Rastono Sumardi: Jejak Pengabdian, Literasi, dan Inovasi Daerah

11 Mar 2026 | Oleh: Arif Nasri

Rastono Sumardi: Jejak Pengabdian, Literasi, dan Inovasi Daerah

Dalam perjalanan pembangunan daerah, sering kali muncul figur-figur yang bekerja tidak hanya dalam ruang birokrasi, tetapi juga dalam ruang gagasan dan kebudayaan. Salah satu sosok tersebut adalah Rastono Sumardi, seorang aparatur sipil negara yang menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu berhenti pada tugas administratif, tetapi dapat meluas hingga ke ranah literasi, teknologi, dan kreativitas budaya. Rastono Sumardi menjadi contoh bagaimana seorang birokrat dapat tetap hadir sebagai intelektual publik.

Latar belakang pendidikannya di bidang pendidikan matematika dan ekonomi pembangunan membentuk cara pandangnya yang sistematis sekaligus visioner. Ia memahami bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur fisik, tetapi juga tentang pembangunan sumber daya manusia, literasi masyarakat, dan pemanfaatan teknologi informasi.

Pengalaman awalnya sebagai seorang guru memperlihatkan akar pengabdiannya pada dunia pendidikan. Dari ruang kelas, ia kemudian melangkah ke ruang birokrasi, namun semangat mendidik itu tampaknya tidak pernah benar-benar hilang. Dalam berbagai kiprahnya, ia tetap menunjukkan perhatian terhadap peningkatan kualitas pengetahuan masyarakat, terutama melalui gerakan literasi dan berbagai kegiatan intelektual di daerah.

Dalam konteks pemerintahan daerah, kontribusinya dalam pengembangan sistem teknologi informasi menjadi salah satu aspek penting. Digitalisasi layanan publik bukan sekadar tren, tetapi juga kebutuhan dalam tata kelola pemerintahan modern. Upaya menghadirkan berbagai aplikasi pemerintahan menunjukkan bahwa birokrasi daerah dapat bergerak menuju sistem yang lebih transparan, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Namun, yang membuat perjalanan Rastono Sumardi menarik bukan hanya soal jabatan atau inovasi teknologinya. Ia juga dikenal aktif menulis dan berkarya dalam dunia sastra. Bagi sebagian orang, dunia birokrasi dan dunia sastra mungkin terlihat sangat berbeda. Tetapi dalam dirinya, keduanya justru saling melengkapi. Sastra menjadi ruang refleksi, tempat gagasan sosial dan kemanusiaan dapat diungkapkan secara lebih bebas dan kreatif.

Keterlibatannya dalam berbagai organisasi literasi dan kebudayaan juga memperlihatkan komitmennya dalam menjaga ekosistem intelektual di daerah. Di tengah arus informasi yang semakin cepat, keberadaan tokoh yang mendorong budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis menjadi sangat penting. Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami realitas serta merumuskan gagasan bagi masa depan.

Melihat lintasan pengabdiannya, Rastono Sumardi merepresentasikan tipe pemimpin intelektual lokal yang semakin dibutuhkan oleh daerah-daerah di Indonesia. Sosok yang mampu menjembatani birokrasi dengan gagasan, teknologi dengan budaya, serta kebijakan publik dengan kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, perjalanan seperti ini memberi pesan penting bahwa pengabdian tidak selalu harus dilakukan dalam satu ruang saja. Ketika birokrasi, literasi, dan kreativitas berjalan beriringan, maka pembangunan daerah tidak hanya menghasilkan kemajuan administratif, tetapi juga kemajuan peradaban.

Ditulis oleh:

Arif Nasri

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: