Jalan Penuh Warna Si Anak Desa

12 Mar 2026 | Oleh: Arif Nasri

Jalan Penuh Warna Si  Anak Desa

Di dalam setiap perjalanan hidup manusia, selalu ada cerita tentang mimpi, perjuangan, dan pengabdian. Ada yang berjalan cepat, ada pula yang menempuh jalan panjang penuh tikungan. Kisah Rastono Sumardi adalah kisah tentang seorang anak desa yang menapaki hidup dengan tekad kuat, memadukan ilmu, karya, dan pengabdian untuk masyarakat.

Ia lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pada 10 Maret 1974, dari pasangan Moh. Sumardi dan Rasinah. Kehidupan keluarganya sederhana, namun sarat dengan nilai-nilai yang kelak membentuk karakter kuat dalam dirinya: kejujuran, kerja keras, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib.

Seiring waktu, perjalanan hidup membawanya merantau jauh dari tanah kelahiran. Ia tumbuh dan besar di wilayah Desa Beringin Jaya, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah—sebuah daerah yang kelak menjadi tempat ia mengabdikan hampir seluruh energi, pikiran, dan karya hidupnya.

Kini ia sebagai warga  Desa Sumber Mulya, Kecamatan Simpang Raya, Kabupaten Banggai, bersama istrinya Widuri Kusparyati HK, S.Ag, dan ketiga anak mereka: Aprian Miqdam Farras, Zulfa Kamal, dan Akhlish Lubab. Dalam kehidupan keluarga yang hangat itulah ia menemukan keseimbangan antara pekerjaan, karya, dan tanggung jawab sebagai ayah.

Dari Sekolah Desa ke Dunia Akademik

Perjalanan pendidikan Rastono dimulai dari sekolah-sekolah sederhana. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Beringin Jaya, lulus pada tahun 1989. Setelah itu ia melanjutkan ke SMP Negeri 1 Bunta dan kemudian SMA Negeri 1 Bunta, hingga tamat pada tahun 1994.

Di masa-masa itu, ia dikenal sebagai siswa yang tekun dan memiliki ketertarikan kuat pada ilmu pengetahuan, khususnya matematika. Bagi Rastono muda, matematika bukan sekadar angka dan rumus. Ia melihatnya sebagai cara berpikir yang sistematis—cara memahami dunia dengan logika yang jernih.

Ketertarikan tersebut membawanya melanjutkan pendidikan ke STKIP Negeri Gorontalo, yang kini menjadi Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Ia memilih Jurusan Pendidikan Matematika dan menyelesaikan studinya pada tahun 1999.

Masa kuliah bukan hanya tentang belajar di ruang kelas. Ia aktif dalam organisasi mahasiswa dan dipercaya menjadi Sekretaris Senat Mahasiswa STKIP Gorontalo pada tahun 1998. Kepemimpinannya semakin terlihat ketika ia dipercaya menjadi Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Banggai di Gorontalo (IPMIKB) tahun 1995 – 1998 dan Ketua HMI Cabang Gorontalo pada tahun 1999–2000.

Pengalaman organisasi ini membentuk karakter intelektual dan kepemimpinannya. Ia belajar bahwa gagasan tidak cukup hanya dipikirkan; gagasan harus diperjuangkan.

Keinginan untuk memperluas wawasan kemudian membawanya melanjutkan pendidikan ke Universitas Sam Ratulangi Manado, mengambil Magister Ilmu Ekonomi Pembangunan, yang ia selesaikan pada tahun 2012.

Perpaduan antara ilmu pendidikan dan ekonomi pembangunan kelak menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya.

Menjadi Guru: Mengabdi di Dunia Pendidikan

Karier Rastono dimulai dari dunia pendidikan. Setelah lulus kuliah, ia menjadi guru SMA Prasetya Gorontalo, 1998-1999 dan di SMK Gotong Royong Gorontalo pada tahun 1999–2000.

Bagi Rastono, menjadi guru bukan sekadar profesi. Ia melihatnya sebagai panggilan untuk mencerdaskan generasi muda. Ia percaya bahwa perubahan bangsa dimulai dari ruang kelas.

Perjalanannya sebagai pendidik berlanjut ketika ia mengajar di SMA Negeri 3 Kotamobagu dari 2001 hingga 2007. Selama enam tahun mengajar, ia dikenal sebagai guru yang dekat dengan siswa dan selalu mendorong mereka untuk berpikir kritis.

Namun pengabdiannya tidak berhenti di sana. Pada tahun 2020, ia mendirikan SMP Maarif Saintren Kotamobagu, sebuah sekolah gratis yang memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Baginya, pendidikan harus dapat diakses oleh siapa saja, bukan hanya oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi.

Mengabdi di Birokrasi

Perjalanan hidup kemudian membawanya memasuki dunia birokrasi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Dimulai sebagai Guru SMA, selanjutnya di Ia dipercaya menjabat beberapa jabatan di Dinas Pendidikan Kota Kotamobagu hingga sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Kotamobagu pada tahun 2020–2022. Dalam posisi ini, ia terlibat dalam berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan dan pengelolaan sistem pendidikan daerah.

Pada tahun 2023, ia pindah ke Kabupaten Banggai dan dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian.

Di lembaga inilah ia memainkan peran penting dalam transformasi digital pemerintahan daerah.

 

Inovator Teknologi Pemerintahan

Bagi Rastono, birokrasi tidak boleh berjalan lambat. Pemerintahan harus mampu mengikuti perkembangan teknologi agar pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih cepat dan transparan.

Ia kemudian terlibat dalam pengembangan berbagai aplikasi sistem informasi pemerintahan, di antaranya:

  • Rudal Dikbud
  • Siade
  • Simfoni Anggan
  • Sicakap
  • Simonevpro
  • Harmoni Inflasi
  • SP2B Online
  • Sayapedesa
  • Berkah Ananda
  • Siberdana

Aplikasi-aplikasi tersebut membantu berbagai instansi di Kabupaten Banggai dalam pengelolaan data, perencanaan pembangunan, hingga pelayanan publik.

Ia juga menjadi pendamping digitalisasi desa di 17 desa Kecamatan Toili Barat pada tahun 2024–2025. Program ini bertujuan memperkuat tata kelola desa berbasis teknologi informasi.

Penulis yang Tak Pernah Diam

Di balik kesibukan sebagai pejabat birokrasi, Rastono tetap setia pada dunia literasi.

Ia aktif menulis berupa Puisi, Cerpen dan Artikel di berbagai media, seperti:

  • hatipena.com
  • suarautara.com
  • nusantara26.com
  • banggaikreatif.com

Tulisan-tulisannya membahas berbagai tema: pendidikan, kebudayaan, teknologi, hingga persoalan sosial masyarakat.

Ia juga menulis sejumlah buku, antara lain:

  • Melukis Pelangi di atas Baru (cerpen, 2022)
  • Sulawesi: Jejak, Luka dan Cahaya (2025)
  • Melukis Pelangi di Bumi Banggai (antologi puisi, 2025)
  • Pemenang Sejati, Harmoni Akal, Jiwa, dan Iman ( MA Publising), 2025
  • Kumpulan Cerita Inspirasi Anak dan Keluarga, ” Langkah Kecil Anak-Anak Hebat” bersama Rissa Churria, MA Publishing, 2025

Selain itu, karyanya juga hadir dalam berbagai antologi nasional seperti Suara dari Lembah Kata-KataMengeja Susuhing Angin, dan Jendela Literasi Cinta.

Aktivis Organisasi dan Kebudayaan

Rastono juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan keagamaan.

Ia pernah menjadi:

  • Sekretaris GP Ansor Bolaang Mongondow
  • Ketua Ikatan Sarjana NU Kotamobagu
  • Bendahara NU Kotamobagu

Di Banggai, ia dipercaya memimpin beberapa organisasi penting, antara lain:

  • Ketua Persatuan Guru NU Banggai
  • Ketua Satupena Sulawesi Tengah
  • Ketua Kreator Era AI Sulawesi Tengah
  • Ketua Bonua Sastra Banggai

Melalui organisasi-organisasi ini, ia terus mendorong gerakan literasi, kebudayaan, dan kreativitas di masyarakat.

Musik: Bahasa Jiwa yang Lain

Selain menulis, Rastono juga menciptakan lagu.

Beberapa karyanya diproduksi oleh Nada Record, antara lain:

  • Berhijab Bukan Kampungan
  • Negeri Sepenggal Surga
  • Kasih Sayang Allah
  • Ayah Sang Pahlawan
  • Datanglah di Kotamobagu

Karya-karya terbaru tentang Banggai antara lain:

  • Sekali Lagi untuk Banggai
  • Banggai Mempesona
  • Pesona Banggai
  • Cinta Lengket di Luwuk Banggai
  • Piala Hanga-Hanga
  • Senandung Kilo 5

Melalui musik, ia mengekspresikan kecintaannya pada daerah dan kehidupan masyarakat.

Epilog

Jejak yang Terus Bertumbuh

Perjalanan hidup Rastono Sumardi menunjukkan bahwa satu orang dapat memberi kontribusi dalam banyak bidang sekaligus.

Ia adalah guru, birokrat, inovator teknologi, penulis, organisator, dan seniman.

Namun lebih dari itu, ia adalah seorang pekerja sunyi dalam pembangunan masyarakat—seseorang yang percaya bahwa perubahan tidak selalu lahir dari panggung besar, tetapi sering kali dari kerja keras yang dilakukan setiap hari.

Di tengah perubahan zaman yang cepat, kisah Rastono Sumardi menjadi pengingat bahwa karya, ilmu, dan pengabdian adalah tiga hal yang dapat berjalan bersama.

Dan selama semangat berkarya itu tetap menyala, perjalanan hidupnya akan terus menuliskan bab-bab baru dalam sejarah kecil pembangunan daerah.

Ditulis oleh:

Arif Nasri

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: