Jejang Kebudayaan, Geopolitik, dan Metalurgi Kerajaan Majapahit di Tanah Sulawesi: Analisis Komprehensif Mandala Nusantara

14 Mar 2026 | Oleh: Rastono Sumardi

Jejang Kebudayaan, Geopolitik, dan Metalurgi Kerajaan Majapahit di Tanah Sulawesi: Analisis Komprehensif Mandala Nusantara

Eksistensi Kerajaan Majapahit sebagai entitas talasokrasi terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-14 tidak hanya meninggalkan jejak monumental di dataran aluvial Jawa Timur, tetapi juga memancarkan pengaruh geopolitik dan kultural yang mendalam hingga ke Jazirah Sulawesi. Melalui kacamata historiografi kontemporer dan bukti arkeologis yang terus berkembang, relasi antara pusat kekuasaan di Trowulan dengan wilayah-wilayah di Sulawesi dapat dipahami bukan sekadar sebagai hubungan penaklukan militer, melainkan sebagai sebuah jaringan interaksi yang kompleks, mencakup diplomasi pernikahan, pertukaran teknologi metalurgi, serta kodifikasi hukum yang melintasi zaman. Sulawesi, dengan kekayaan sumber daya logamnya dan posisi strategisnya dalam jalur rempah, menempati posisi krusial dalam konsepsi Mandala Nusantara yang dicanangkan oleh Mahapatih Gajah Mada melalui Sumpah Palapa.1

Historiografi dan Sumber Tertulis: Nagarakretagama sebagai Jangkar Narasi

Dokumen paling fundamental dalam merekonstruksi jejang Majapahit di Sulawesi adalah Kakawin Nagarakretagama (atau Desawarnana) yang digubah oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.3 Teks ini bukan sekadar puja sastra untuk mengagungkan Raja Hayam Wuruk, melainkan sebuah catatan administratif dan geografis yang sangat rinci mengenai luas wilayah pengaruh kerajaan. Dalam Pupuh 14 dan 15, Prapanca secara eksplisit mengidentifikasi sejumlah wilayah di Sulawesi yang masuk ke dalam lingkaran kedaulatan Majapahit.5

Identifikasi geografis dalam Nagarakretagama menunjukkan bahwa intelijen maritim Majapahit pada masa itu telah memiliki pemahaman yang sangat akurat mengenai topografi Sulawesi. Wilayah-wilayah yang disebutkan mencakup pusat-pusat perdagangan dan kekuatan lokal yang strategis.

Identifikasi Wilayah Sulawesi dalam Kakawin Nagarakretagama

Penamaan Kuno (Pupuh 14)

Identifikasi Geografis Modern

Kategori Strategis

Makassar

Makassar / Gowa-Tallo

Pelabuhan Utama dan Pusat Logistik

Butun

Pulau Buton

Simpul Maritim Jalur Rempah

Banggawi

Kepulauan Banggai

Jalur Timur dan Sumber Daya Hutan

Salaya

Pulau Selayar

Pos Pantau Navigasi Selatan

Kunir

Pulau Kunyit / Sekitar Selayar

Pangkalan Aju Maritim

Galiyau

Kangean / Selayar Utara

Wilayah Transit

Luwuk

Luwu / Luwuk Banggai

Pusat Metalurgi dan Logam

Bantayan

Bantaeng

Sentra Pertanian dan Logistik

Udama

Kepulauan Talaud / Utara Sulawesi

Batas Geopolitik Utara

Penyebutan nama-nama ini memberikan legitimasi historis bahwa relasi antara Majapahit dan Sulawesi telah terjalin secara formal pada pertengahan abad ke-14.6 Hubungan ini dikelola melalui sistem upeti berkala yang disebut patti satata, di mana utusan pusat, termasuk para pujangga dan menteri, secara rutin mengunjungi wilayah-wilayah tersebut untuk memastikan loyalitas dan kelancaran arus komoditas.5 Hal ini mengindikasikan bahwa Majapahit memiliki sistem birokrasi maritim yang mampu menjangkau wilayah ribuan mil dari pusat pemerintahan di Trowulan.8

Konsepsi Geopolitik Mandala: Struktur Kekuasaan di Sulawesi

Analisis terhadap struktur pemerintahan Majapahit mengungkapkan bahwa Sulawesi tidak diperlakukan sebagai wilayah jajahan dalam pengertian kolonial modern, melainkan sebagai bagian dari sistem Mandala yang berlapis. Para sejarawan membagi pengaruh Majapahit ke dalam empat lingkaran utama.2

Lingkaran pertama adalah Negara Agung, yang mencakup ibu kota Trowulan dan wilayah sekitarnya di Jawa Timur yang dipimpin langsung oleh keluarga raja (Bhre).2 Lingkaran kedua adalah Mancanegara, wilayah di Pulau Jawa dan Bali yang telah sangat terpengaruh oleh kebudayaan Jawa Kuno.10 Sulawesi, bersama dengan Kalimantan, Maluku, dan Semenanjung Malaya, masuk ke dalam lingkaran ketiga yang disebut Nusantara.2

Dalam kategori Nusantara, kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi menikmati otonomi internal yang luas. Majapahit tidak menempatkan birokrat atau detasemen militer secara permanen di setiap wilayah, melainkan memberikan kebebasan bagi penguasa lokal untuk menjalankan pemerintahan mereka sendiri, selama mereka tetap mengakui kedaulatan Hayam Wuruk dan membayar upeti tahunan.10 Namun, Majapahit akan memberikan reaksi militer yang sangat keras jika terdapat ancaman yang mengganggu stabilitas regional atau keamanan jalur perdagangan.10

Lingkaran keempat adalah Mitreka Satata, yang berarti "mitra dengan tatanan yang sama". Kategori ini mencakup negara-negara berdaulat di luar Nusantara seperti Siam (Ayutthaya), Champa, dan Kamboja yang dianggap sebagai sekutu diplomatik yang setara.10 Beberapa perdebatan akademik muncul mengenai apakah kerajaan besar seperti Luwu atau Buton pada suatu titik juga dianggap sebagai Mitreka Satata karena kekuatan maritim dan ekonomi mereka yang signifikan.12

Kedatuan Luwu: Jantung Metalurgi dan Politik Ranjang

Relasi antara Majapahit dan Kedatuan Luwu di Sulawesi Selatan merupakan salah satu aspek yang paling kaya akan bukti lintas disiplin, mulai dari teks sastra hingga analisis kimia logam. Luwu, yang diyakini sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan berdasarkan naskah Sureq Galigo, memiliki hubungan yang sangat intim dengan Majapahit melalui mekanisme yang sering disebut sebagai "Politik Ranjang".14

Diplomasi Pernikahan dan Hadiah Teritorial

Dalam naskah Attoriolong ri Luwu, tercatat peristiwa pernikahan strategis antara Anakaji, putra dari Raja Luwu Simpurusiang, dengan seorang putri dari Majapahit yang bernama Putri Tappacina.5 Pernikahan ini bukan sekadar ikatan kekeluargaan, melainkan sebuah transaksi diplomatik tingkat tinggi yang melibatkan penyerahan wilayah. Wilayah Cenrana, yang awalnya diklaim sebagai wilayah kekuasaan Majapahit di Sulawesi, diserahkan kepada Luwu sebagai hadiah pernikahan (pajongko) untuk Putri Tappacina.5

Penyerahan Cenrana ini memiliki implikasi jangka panjang dalam sejarah geopolitik Sulawesi Selatan. Berabad-abad kemudian, pada masa pemerintahan Dewaraja (1507–1541), wilayah Cenrana menjadi pemicu perang besar antara Kerajaan Bone dan Luwu.5 Fakta bahwa klaim atas Cenrana didasarkan pada warisan Majapahit menunjukkan betapa dalamnya pengaruh administratif kerajaan tersebut tertanam dalam memori kolektif dan struktur hukum kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.5

Besi Luwu: Rahasia Kekuatan Militer Majapahit

Di balik hubungan diplomatik tersebut, terdapat kepentingan material yang sangat vital bagi kelangsungan militer Majapahit. Wilayah Luwu, khususnya di sekitar Danau Matano, dikenal sebagai sumber besi berkualitas tinggi yang memiliki kandungan nikel alami sangat tinggi.17 Besi ini dalam tradisi lokal disebut bessi to ussu atau Besi Luwu.17

Para peneliti menyepakati bahwa keunggulan keris Majapahit—yang dikenal sangat kuat, tahan karat, dan memiliki pamor yang indah—sangat bergantung pada pasokan besi dari Luwu.17 Majapahit mengirimkan utusan khusus menuju Luwu hanya untuk mencari bahan baku ini, yang kemudian dibawa kembali ke Jawa untuk diolah oleh para mpu di pusat kerajaan.17

Karakteristik Besi Luwu (Matano)

Keunggulan Teknologi Majapahit

Dampak pada Persenjataan

Kadar Nikel Tinggi

Menciptakan pola pamor yang kontras dan artistik

Identitas sosial dan spiritual keris

Ketahanan Oksidasi

Tahan terhadap karat meskipun dalam iklim lembap

Durabilitas senjata di medan tempur

Kekuatan Struktur

Tidak mudah patah atau bengkok saat beradu logam

Keunggulan taktis infanteri Majapahit

Ketersediaan Melimpah

Sentra pengolahan di Pulau Ampat, Danau Matano

Stabilitas rantai pasok militer pusat

Temuan arkeologis di daratan dan dasar Danau Matano berupa sisa tungku peleburan, pecahan tembikar, dan terak besi (sisa peleburan) memberikan bukti fisik yang tak terbantahkan mengenai aktivitas industri logam besar-besaran yang sezaman dengan masa keemasan Majapahit.17 Hal ini menunjukkan bahwa Sulawesi adalah "pabrik bahan baku" bagi kompleks industri militer Majapahit.

Kesultanan Buton: Dari Mandala Hindu ke Konstitusi Islam

Pulau Buton (Butuni) menyajikan contoh unik tentang bagaimana pengaruh Majapahit bertransformasi dan menyatu ke dalam struktur pemerintahan Islam yang sangat teratur. Tradisi lisan dan naskah kuno di Buton secara konsisten merujuk pada Majapahit sebagai leluhur peradaban mereka.5

Legenda Sibatara dan Wa Kaa Kaa

Masyarakat Buton meyakini bahwa raja pertama mereka, Rajaputri Wa Kaa Kaa, adalah seorang bangsawan Majapahit (dalam beberapa versi disebut putri Batara Guru yang memiliki kaitan dengan Jawa).5 Wa Kaa Kaa menikah dengan Sibatara, yang diidentifikasi sebagai putra atau cucu dari raja Majapahit.5 Dari pernikahan inilah lahir dinasti raja-raja Buton yang memerintah selama dua setengah abad sebelum bertransformasi menjadi kesultanan.19

Jejak fisik dari klaim ini dapat ditemukan pada toponimi. Di Kabupaten Buton Selatan, terdapat sebuah desa yang bernama Desa Majapahit di wilayah Batauga.5 Desa ini diyakini sebagai tempat persinggahan utama armada Majapahit dalam perjalanan mereka menuju Maluku. Di desa ini pula terdapat situs yang dipercaya sebagai Makam Gadjah Mada, yang meskipun secara akademis masih memerlukan penelitian lebih lanjut, menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional dan identitas masyarakat Buton dengan tokoh sentral Majapahit tersebut.5

Warisan Hukum: Sara Jawa dan Jawana

Pengaruh Majapahit di Buton sangat nyata dalam kodifikasi hukum dan aturan adat. Terdapat kategori aturan yang secara spesifik disebut Sara Jawa, yang merujuk pada regulasi adat yang diadopsi dari tradisi Jawa (Majapahit).5 Aturan ini mencakup protokol istana hingga sistem perpajakan yang sangat maju untuk ukuran zamannya.

Istilah Hukum Adat Buton

Makna dan Asal-Usul

Fungsi dalam Kesultanan

Jawana

Ketentuan Pajak Jawa

Sistem pemungutan pajak yang teratur

Sara Jawa

Peraturan Adat Jawa

Protokol penggunaan payung, permadani, dan sembah

Bhangka Mapasa

Perahu yang Pecah

Hukum maritim dan asuransi laut kuno

Gambit Isoda

Kelengkapan Adat Jawa

Protokol diplomatik dan upacara kenegaraan

Sistem perpajakan Jawana memberikan bukti bahwa Majapahit telah menanamkan sistem birokrasi keuangan yang sangat efisien di Sulawesi Tenggara.5 Efektivitas sistem ini sedemikian tinggi sehingga otoritas Kesultanan Buton di kemudian hari terus mempertahankannya sebagai fondasi ekonomi mereka, bahkan mengembangkan sistem perpajakan yang lebih baik dibandingkan kerajaan lain di Sulawesi pada abad ke-17.16

Konstitusi Martabat Tujuh: Sintesis Majapahit dan Sufisme

Meskipun konstitusi Martabat Tujuh (atau Sarana Wolio) secara formal disusun di bawah pengaruh ajaran tasawuf Islam pada masa Sultan La Elangi (1597-1631), struktur kekuasaannya mencerminkan kontinuitas dari model pemerintahan Majapahit yang terbagi secara fungsional.19 Pemisahan kekuasaan antara eksekutif (Sultan), legislatif (Siolimbona), dan yudikatif (Syara Hukumu) menunjukkan kematangan sistem ketatanegaraan yang sangat mirip dengan birokrasi pusat Majapahit yang terdiversifikasi.19

Sistem pemilihan Sultan yang demokratis di Buton, di mana golongan Walaka memiliki wewenang untuk memilih dan mengangkat Sultan dari golongan Kaomu, mencerminkan mekanisme pengawasan kekuasaan yang juga ditemukan dalam dewan pertimbangan Batara Sapta Prabu di Majapahit.2 Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai politik Majapahit tidak hilang dengan masuknya Islam, melainkan mengalami proses akulturasi yang memperkuat identitas kenegaraan Buton.

Manjopaiq di Mandar: Koloni Para Mpu dan Akulturasi Pesisir

Di pesisir Sulawesi Barat, khususnya di Kabupaten Polewali Mandar, jejak Majapahit terekam dalam toponimi kampung dan tradisi kerajinan logam yang sangat spesifik. Kampung Manjopaiq di pesisir Tinambung diyakini oleh masyarakat lokal sebagai bekas pemukiman orang-orang Majapahit.14

Koneksi Garassiq dan Gresik

Salah satu temuan paling menarik adalah keberadaan kawasan bernama Garassiq di Mandar, yang secara fonetik sangat identik dengan Gresik, pelabuhan utama Majapahit di Jawa Timur.14 Hipotesis penelitian menyatakan bahwa Garassiq di Mandar berfungsi sebagai pelabuhan transit atau pintu gerbang bagi armada Majapahit yang beroperasi di sepanjang pesisir barat Sulawesi.14

Kehadiran komunitas Majapahit di wilayah ini diduga bukan untuk penaklukan militer, melainkan sebagai bentuk migrasi tenaga ahli. Para mpu (pandai besi) dari Jawa diduga memilih bermukim di Mandar untuk memanfaatkan kualitas besi nikel tinggi yang tersedia di Sulawesi.14 Daripada harus membawa bijih besi mentah kembali ke Jawa yang memakan waktu dan berisiko tinggi, mereka mendirikan pusat-pusat penempaan di pesisir Mandar untuk memproduksi senjata dan alat tukar secara langsung.14

Temuan Keris Buda dan Jimat Logam

Bukti arkeologis pendukung ditemukan di areal perkebunan di Mandar dalam bentuk keris kuno tak bergagang yang diidentifikasi sebagai jenis Keris Buda.14 Keris jenis ini merupakan prototipe awal keris modern yang lazim diproduksi pada era Majapahit awal hingga pertengahan.14 Selain itu, ditemukan pula keris-keris kecil berukuran sekitar 13 cm yang diduga berfungsi sebagai jimat, menunjukkan bahwa sistem kepercayaan dan simbolisme spiritual Majapahit telah merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mandar pada masa itu.14

Tradisi menempa besi yang masih bertahan di Manjopaiq dan Garassiq hingga kini diyakini merupakan hasil akulturasi antara teknik tempa Jawa dan kearifan lokal Mandar, menciptakan identitas budaya yang unik di pesisir Sulawesi Barat.14

Selayar dan Jalur Rempah: Pos Pantau Maritim Selatan

Pulau Selayar (Salaya), yang terletak di ujung selatan Jazirah Sulawesi, memiliki peran yang sangat krusial dalam strategi navigasi maritim Majapahit. Sebagai titik yang memisahkan Laut Jawa dengan perairan timur Nusantara, Selayar berfungsi sebagai pos kontrol bagi setiap kapal yang menuju Maluku atau Banda.23

Etimologi dan Penemuan Meriam Ba'dili

Nama "Selayar" sendiri diduga berakar dari kata Sansekerta cedaya yang berarti "satu layar", merujuk pada banyaknya perahu layar tunggal yang bersandar di pulau tersebut.24 Nama ini telah diabadikan dalam Nagarakretagama, membuktikan bahwa pulau ini merupakan titik penting dalam peta navigasi resmi kerajaan.24

Jejak material Majapahit di Selayar dapat ditemukan di Kampung Tua Bissorang, di mana terdapat sebuah meriam kuno berbahan perunggu yang dikenal sebagai ba'dili atau Papporo Bissorang.24 Meriam ini memiliki relief dan ukiran halus yang secara fisik identik dengan gaya seni Majapahit abad ke-14.24 Keberadaan meriam ini di pemukiman yang terletak di atas bukit batu menunjukkan bahwa Majapahit mungkin telah menempatkan sistem pertahanan pantai atau menyerahkannya kepada penguasa lokal sebagai bagian dari aliansi keamanan regional.24

Lokasi Temuan

Jenis Artefak

Fungsi Historis

Kampung Tua Bissorang

Meriam Perunggu (Ba'dili)

Pertahanan Pantai dan Kontrol Navigasi

Pesisir Selayar

Toponimi Salaya

Pelabuhan Transit Logistik Rempah

Makam Balang Bata

Relik Makam Kuno

Bukti Interaksi Sosial Majapahit-Lokal

Posisi strategis Selayar sebagai pusat distribusi nasional untuk Kawasan Timur Indonesia pada masa itu menjadikan daerah ini sebagai urat nadi ekonomi bagi Majapahit dalam mengontrol perdagangan cengkeh dan pala dari Maluku.23

Banggai dan Hubungan Darah dengan Jawa

Di wilayah timur Sulawesi Tengah, Kepulauan Banggai (Bangawi) memiliki narasi sejarah yang sangat kuat terkait hubungannya dengan Jawa. Nagarakretagama menyebut Banggawi sebagai wilayah taklukan, namun tradisi lisan memberikan kedalaman yang lebih pada hubungan tersebut melalui sosok Adi Cokro.5

Adi Cokro: Raja Banggai Berdarah Jawa

Menurut para tokoh adat Banggai, raja pertama mereka adalah Adi Cokro, seorang keturunan Jawa yang juga dikenal dengan gelar Mumbu doi Jawa (Wafat di Jawa).25 Istilah Mumbu merupakan penghormatan tertinggi yang hanya diberikan kepada raja-raja Banggai.25 Keberadaan tokoh ini menunjukkan bahwa Majapahit melakukan ekspansi pengaruhnya melalui penempatan keluarga bangsawan atau jenderal yang kemudian mendirikan dinasti lokal—sebuah pola yang juga ditemukan di beberapa wilayah lain di Nusantara.

Warisan kebudayaan Majapahit di Banggai terlihat pada penggunaan bendera merah-putih bersusun 13 yang dianggap sebagai rumpun keramat Paisutobui.25 Meskipun Keraton Banggai yang berdiri saat ini dibangun pada tahun 1927, lokasinya di dataran tinggi Lompio menyimpan memori tentang perjuangan masyarakat adat Banggai dalam menjaga nilai-nilai budaya yang telah berakar sejak masa Singasari dan Majapahit.25

Analisis Arkeologi dan Materialitas Budaya

Berbeda dengan Jawa Timur yang kaya akan bangunan monumental seperti Candi Brahu, Candi Tikus, atau Gapura Wringin Lawang, peninggalan Majapahit di Sulawesi lebih bersifat sporadis dan tersebar dalam bentuk artefak kecil, relik makam, dan struktur fondasi yang tersembunyi.7

Struktur Bata Kuno dan Teknik Kosap

Arkeolog yang melakukan ekskavasi di berbagai situs Majapahit mencatat karakteristik material bangunan yang sangat spesifik, yaitu penggunaan bata merah berukuran besar (sekitar 30x20 cm dengan berat 3-4 kg).27 Teknik penyusunan bata ini tidak menggunakan semen, melainkan teknik kosap (menggosokkan bata hingga panas dan saling melekat dengan bantuan air).27

Di Sulawesi, struktur bata serupa sering ditemukan di areal persawahan atau situs makam tua (seperti di Luwu dan Buton), namun sering kali telah mengalami kerusakan atau digunakan kembali oleh masyarakat setempat (reused).27 Penemuan fondasi batur persegi (square) di beberapa lokasi menunjukkan adanya pengaruh gaya arsitektur Majapahit yang lebih dominan menggunakan bata dibandingkan batu andesit yang lazim digunakan pada masa Mataram Kuno di Jawa Tengah.27

Arca dan Relik Hindu-Buddha

Penyebaran agama Hindu dan Buddha yang dibawa oleh Majapahit tercermin dalam penemuan arca dan relik di beberapa bagian Sulawesi.7 Arca-arca perunggu gaya Majapahit, dengan ciri khas mahkota tinggi dan jamang di depan, memberikan bukti visual mengenai kehadiran para pendeta (bhujangga) dan pegawai kerajaan yang menetap sementara di Sulawesi untuk menjalankan tugas administrasi maupun keagamaan.29 Meskipun jumlahnya tidak sebanyak di Sumatera atau Bali, temuan ini cukup untuk membuktikan adanya proses akulturasi budaya di mana seni lokal mulai mengadopsi unsur-unsur estetik Majapahit.29

Ekonomi dan Jalur Perdagangan Maritim

Kejayaan Majapahit tidak dapat dipisahkan dari kemampuannya mengendalikan jalur perdagangan laut Nusantara. Sulawesi menempati posisi sentral dalam jaringan ini sebagai penghubung antara Jawa, Kalimantan, dan Kepulauan Maluku.8

Sulawesi sebagai Simpul Jalur Rempah

Jalur perdagangan dari Asia Barat menuju Asia Timur harus melewati perairan Nusantara, dan rempah-rempah dari Maluku (cengkeh dan pala) dikumpulkan di pelabuhan-pelabuhan Sulawesi sebelum dikirim ke pusat pengumpulan (collecting centers) di pantai utara Jawa seperti Tuban dan Gresik.9 Pelabuhan Bantaeng (Bantayan) dan Makassar menjadi sangat ramai karena berfungsi sebagai tempat pengisian perbekalan dan logistik bagi kapal-kapal besar yang menyeberangi Laut Jawa.5

Majapahit menyiapkan armada laut yang sangat besar dan tangguh untuk melakukan ekspansi ke wilayah yang jauh, termasuk Sulawesi.8 Kapal-kapal ini tidak hanya membawa tentara, tetapi juga komoditas seperti keramik Tiongkok, kain sutera, dan barang-barang logam untuk dipertukarkan dengan hasil bumi Sulawesi seperti emas, besi, dan kayu cendana.7

Sistem Transportasi Sungai dan Laut

Analisis terhadap teknik pelayaran Majapahit menunjukkan pemanfaatan muara sungai besar di Sulawesi sebagai pintu masuk menuju pedalaman. Hal ini serupa dengan pemanfaatan Sungai Brantas dan Bengawan Solo di Jawa sebagai urat nadi komunikasi dan perdagangan.8 Di Sulawesi Selatan, penguasaan atas muara sungai seperti Sungai Walennae (Cenrana) memberikan kontrol terhadap akses ke Danau Tempe dan wilayah pedalaman penghasil beras dan komoditas hutan.5

Dimensi Sosial dan Tradisi Lisan: Rekonstruksi Memori Kolektif

Salah satu tantangan dalam menelusuri jejang Majapahit di Sulawesi adalah keterbatasan sumber primer yang bersifat arkeologis-monumental. Namun, hal ini dikompensasi dengan kekayaan tradisi lisan dan memori kolektif yang masih hidup di tengah masyarakat.7

Toponimi sebagai Dokumen Sejarah

Pemberian nama wilayah atau toponimi sering kali menjadi bukti bisu dari peristiwa masa lalu. Keberadaan nama-nama seperti Desa Majapahit, Garassiq, dan Manjopaiq bukan merupakan kebetulan semata, melainkan hasil dari pengakuan masyarakat terhadap identitas sejarah mereka.14 Nama-nama ini berfungsi sebagai "jangkar memori" yang menghubungkan komunitas lokal dengan narasi besar kemaharajaan Majapahit.18

Sastra Lisan dan Kultus Tokoh

Di berbagai daerah di Sulawesi, terdapat cerita rakyat yang mengisahkan tentang kedatangan pangeran atau putri dari Jawa yang kemudian menjadi pembawa peradaban baru.7 Sosok Maja di Sabu atau Gadjah Mada di Bima dan Buton menunjukkan adanya proses kultus individu yang melampaui batas sejarah faktual, menjadi bagian dari sistem kepercayaan lokal seperti agama Jingitiu di Sabu.18 Memori kolektif ini, meskipun sering kali mengalami glorifikasi atau distorsi, tetap memberikan informasi penting bagi para sejarawan mengenai "pandangan dunia" masyarakat Sulawesi terhadap Majapahit di masa lalu.18

Relevansi Hukum dan Struktur Kenegaraan Modern

Warisan Majapahit di Sulawesi tidak hanya berhenti pada artefak atau legenda, tetapi juga memberikan pengaruh pada prinsip-prinsip hukum dan organisasi sosial yang masih relevan hingga saat ini.32

Gotong Royong dan Musyawarah

Nilai-nilai dasar hukum Majapahit, seperti gotong royong dan musyawarah dalam penyelesaian sengketa, ditemukan dalam praktik hukum adat di berbagai kerajaan di Sulawesi.32 Sistem peradilan yang independen di Buton, yang mampu menjatuhkan hukuman mati bahkan kepada Sultan yang melanggar aturan, mencerminkan supremasi hukum yang telah lama diperkenalkan oleh para ahli hukum Majapahit melalui kitab-kitab hukum seperti Kutara Manawa.9

Konsep Negara Kesatuan

Keberhasilan Majapahit dalam menyatukan wilayah Nusantara yang sangat luas di bawah satu koordinasi geopolitik (Mandala) menjadi dasar inspirasi bagi pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.32 Konsep kedaulatan maritim yang dipraktikkan Majapahit di perairan Sulawesi menunjukkan bahwa integrasi nasional Indonesia saat ini memiliki akar historis yang sangat kuat dalam tradisi kenegaraan abad ke-14.8

Kesimpulan: Sulawesi sebagai Pilar Mandala Majapahit

Berdasarkan analisis exhaustive terhadap berbagai sumber data, dapat disimpulkan bahwa jejang Kerajaan Majapahit di Tanah Sulawesi adalah sebuah kenyataan historis yang sangat multidimensional. Sulawesi bukan sekadar wilayah taklukan yang pasif, melainkan mitra strategis yang menyediakan bahan baku besi (nikel) bagi persenjataan pusat, simpul kontrol bagi jalur rempah dunia, serta laboratorium akulturasi bagi sistem hukum dan administrasi yang canggih.

Interaksi antara Majapahit dan Sulawesi menghasilkan sebuah sintesis kebudayaan yang melampaui batas agama dan etnis. Warisan teknologi logam di Matano, kodifikasi hukum Sara Jawa di Buton, hingga toponimi Manjopaiq di Mandar merupakan bukti bahwa Majapahit telah berhasil menciptakan jaringan "peradaban bersama" di Nusantara. Jejak-jejak ini, meskipun sering kali tersembunyi di bawah tanah persawahan atau terenkripsi dalam naskah-naskah kuno, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan kedaulatan bangsa Indonesia hingga hari ini. Penelitian lebih lanjut lintas disiplin ilmu, khususnya arkeologi bawah air dan analisis epigrafi, masih sangat diperlukan untuk mengungkap lebih banyak misteri yang tersimpan di balik hubungan legendaris antara Trowulan dan Jazirah Sulawesi.

Karya yang dikutip

  1. Mengungkap Jejak dan Pengaruh Kerajaan Majapahit di Kawasan Timur Indonesia, diakses Maret 14, 2026, https://radarmajapahit.jawapos.com/darmo-corner/2296696906/mengungkap-jejak-dan-pengaruh-kerajaan-majapahit-di-kawasan-timur-indonesia

  2. SISTEM PEMERINTAHAN DAN POLITIK YANG DITERAPKAN DI KERAJAAN MAJAPAHIT (DIBAWAH KEPEMIMPINAN RAJA HAYAM WURUK) - Repository UPY, diakses Maret 14, 2026, https://repository.upy.ac.id/5904/1/Pubslish%20Sinta_Bersama%20Nur.pdf

  3. inspirasi - majapahit, diakses Maret 14, 2026, https://direktorimajapahit.id/yad/berkas/buku/Inspirasi%20Majapahit%202014%20resize.pdf

  4. Negarakertagama Wiki | PDF | Sejarah | Klasik - Scribd, diakses Maret 14, 2026, https://id.scribd.com/document/377305536/Negarakertagama-Wiki

  5. Jejak Budaya Majapahit di Wilayah Sulawesi - Direktori Majapahit, diakses Maret 14, 2026, https://direktorimajapahit.id/yad/berkas/buku/44ec1c53b8dba82e4b2f62ad39d959044.pdf

  6. ARUNG SEJARAH BAHARI 6 PROVINSI SULAWESI TENGGARA.pdf - Repositori Institusi Kemendikdasmen, diakses Maret 14, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/26913/1/ARUNG%20SEJARAH%20BAHARI%206%20PROVINSI%20SULAWESI%20TENGGARA.pdf

  7. Fakta Sejarah Peninggalan Majapahit Di Sulawesi - SDN 55 Dara Kota Bima, diakses Maret 14, 2026, https://sdn55.bimakota.sch.id/web/detail-berita/2232/-

  8. Pengaruh Kekuatan Maritim Kerajaan Majapahit dalam Menguasai Jalur Perdagangan Nusantara pada Abad ke 13-14 M, diakses Maret 14, 2026, https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/download/2536/1481/

  9. PELABUHAN KAMBANG PUTIH PADA MASA MAJAPAHIT TAHUN 1350-1389 - E-Journal Unesa, diakses Maret 14, 2026, https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/19364/17684

  10. Sejarah | PDF - Scribd, diakses Maret 14, 2026, https://id.scribd.com/doc/62005793/sejarah

  11. Prasasti Bukan Peninggalan Tarumanegara | PDF | Sejarah | Agama & Spiritualitas - Scribd, diakses Maret 14, 2026, https://id.scribd.com/doc/147236956/Materi-IPS-SD-Kelas-V

  12. INDONESIAN ARCHITECTS AND BEING INDONESIAN: Diah Asih Purwaningrum - ResearchGate, diakses Maret 14, 2026, https://www.researchgate.net/profile/Rr-Diah-Purwaningrum/publication/353821631_INDONESIAN_ARCHITECTS_AND_BEING_INDONESIAN_Contemporary_Context_of_Nusantaran_Architecture_in_Architectural_Design_and_Theory/links/611396691e95fe241ac2e331/INDONESIAN-ARCHITECTS-AND-BEING-INDONESIAN-Contemporary-Context-of-Nusantaran-Architecture-in-Architectural-Design-and-Theory.pdf

  13. KERAJAAN-KERAJAAN BESAR INDONESIA PADA MASA KEKUASAAN HINDU-BUDDHA, diakses Maret 14, 2026, https://www.smaykbbbleles.sch.id/wp-content/uploads/2020/09/Modul-Kelas-XI-Peminatan-Isi-dikompresi.pdf

  14. Kampung Manjopaiq: Mencari Jejak Sejarah Majapahit di Sulawesi ..., diakses Maret 14, 2026, https://nationalgeographic.grid.id/read/133143832/kampung-manjopaiq-mencari-jejak-sejarah-majapahit-di-sulawesi-barat?page=all

  15. Kedatuan Luwu Peroide Galigo | PDF | Kajian Bahasa Asing - Scribd, diakses Maret 14, 2026, https://id.scribd.com/document/535454128/kedatuan-Luwu-peroide-galigo

  16. Kerajaan Islam Buton di Sulawesi | PDF | Perjalanan - Scribd, diakses Maret 14, 2026, https://id.scribd.com/document/584028709/kerajaan-islam-di-sulawesi

  17. Pembuatan Keris Era Majapahit, Gunakan Logam Kualitas Tinggi ..., diakses Maret 14, 2026, https://radarmojokerto.jawapos.com/sejarah-mojopedia/824960044/pembuatan-keris-era-majapahit-gunakan-logam-kualitas-tinggi-dari-sulawesi?page=2

  18. LAPORAN SEMENTARA: KONTRUKSI KEBANGSAAN DALAM ..., diakses Maret 14, 2026, https://direktorimajapahit.id/yad/berkas/buku/49fdda59e80d232e746662ad3c1deb878.pdf

  19. Kesultanan Buton Dalam bingkai Ketatanegaraan ... - UI Scholars Hub, diakses Maret 14, 2026, https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1549&context=jhp

  20. Pengaruh Islam dalam Kebudayaan Lokal di Button: Satu Kajian ..., diakses Maret 14, 2026, https://media.neliti.com/media/publications/23758-ID-pengaruh-islam-dalam-kebudayaan-lokal-di-button-satu-kajian-berdasarkan-teks-sar.pdf

  21. Al-Islamiyah: Volume V, Nomor 2, Oktober 2017 DPPAI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA, diakses Maret 14, 2026, https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/5177/Article%202%20al-Islamiyyah%20DPPAI.pdf

  22. 123 NILAI-NILAI HUKUM DALAM UNDANG-UNDANG MURTABAT TUJUH BUTON - iain kendari, diakses Maret 14, 2026, https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/al-adl/article/view/364/350

  23. Kabupaten Kepulauan Selayar - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Maret 14, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kepulauan_Selayar

  24. Mengejar Jejak Majapahit di Tanadoang Selayar - Semua halaman | National Geographic, diakses Maret 14, 2026, https://nationalgeographic.grid.id/read/13308593/mengejar-jejak-majapahit-di-tanadoang-selayar?page=all

  25. BAB I PENDAHULUAN - Siat UNG, diakses Maret 14, 2026, https://siat.ung.ac.id/files/wisuda/2016-1-1-87201-231411032-bab1-16072016011435.pdf

  26. Sejarah Kerajaan Majapahit, Daftar Raja, Kejayaan, Peninggalan, dan Warisan yang Memengaruhi Nusantara, diakses Maret 14, 2026, https://daerah.sindonews.com/read/1516421/29/sejarah-kerajaan-majapahit-daftar-raja-kejayaan-peninggalan-dan-warisan-yang-memengaruhi-nusantara-1736902869?showpage=all

  27. Penemuan Jejak Baru Majapahit, Meski dari Abad 13 Struktur Bata Masih Terlihat Kokoh, diakses Maret 14, 2026, https://www.youtube.com/watch?v=U63nJzg1lqU

  28. MAJAPAHIT - Repositori, diakses Maret 14, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/2054/1/Buku%20Majapahit2.pdf

  29. Balai Arkeologi Palembang - Direktori Majapahit, diakses Maret 14, 2026, https://direktorimajapahit.id/yad/berkas/buku/Siddhayatra%20Jurnal%20Arkeologi%20%20Mei%201996%20-%20Balai%20Arkeologi%20Palembang.pdf

  30. jejak emas sriwijaya dan majapahit dalam perdagangan maritim asia - ResearchGate, diakses Maret 14, 2026, https://www.researchgate.net/publication/366565160_JEJAK_EMAS_SRIWIJAYA_DAN_MAJAPAHIT_DALAM_PERDAGANGAN_MARITIM_ASIA

  31. rempah, jalur rempah, dan dinamika masyarakat nusantara, diakses Maret 14, 2026, http://118.98.228.242/Media/Dokumen/5cff5f5fb646044330d686d0/379660db33b32c7c0d1e8e38664d60a2.pdf

  32. Perkembangan Hukum Indonesia dengan Hukum di Majapahit - Jurnal Komputer, Informasi dan Teknologi, diakses Maret 14, 2026, https://penerbitadm.pubmedia.id/index.php/iso/article/download/2078/2319

 

Ditulis oleh:

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: