Wangi Surga di Balik Kuali Panas

27 Feb 2026 | Oleh: Rastono Sumardi

Wangi Surga di Balik Kuali Panas

(Menjaga Hati di Tengah Badai)

Pernahkah kau merasa
memeluk kebenaran
seperti menggenggam bara menyala—
perihnya menjalar hingga ke jiwa?

Dunia berbisik lirih,
“Lepaskan saja sedikit imanmu,
akan kuberi engkau aman dan kuasa.”
Namun hati yang terjaga tahu,
tidak semua yang gemerlap
adalah cahaya.

Di istana angkuh Firaun
yang menjulang dengan kesombongan,
hiduplah seorang perempuan sederhana—
Masyitah namanya.

Bukan ratu.
Bukan bangsawan.
Hanya perias rambut,
yang jemarinya menyisir mahkota dunia,
namun hatinya bersujud
pada Pemilik langit dan bumi.

Ia menyembunyikan iman
di balik senyum dan kesetiaan kerja,
seperti embun yang setia
meski mentari membakar.

Hingga suatu hari,
sebuah sisir terjatuh.
Dan dari bibirnya terlepas
sebutir kalimat yang mengguncang takdir:

Bismillah.

Satu kata.
Namun cukup untuk membelah
antara istana dan surga.

“Pilih aku,” kata kuasa dunia.
“Pilih Dia,” bisik nurani.

Di hadapannya terbentang dua jalan:
kemewahan atau kematian,
istana atau keabadian.

Ia memilih Tuhan.

Maka kuali pun dipanaskan,
api menjilat langit,
dan satu per satu buah hatinya
dilemparkan ke dalam didih ujian.

Betapa hancur dada seorang ibu,
melihat darah dagingnya
menjadi saksi keteguhan.

Saat bayi terakhir
hampir terlepas dari pelukannya,
hatinya sempat bergetar—
sekejap saja.

Namun Allah Maha Lembut.
Dari bibir mungil sang bayi
mengalir penguat yang tak terduga:

“Wahai Ibu, jangan ragu.
Engkau di jalan yang benar.”

Langit pun menunduk haru.
Bumi menyimpan kisah itu
dalam doa-doa sunyi.

Ia memang gugur di dunia,
namun tidak di sisi Tuhan.

Berabad kemudian,
dalam perjalanan agung Isra Mi'raj,
Muhammad
mencium harum yang tak biasa—
bukan kasturi,
bukan pula mawar surga,
melainkan wangi pengorbanan
yang lahir dari iman yang tak tergoyahkan.

Itulah aroma
dari jiwa yang terbakar api dunia
namun tak hangus keyakinannya.

Wahai jiwa yang lelah,
yang hari ini merasa terjepit
oleh pilihan-pilihan pahit—

ingatlah,
keteguhan adalah investasi keabadian.
Kejujuran yang kau pertahankan
meski sendirian,
akan menjadi harum
yang tak lekang oleh zaman.

Jangan takut kehilangan dunia
demi menjaga cahaya iman.
Sebab yang kau lepaskan di bumi
akan diganti
dengan sesuatu yang lebih kekal.

Kemuliaan bukan pada
seberapa lama kita bernapas,
tetapi pada
seberapa teguh kita berdiri
saat badai memaksa bersujud
pada selain-Nya.

Dan di balik kuali panas ujian,
selalu ada
wangi surga
yang menanti.

Ditulis oleh:

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: