Pelita di Desa Mea-Mea

08 Oct 2025 | Oleh: Rastono Sumardi

Pelita di Desa Mea-Mea

Pelita di Desa Mea-Mea

Cahaya Kecil yang Menerangi  Kehidupan

Oleh : Rastono Sumardi

 

Senja itu, Ramlah duduk termenung memandangi ijazah SMA-nya yang masih basah. Dari balik jendela rumah panggungnya, ia melihat anak-anak kecil berlarian di jalan tanah yang becek, tertawa tanpa alas kaki. Mereka ceria, tapi masa depan mereka suram. Desa Mea-Mea belum memiliki lembaga pendidikan anak usia dini.

"Aku harus memilih," bisiknya dalam hati.

Sejak ayahnya di-PHK dari perusahaan sawit, mimpi Ramlah untuk kuliah di kota terpaksa ia kubur dalam-dalam. Ibunya kini menanggung beban keluarga dengan berjualan lalampa di kantin sekolah dasar. Sementara itu, adik-adiknya masih butuh biaya sekolah.

 

Di sisi lain, sahabatnya sejak SD, Cony, baru saja mengunggah foto di media sosial—berdiri anggun di depan kampus ternama di kota. Anak seorang pengusaha sawit sukses di desanya itu menulis status singkat: “Langkah pertama menuju masa depan yang gemilang.”

Ramlah menatap foto itu lama. Ia tersenyum getir. “Mungkin jalan kami memang berbeda,” gumamnya.

Beberapa hari kemudian, ide gila muncul di benaknya. Ia ingin membuka PAUD sendiri di desanya. Bukan karena ambisi, tapi karena melihat anak-anak yang tumbuh tanpa bimbingan belajar dasar. Gedung tua bekas koperasi yang sudah bangkrut karena dikorupsi pengurusnya, yang kodisinya sudah tua jadi pilihannya. Dengan sapu dan niat yang kuat, ia membersihkan ruangan itu sendiri, menyingkirkan debu dan sarang laba-laba.

Awalnya warga hanya menonton dari kejauhan. Tapi lambat laun, rasa iba berubah menjadi semangat gotong royong. Ibu-ibu datang membawa ember dan kain pel, bapak-bapak memperbaiki dinding dan mengganti papan yang lapuk. Herman, anak ketua RT yang sejak lama diam-diam menyukai Ramlah, membantu mengecat dinding dengan cat bekas dari sekolah dasar.

Suatu sore, Herman bertanya pelan,
“Kau tidak kuliah, Ramlah?”
“Desa ini lebih butuh guru daripada aku butuh kuliah,” jawab Ramlah sambil tersenyum.

Dari situlah PAUD "Pelita" lahir, dengan sembilan anak pertama yang datang tanpa seragam, beberapa tanpa sepatu. Tapi bagi Ramlah, semangat mereka sudah cukup jadi cahaya.

“Tugas kita bukan memarahi, tapi menuntun,” katanya sambil mengelus kepala Ambo, bocah paling aktif di kelas. “Yang penting kalian mau belajar.”

Sementara itu, Cony semakin jarang menghubungi Ramlah. Setiap kali pulang ke desa, Cony datang dengan mobil putih ayahnya, menenteng tas mahal, dan berbicara tentang kehidupan kota yang gemerlap.

“Ramlah, kau masih di desa ini? Sayang sekali, hidup di sini tidak akan membuatmu maju,” ucap Cony suatu kali dengan nada setengah mengejek.
Ramlah hanya tersenyum, “Mungkin, tapi aku tidak sedang mencari kemewahan. Aku sedang mencari arti.”

Cony mendengus kecil. “Arti tidak akan memberimu uang. Dunia ini keras, Ram. Kalau mau sukses, kau harus keluar dari tempat ini.”

Kata-kata itu sempat menancap di hati Ramlah. Tapi keesokan harinya, ketika melihat Yunita—murid kecil yang dulu pendiam—berani maju bernyanyi di depan kelas, ia tahu jawabannya. “Sukses bukan hanya soal uang,” gumamnya pelan, “tapi tentang berapa banyak senyum yang bisa kita hidupkan.”

Tahun demi tahun berlalu. Hujan menembus atap bocor, papan tulis mulai lapuk, dan kadang anak-anak datang tanpa sarapan. Tapi semangat Ramlah tak pernah padam. Hingga suatu hari, kabar baik datang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Mutiara. Mereka memberikan bantuan gedung baru dan insentif bulanan untuknya.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Bu Guru, kita punya sekolah baru!” teriak Ambo yang kini sudah duduk di SD sambil berlari memeluknya.

Dari uang insentif itu, Ramlah memutuskan untuk mendaftar kuliah di Universitas Terbuka, jurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Ia juga mendapat bantuan melalui beasiswa Brani Ceras, program untuk guru desa berdedikasi.

Siang ia mengajar, malam ia belajar dengan lampu minyak yang redup karena listrik desa sedang rusak. Kadang sinyal hilang ketika hendak mengirim tugas. Ia rela berjalan ke bukit demi mendapatkan jaringan internet. Beberapa kali Cony menertawakannya di media sosial.
“Belajar dari kampung? Dunia sudah pakai robot, kau masih memakai lilin dan kejar-kejaran dengan signal internet!” tulis Cony di kolom komentar.
Ramlah tidak marah. Ia hanya menulis singkat: “Setiap cahaya, sekecil apa pun, tetap mampu menerangi kegelapan.”

Tujuh tahun berlalu. PAUD Pelita kini menjadi contoh bagi desa-desa sekitar. Ramlah tak hanya mengajar anak-anak, tapi juga ibu-ibu muda agar bisa mendidik anak mereka dengan baik.

Lalu suatu pagi, surat dari Universitas Terbuka datang. Ramlah membuka amplop itu dengan tangan gemetar.
“Selamat! Anda dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.”

Ia terisak haru. Di luar, anak-anak sudah menunggunya di halaman sekolah, membawa bunga kertas warna-warni.
“Bu Guru sudah jadi sarjana!” seru mereka.

Upacara wisuda digelar sederhana di gedung Graha Pemda di  Ibu Kota Kabupaten. Ramlah mengenakan kebaya biru muda tampak cantik sekali, ditemani ibunya yang duduk di barisan depan. Herman datang membawa setangkai bunga melati.

Di hari yang sama, Cony membuat status di media sosial:
“Gurunya lulusan UT, muridnya mau jadi apa?”

Status itu menyebar cepat, mengiris  hati Ramlah. Namun alih-alih marah, ia hanya menarik napas panjang dan menulis balasan di dinding medsosnya:
"Menjadi guru bukan soal di mana kita kuliah, tapi seberapa besar hati dan kemauan kita untuk terus belajar dan mengajarkan. Itu modal utama seorang pendidik sejati."

Sejak hari itu, pelita di Mea-Mea semakin terang. PAUD Pelita bukan hanya sekolah, tapi rumah bagi harapan. Dan di sana, Ramlah—sarjana dari desa kecil—terus mengajar dengan cinta, membuktikan bahwa cahaya sejati tak selalu datang dari gemerlap kota, tapi dari hati yang tak pernah berhenti menyala.

Luwuk, 7 Oktober 2025

Ditulis oleh:

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: