Cinta pada Pandangan Pertama yang Dicuri
Puisi Oleh Fatima Lakokoro
Sore itu, aku berjalan perlahan
menyusuri trotoar di depan kampus,
tempat kelak takdir mempertemukanku
dengan seorang lelaki sederhana
yang kini kupanggil suami.
Tak pernah kusangka,
langkah biasa di senja yang biasa
ternyata menjadi awal dari kisah luar biasa.
Sepasang mata yang tak sengaja bertemu,
diam-diam mencuri pandangan,
lalu tanpa banyak kata,
menautkan dua hati yang sebelumnya asing.
Siapa sangka,
pandangan yang tercuri di sore itu
menjadi awal perjuangan panjang
untuk saling menemukan,
saling mengenal,
dan saling menguatkan.
Di tengah kehidupan yang belum sepenuhnya siap,
kami memilih menjalin kisah ini.
Meski restu belum sepenuhnya berpihak,
meski keraguan datang dari berbagai arah,
kami tetap menggenggam keyakinan,
bahwa cinta yang baik akan menemukan jalannya.
Hari-hari kami lalui dengan doa,
air mata, harapan, dan kesabaran.
Sebab mencintai bukan hanya tentang bahagia,
tetapi juga tentang bertahan
saat dunia belum sepenuhnya menerima.
Hingga di ujung perjuangan itu,
kami mengikat janji suci dalam pernikahan,
bukan karena harta atau kemewahan,
melainkan karena cinta, keyakinan,
dan tekad untuk berjalan bersama.
Perjalanan panjang pun dimulai.
Kami belajar menjadi pasangan,
belajar menjadi orang tua,
dan belajar bahwa rumah tangga
adalah tentang tumbuh bersama.
Kini, setelah sekian waktu berlalu,
kami sampai pada sebuah titik
di mana keluarga akhirnya memahami,
bahwa keputusan kami untuk menikah kala itu
adalah keputusan terbaik yang pernah kami pilih.
Dan setiap kali mengenang senja itu,
aku selalu bersyukur,
karena di antara ribuan langkah yang kutempuh,
aku pernah berjalan di trotoar yang tepat,
lalu menemukan cinta seumur hidupku.