi guru PAUD bukan sekadar mengajar membaca, menulis, dan berhitung. Ini tentang memahami bahasa hati anak-anak yang belum bisa mereka ucapkan. Tentang menerima mereka, meski orang dewasa di sekitarnya belum mau memahami. Tentang sabar, tentang kasih, tentang terus percaya bahwa setiap anak punya cahaya—meski kadang tertutup awan.”

Ia menutup buku itu perlahan, memejamkan mata.
Air mata menetes tanpa ia sadari, tapi kali ini bukan karena kecewa.
Melainkan karena rasa haru—karena meski sering diabaikan, ia tahu, cinta dan kesabaran kecil yang ia tanam setiap hari akan tumbuh suatu saat nanti.

Esok pagi, ia kembali berdiri di depan kelas, menyambut anak-anaknya dengan senyum.
“Selamat pagi, anak-anak hebat Ibu!”
“Pagi, Ibu Lestari!” sahut mereka serempak.

Dan di antara suara riuh itu, Rafi berteriak paling keras—tanpa kata kasar, tanpa amarah.
Hanya tawa tulus seorang anak yang mulai belajar untuk lebih baik.

Dari sinilah Ibu Lestari merenung,

“Guru PAUD adalah pelita kecil yang tak pernah padam, meski sering berdiri sendirian di tengah gelapnya pemahaman orang dewasa. Tapi dari tangannya, tumbuh generasi yang kelak membawa terang bagi dunia.”

Tamat

Toili, 7 0ktober 2025

Banggai Sulawesi Tengah

Ditulis oleh:

Ridayati

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: