Jejak Kolonial di Tanah Sulawesi: Transformasi Geopolitik, Arsitektur, dan Resistensi Kultural

14 Mar 2026 | Oleh: Rastono Sumardi

Jejak Kolonial di Tanah Sulawesi: Transformasi Geopolitik, Arsitektur, dan Resistensi Kultural

Dinamika sejarah Sulawesi dalam bingkai kolonialisme Eropa merupakan salah satu narasi paling kompleks di kepulauan Nusantara. Sebagai wilayah yang menempati posisi sentral di persimpangan jalur maritim internasional, Sulawesi bukan sekadar objek penaklukan, melainkan medan laga bagi berbagai ambisi global yang mempertemukan kepentingan ekonomi, hegemoni politik, dan penyebaran keyakinan religius. Penetrasi bangsa Barat di jazirah ini, yang dimulai sejak awal abad ke-16, telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan pada struktur sosial, lanskap arsitektural, dan memori kolektif masyarakatnya. Dari pesisir Makassar yang gemuruh dengan semangat perdagangan bebas hingga pegunungan Minahasa yang menjadi basis aliansi sekaligus pusat perlawanan terhadap Belanda, jejak-jejak ini mencerminkan pertemuan antara tradisi lokal yang tangguh dengan modernitas kolonial yang dipaksakan.1

Paradigma Ekspansi: Motivasi dan Pemicu Kehadiran Eropa

Kehadiran bangsa Eropa di Sulawesi tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipicu oleh pergeseran tektonik dalam politik global di Eurasia. Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Utsmani pada tahun 1453 menjadi katalisator utama yang memutus jalur perdagangan tradisional antara Eropa dan Asia, memaksa bangsa-bangsa Barat untuk mencari rute alternatif langsung ke sumber rempah-rempah.1 Sulawesi, dengan letaknya yang strategis di jalur pelayaran menuju Kepulauan Maluku, segera menjadi target utama dalam skema penjelajahan samudra yang didorong oleh kemajuan teknologi navigasi, kartografi, dan persenjataan maritim.1

Doktrin 3G dan Spirit Reconquista

Motivasi bangsa Barat, terutama Portugis dan Spanyol, sering kali diringkas dalam slogan Gold, Glory, dan Gospel. Namun, di balik slogan tersebut terdapat dorongan yang lebih dalam, yakni semangat Reconquista. Ini adalah semangat kebangsaan untuk membersihkan tanah air mereka dari pengaruh bangsa Arab dan kewajiban moral untuk membebaskan daerah Kristen lainnya yang masih dikuasai oleh umat Islam, sebuah sentimen yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman Perang Salib di Eropa.2

Dalam aspek Gold, pencarian kekayaan berfokus pada penguasaan perdagangan cengkeh, pala, dan lada yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi di pasar Eropa. Mereka berusaha menghilangkan peran pedagang perantara dari Arab dan India untuk menciptakan monopoli absolut.1 Sementara itu, Glory diwujudkan melalui pendirian pos-pos perdagangan dan benteng-benteng yang bertujuan meningkatkan prestise kerajaan serta menguasai jalur-jalur strategis.1 Aspek Gospel membawa misi penyebaran agama Katolik oleh Portugis dan Spanyol, yang kemudian diikuti oleh misi Protestan oleh Belanda, yang secara fundamental mengubah peta sosioreligius di wilayah Sulawesi bagian utara.1

Kronologi Kedatangan dan Persaingan Global

Ekspedisi bangsa Eropa ke Nusantara merupakan rentetan peristiwa yang saling berkaitan, dimulai dari keberhasilan Vasco da Gama mencapai India pada tahun 1498. Titik balik penting terjadi ketika Alfonso de Albuquerque menaklukkan Malaka pada tahun 1511, yang memberi Portugis akses ke informasi detail mengenai wilayah penghasil rempah di timur.1

Bangsa Eropa

Tahun Kedatangan

Lokasi Pendaratan Utama

Fokus Kegiatan

Portugis

1511-1512

Malaka, Maluku, Makassar

Monopoli rempah, Misi Katolik

Spanyol

1521

Tidore, Minahasa, Manado

Persaingan wilayah, Emas

Belanda (VOC)

1596-1602

Banten, Maluku, Makassar

Monopoli perdagangan total, Politik

Inggris

Abad ke-17

Makassar, Kepulauan Selatan

Perdagangan bebas, Persaingan dagang

Persaingan antara Portugis dan Spanyol di wilayah timur Nusantara memicu perlunya resolusi diplomatik melalui Perjanjian Saragosa pada tahun 1529. Perjanjian ini menetapkan bahwa Spanyol harus meninggalkan Maluku dan kembali ke wilayah Filipina, sementara Portugis diizinkan melanjutkan perdagangan di wilayah Maluku dan sekitarnya.4 Namun, dominasi Portugis mulai goyah dengan kedatangan Belanda yang membawa kekuatan modal melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang lebih fokus pada eksploitasi ekonomi melalui sistem administrasi yang kaku dan kekuatan militer yang superior.4

Kerajaan Gowa dan Jatuhnya Hegemoni Makassar

Makassar, di bawah kendali Kerajaan Gowa dan Tallo, adalah simbol perlawanan paling gigih terhadap ambisi monopoli Belanda. Di abad ke-17, Makassar merupakan pelabuhan internasional yang terbuka bagi pedagang dari berbagai bangsa, termasuk Inggris, Denmark, dan Portugis. Prinsip kedaulatan laut yang dianut oleh Sultan Hasanuddin—bahwa Tuhan menciptakan laut untuk semua orang—menjadi ancaman langsung bagi sistem perdagangan tertutup yang diinginkan oleh VOC.10

Anatomi Kekuatan Gowa dan Tallo

Sebelum menjadi kekuatan besar, Kerajaan Gowa merupakan persatuan dari sembilan pemimpin wilayah yang disebut sebagai Paccalaya. Konflik internal di antara sembilan pemimpin ini menyebabkan mereka sepakat menunjuk seorang penguasa tunggal yang dikenal sebagai Tomanurung pada sekitar tahun 1320 M.11 Transformasi ini mengubah sistem pemerintahan dari desentralistik menjadi lebih sentralistik, di mana kesembilan pemimpin tersebut kemudian menjadi dewan penasihat yang dikenal sebagai Bate Salapang.13

Gowa tumbuh menjadi imperium maritim yang kuat berkat perlindungan benteng-benteng strategis. Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna, merintis pembangunan Benteng Ujung Pandang, yang kemudian diselesaikan oleh penerusnya, Tunipallangga Ulaweng, pada tahun 1545.14 Selain Benteng Ujung Pandang, Gowa memiliki pusat pemerintahan di Benteng Somba Opu, yang menjadi simbol kemegahan dan pusat pertahanan militer.14

Perang Makassar dan Strategi Politik Adu Domba

Konflik terbuka antara Gowa dan VOC, yang dikenal sebagai Perang Makassar (1666–1669), merupakan salah satu perang terbesar dan termahal bagi Belanda di Nusantara. VOC di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman menyadari bahwa kekuatan militer Gowa terlalu tangguh untuk dihadapi sendirian. Oleh karena itu, mereka memanfaatkan ketidakpuasan regional dengan merangkul Arung Palakka dari Kerajaan Bone, yang saat itu merasa tertekan oleh dominasi Gowa.9

Dalam rangkaian pertempuran yang brutal, Belanda menyerang berbagai posisi strategis Gowa. Beberapa peristiwa penting dalam perang ini meliputi:

  1. Peristiwa tahun 1660, di mana Belanda berhasil menduduki Benteng Panakkukang untuk sementara waktu.12

  2. Insiden kapal De Walvis (1662) dan De Leeuwin, di mana perselisihan mengenai sitaan meriam memicu ketegangan diplomatik yang gagal.12

  3. Pertempuran di Buton, di mana armada Gowa berhasil mengalahkan pasukan Belanda sebelum akhirnya Speelman melakukan serangan balik yang menentukan.12

Kekalahan Gowa pada tahun 1669 memaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya. Perjanjian ini mengharuskan Gowa mengakui monopoli VOC, mengusir semua pedagang asing non-Belanda, dan menyerahkan Benteng Ujung Pandang kepada Belanda.11 Penandatanganan perjanjian ini menandai berakhirnya era perdagangan bebas di Makassar dan dimulainya dominasi kolonial Belanda di wilayah Sulawesi bagian selatan.10

Fort Rotterdam: Benteng Penyu yang Menjadi Pusat Kuasa

Setelah pengambilalihan Benteng Ujung Pandang oleh VOC, Cornelis Speelman mengubah namanya menjadi Fort Rotterdam sebagai penghormatan terhadap kota kelahirannya di Belanda.3 Benteng ini kemudian mengalami rekonstruksi menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan administrasi dan militer kolonial. Struktur aslinya yang terbuat dari tanah liat diganti dengan batu padas dari Maros, batu kapur dari Selayar, dan kayu dari Bantaeng.15

Arsitektur dan Simbolisme Militer

Fort Rotterdam memiliki desain yang sangat strategis dengan lima bastion yang memberinya bentuk menyerupai seekor penyu yang merangkak menuju laut, sehingga sering disebut sebagai "Benteng Penyu".15 Bastion-bastion tersebut dinamakan berdasarkan daerah yang memiliki kaitan politik atau strategis dengan Belanda: Bone, Bacan, Buton, Mandarasyah, dan Amboina.16

Di dalam benteng, Belanda membangun kompleks bangunan yang mencerminkan gaya arsitektur Eropa yang diadaptasi dengan iklim tropis. Bangunan tertua dibangun pada tahun 1686 sebagai tempat tinggal Cornelis Speelman.16 Selain itu, terdapat berbagai fasilitas lain seperti:

  • Gudang senjata dan logistik yang menjadi pusat perdagangan kompeni.3

  • Penjara dan sel tahanan, termasuk sel sempit beratap melengkung yang pernah digunakan untuk menahan Pangeran Diponegoro selama masa pengasingannya dari tahun 1833 hingga kematiannya pada 1855.3

  • Gereja dan rumah penguasa yang menunjukkan bahwa benteng bukan hanya instalasi militer, melainkan pusat kehidupan sosial kaum kolonial.3

Evolusi Fungsi di Masa Modern

Fort Rotterdam tetap menjadi markas militer Belanda hingga tahun 1930-an. Selama pendudukan Jepang, benteng ini digunakan sebagai pusat penelitian ilmiah di bidang linguistik dan pertanian.15 Pada era kemerdekaan, khususnya sejak tahun 1970-an, benteng ini dipugar secara ekstensif dan kini menjadi pusat budaya, pendidikan, serta lokasi Museum La Galigo yang menyimpan ribuan artefak sejarah Sulawesi Selatan.3

Nama Bastion

Asal Nama

Fungsi Strategis

Bone

Kerajaan Bone

Menghadap ke arah daratan, penjagaan internal

Bacan

Pulau Bacan (Maluku)

Pengawasan jalur laut utara

Buton

Pulau Buton

Pengawasan pintu masuk pelabuhan

Mandarasyah

Wilayah Mandar

Pertahanan sisi barat daya

Amboina

Kota Ambon

Pengawasan aktivitas maritim timur

Perlawanan di Pegunungan Utara: Perang Tondano dan Identitas Minahasa

Sejarah kolonial di Sulawesi Utara menyajikan narasi yang berbeda dibandingkan dengan wilayah selatan. Hubungan antara masyarakat Minahasa dan Belanda sering kali digambarkan sebagai persekutuan yang ambigu, namun penuh dengan ketegangan yang berujung pada konflik berdarah. Perang Tondano (1807–1809) menjadi monumen perlawanan masyarakat adat terhadap kebijakan eksploitatif pemerintah kolonial Hindia Belanda di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Daendels.22

Akar Konflik dan Pelanggaran Adat

Ketegangan di Minahasa berawal dari penyalahgunaan kekuasaan oleh Belanda dalam sistem pengumpulan hasil bumi (Gecommitteerden) dan kebijakan pemaksaan pajak. Namun, pemicu utama Perang Tondano II adalah rencana Daendels untuk merekrut ribuan pemuda Minahasa guna dikirim ke Pulau Jawa sebagai tentara untuk menghadapi ancaman Inggris.22 Rakyat Tondano, di bawah pimpinan tokoh-tokoh seperti Lonto, Tewu, dan Ukung Lumentut, menolak keras perintah tersebut karena dianggap akan menghancurkan tatanan sosial dan masa depan generasi muda mereka.22

Strategi Pertahanan Benteng Moraya

Rakyat Tondano membangun pertahanan yang sangat tangguh di sekitar Danau Tondano. Mereka mendirikan Benteng Moraya di kompleks berawa yang sulit ditembus oleh infanteri Belanda. Strategi pertahanan mereka mencakup:

  1. Pemanfaatan kondisi geografis rawa sebagai rintangan alami.

  2. Penggunaan ranjau bambu runcing yang ditanam di sekeliling benteng.22

  3. Taktik gerilya air menggunakan perahu dan rakit di danau.

Belanda merespons dengan taktik pengepungan yang panjang dan brutal. Mereka menggunakan strategi pembendungan Sungai Temberan untuk menenggelamkan wilayah pertahanan pejuang, yang memaksa penduduk keluar dari persembunyian mereka. Selain itu, Belanda menggunakan taktik keji dengan melepaskan burung merpati yang kakinya diikatkan sumbu api untuk membakar rumah-rumah penduduk yang beratapkan rumbia dan ijuk.22 Pertempuran berakhir pada Agustus 1809 setelah pengepungan selama berbulan-bulan, di mana para pejuang Tondano melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan yang menyerupai aksi puputan demi harga diri tanah kelahiran.22

Benteng Otanaha: Saksi Bisu Kejayaan Gorontalo dan Jejak Portugis

Di pesisir utara-barat Sulawesi, wilayah Gorontalo menyimpan jejak kolonial Portugis yang sangat unik melalui keberadaan kompleks Benteng Otanaha di Kelurahan Dembe. Benteng ini bukan hanya peninggalan militer, tetapi juga simbol adaptasi teknologi Eropa oleh penguasa lokal Gorontalo.23

Konstruksi dengan Putih Telur Maleo

Dibangun pada sekitar tahun 1522 atas prakarsa nahkoda kapal Portugis yang berlabuh di pelabuhan Gorontalo, Benteng Otanaha dirancang sebagai titik pertahanan untuk mengawasi keamanan dari serangan musuh.24 Kekhasan utama benteng ini adalah bahan perekatnya yang menggunakan putih telur burung Maleo, burung endemik Sulawesi, yang dicampur dengan kapur dan pasir untuk merekatkan bongkahan batu karang dan batu gunung.23

Struktur benteng terdiri dari tiga bagian utama: Otanaha, Otahiya, dan Ulupahu. Penamaan ini memiliki latar belakang tutur masyarakat yang menyebutkan bahwa benteng-benteng tersebut ditemukan kembali pada tahun 1585 oleh Naha, putra Raja Ilato. Nama Otanaha sendiri berarti "Benteng temuan Naha", sementara dua lainnya dinamai berdasarkan istri dan anak Naha.23

Signifikansi Strategis dan Kelangkaan Terowongan

Secara arsitektural, Benteng Otanaha memiliki dimensi sekitar 50 x 40 meter dengan ketebalan dinding mencapai 60 centimeter.27 Posisinya di atas bukit yang menghadap Danau Limboto memberikan keunggulan strategis dalam memantau pergerakan musuh baik dari arah danau maupun laut. Di dalam benteng, terdapat ruang terbuka untuk penempatan meriam dan ruangan pelindung bagi prajurit.27 Salah satu fitur yang kini telah tertimbun namun tercatat dalam sejarah adalah terowongan bawah tanah sepanjang 100 meter yang menghubungkan benteng langsung ke arah laut, yang digunakan sebagai jalur logistik dan penyelamatan rahasia.27

Kepulauan Selayar: Titik Singgah Jalur Rempah dan Infrastruktur Kolonial

Selayar menempati peran krusial sebagai jembatan ekonomi antara Sulawesi Selatan dan wilayah timur Nusantara. Peninggalan kolonial di wilayah ini mencakup artefak maritim dan infrastruktur administratif yang menunjukkan pentingnya Selayar dalam jaringan niaga global.28

Artefak Maritim: Jangkar dan Meriam Raksasa

Di Dusun Padang, terdapat peninggalan sejarah berupa jangkar raksasa dari abad ke-17 yang diyakini milik armada dagang atau militer kolonial yang pernah bersinggah di perairan Selayar.28 Penemuan lain di Desa Baholuang pada tahun 2012 berupa jangkar sepanjang 4,25 meter menunjukkan intensitas aktivitas maritim di masa lalu.29 Selain jangkar, keberadaan meriam-meriam tua dengan berbagai dimensi menjadi bukti bahwa Selayar merupakan wilayah yang dijaga ketat karena posisinya di jalur strategis rempah-rempah.28

Tata Kota Benteng dan Bangunan Administratif

Ibukota Selayar, yang dinamakan Benteng, memiliki tata ruang yang sangat dipengaruhi oleh kebijakan kolonial Belanda. Beberapa bangunan penting yang masih bertahan hingga saat ini meliputi:

  • Rumah Jabatan Bupati Selayar, yang awalnya merupakan kantor pemerintahan kolonial yang dibangun pada awal abad ke-20 dengan gaya arsitektur yang megah dan dinding yang dihiasi ornamen geometris.31

  • Lapangan Pemuda, yang di masa kolonial berfungsi sebagai pusat kegiatan publik dan sosial di jantung Kota Benteng.31

  • Pelabuhan Jembatan Batu, yang meskipun telah mengalami renovasi, tetap mempertahankan fungsi historisnya sebagai pintu masuk utama logistik di masa kolonial.31

Masyarakat lokal juga membangun benteng-benteng tradisional sebagai bentuk pertahanan mandiri, seperti Benteng Pa'ba'dilang di tanjung pantai utara dan Benteng Baruyya yang didirikan pada akhir abad ke-19 semasa pemerintahan Opu Matahun Dg. Matarang.29 Keberadaan benteng-benteng ini menunjukkan dinamika antara kontrol kolonial dan kedaulatan kerajaan-kerajaan lokal di Selayar.29

Semangat Sipamandar: Resistensi di Tanah Mandar

Wilayah Mandar (kini Sulawesi Barat) dikenal dengan persatuan empat belas kerajaan yang dikenal sebagai Sipamandar. Perlawanan rakyat Mandar terhadap Belanda dipicu oleh upaya pemerintah kolonial untuk memperluas kontrol melalui pemungutan pajak impor, ekspor, dan cukai pelabuhan di awal abad ke-20.32

Perlawanan Ammana I Wewang dan Andi Depu

Salah satu tokoh sentral dalam perlawanan Mandar adalah I Calo Ammana I Wewang. Ia memimpin gerakan bawah tanah dan serangan gerilya terhadap militer Belanda. Perlawanannya baru melemah setelah jatuhnya Benteng Galung Adolang, yang merupakan gudang senjata dan perbekalan utama pejuang Mandar.32 Ammana I Wewang akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Bangka Belitung, sebelum dibawa kembali oleh Jepang pada 1942.32

Di era revolusi kemerdekaan, muncul sosok Andi Depu (Ibu Agung), seorang bangsawan perempuan yang memimpin organisasi KRIS Muda (Kebaktian Rahasia Islam Muda). Keberanian Andi Depu sangat fenomenal karena ia memilih meninggalkan kehidupan nyaman di istana dan berpisah dengan suaminya, Raja Balanipa, yang saat itu cenderung bersikap kooperatif terhadap Belanda.33 Andi Depu menjadi motor penggerak laskar rakyat Mandar dalam menghadapi aksi teror pasukan khusus Belanda di bawah komando Kapten Raymond Westerling pada tahun 1947.32

Islam sebagai Stimulus Perlawanan

Perjuangan di Mandar memiliki karakter religius yang sangat kuat. Organisasi seperti GAPRI dan KRIS Muda menggunakan nilai-nilai Islam sebagai motor penggerak semangat jihad melawan penjajah. Hal ini terlihat jelas dalam peristiwa Galung Lombok tahun 1947, di mana para ulama menjadi motivator utama aksi perlawanan rakyat terhadap pasukan Belanda.32 Sinergi antara kearifan lokal budaya bahari Mandar dan identitas keislaman menciptakan daya tahan yang luar biasa dalam menghadapi penetapan kekuasaan kolonial.32

Arsitektur Kolonial: Estetika Kekuasaan dan Adaptasi Tropis

Bangunan-bangunan kolonial di Sulawesi bukan sekadar struktur fisik, melainkan instrumen untuk menegaskan kekuasaan dan prestise bangsa penjajah. Perkembangan arsitektur kolonial di Makassar dan Manado mengikuti tren global yang disesuaikan dengan tantangan iklim tropis Nusantara.36

Indische Empire Style: Kemegahan Daendels di Sulawesi

Gaya Indische Empire Stijl, yang populer pada abad ke-18 dan 19, diperkenalkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Gaya ini dicirikan oleh penggunaan elemen neoklasik Eropa seperti pilar-pilar besar bergaya Yunani (Doric, Ionic, atau Corinthian) yang dipadukan dengan beranda atau teras yang sangat luas (voor-galerij dan achter-galerij).37

Ciri khas gaya ini meliputi:

  • Denah bangunan yang simetris penuh dengan langit-langit tinggi untuk sirkulasi udara.37

  • Penggunaan jendela-jendela tinggi dan pintu melengkung yang memungkinkan cahaya masuk secara maksimal.36

  • Halaman luas yang mengelilingi bangunan untuk menciptakan lingkungan yang sejuk dan asri di tengah cuaca panas.36

Di Manado, pengaruh gaya ini terlihat jelas pada bangunan rumah tinggal keluarga elit dan beberapa kompleks perkantoran lama di pusat kota.38 Di Makassar, sisa-sisa gaya ini dapat ditemukan pada bangunan-bangunan di dalam Fort Rotterdam dan gedung-gedung pemerintahan yang dibangun sebelum awal abad ke-20.16

Arsitektur Transisi dan Kolonial Modern

Memasuki abad ke-20, terjadi pergeseran menuju gaya Arsitektur Transisi (1890–1915) dan Arsitektur Kolonial Modern (1915–1940). Gaya ini muncul sebagai protes terhadap kemegahan gaya Empire yang dianggap tidak praktis dan tidak berorientasi pada fungsi.37 Bangunan modern mulai menggunakan material baru seperti beton bertulang, besi cor, dan kaca lebar, dengan warna putih yang dominan.37

Contoh menonjol di Makassar adalah Gedung MULO dan Museum Kota Makassar (bekas kantor pemerintahan yang dibangun tahun 1916). Bangunan ini menggunakan gaya Neoklasik yang lebih efisien dengan pilaster yang memberikan irama monoton namun elegan.36 Di Manado, Gereja Santu Ignatius menunjukkan perpaduan antara tipologi modern dan elemen tradisional yang telah beradaptasi dengan kondisi geografis pegunungan.41

Jenis Arsitektur

Periode

Karakteristik Utama

Contoh Bangunan

Indische Empire

Abad 18-19

Pilar besar, beranda luas, simetris

Gedung di Fort Rotterdam, Rumah Elit Manado

Arsitektur Transisi

1890-1915

Atap pelana/perisai, ventilasi dormer

Gedung di Pusat Kota Manado, Kantor Lama Kendari

Kolonial Modern

1915-1940

Fungsional, beton bertulang, kaca besar

Museum Kota Makassar, Gedung MULO

Transformasi Sosial dan Ekonomi Akibat Kolonialisme

Kebijakan kolonial Belanda di Sulawesi membawa perubahan fundamental pada struktur kemasyarakatan. Belanda menerapkan sistem pelapisan sosial yang kaku berdasarkan ras dan fungsi ekonomi. Hal ini menciptakan kesenjangan antara warga Eropa yang memiliki akses penuh terhadap hukum dan pendidikan, warga Timur Asing (Cina, Arab) sebagai perantara dagang, dan pribumi yang menempati posisi paling bawah dalam hierarki sosial.43

Erosi Kekuasaan Tradisional dan Indirect Rule

Belanda menerapkan sistem Indirect Rule atau pemerintahan tidak langsung dengan memanfaatkan para penguasa lokal (raja dan bupati) sebagai alat kekuasaan kolonial.7 Para bangsawan yang sebelumnya mendapatkan upeti dan penghormatan berdasarkan adat, kini berubah status menjadi pegawai pemerintah kolonial yang digaji. Perubahan ini mengakibatkan merosotnya wibawa tradisional penguasa pribumi di mata rakyatnya sendiri.7

Di sisi lain, hilangnya peran politik mendorong para elit keraton untuk beralih ke pengembangan seni dan budaya. Di berbagai kerajaan, disusunlah naskah-naskah kuno dan catatan sejarah sebagai upaya untuk menjaga identitas bangsa di tengah tekanan kolonial.7 Namun, secara ekonomi, monopoli VOC telah mematikan aktivitas perdagangan laut pribumi yang sebelumnya sangat dinamis, memaksa masyarakat untuk beralih ke sektor agraris yang terikat pada sistem feodal pedalaman.44

Pendidikan sebagai Pedang Bermata Dua

Pemerintah kolonial memperkenalkan sistem pendidikan Barat secara selektif, awalnya hanya untuk anak-anak Eropa dan elit pribumi kaya.44 Tujuan utamanya adalah untuk menghasilkan tenaga kerja administratif yang murah dan cakap untuk kantor-kantor Belanda. Namun, kebijakan ini secara tidak sengaja melahirkan golongan terpelajar pribumi yang kemudian menjadi pelopor gerakan nasionalisme. Tokoh-tokoh ini menggunakan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan dari Barat untuk menyusun strategi perlawanan terhadap kolonialisme itu sendiri.44

Di Sulawesi Utara, penyebaran sekolah-sekolah zendeling Kristen memberikan akses pendidikan yang lebih luas bagi penduduk lokal, yang menjadikan wilayah ini memiliki tingkat literasi yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Nusantara pada masa itu.7

Pelestarian Warisan Kolonial: Tantangan dan Harapan Masa Depan

Di era kontemporer, bangunan dan situs kolonial di Sulawesi menghadapi tantangan besar terkait pelestarian di tengah derasnya arus pembangunan kota. Banyak bangunan bersejarah yang kini dalam kondisi memprihatinkan, terancam oleh penghancuran, vandalisme, maupun penelantaran.47

Problematika Cagar Budaya di Sulawesi Tenggara dan Tengah

Di Sulawesi Tenggara, kawasan Kota Lama Kendari yang merupakan cikal bakal perkembangan kota kini terancam oleh pembangunan infrastruktur jembatan raksasa yang tidak mempertimbangkan integritas sejarah kawasan tersebut.47 Banyak bangunan masa kolonial seperti gudang pelabuhan dan rumah jabatan gubernur pertama dalam kondisi tidak terurus dan kusam.47

Sementara itu, di Sulawesi Tengah, Kawasan Megalitik Lore Lindu yang memiliki kekayaan arkeologi luar biasa sedang diupayakan untuk menjadi Warisan Dunia UNESCO.48 Namun, upaya pelestarian sering kali terbentur pada beban status yang tidak disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar situs. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengintegrasikan pelestarian cagar budaya dengan konsep pariwisata berkelanjutan yang berbasis komunitas (eco-museum).48

Revitalisasi di Makassar dan Gorontalo

Fort Rotterdam di Makassar tetap menjadi contoh sukses pemanfaatan cagar budaya sebagai pusat pendidikan dan pariwisata. Museum La Galigo, yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, menyimpan hampir 5.000 koleksi artefak yang mencerminkan ragam budaya Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.16 Namun, masih terdapat catatan mengenai perlunya peningkatan profesionalisme pengelola dan kualitas pelayanan informasi bagi pengunjung.49

Di Gorontalo, penetapan Benteng Otanaha dan bangunan tua lainnya sebagai cagar budaya terus digalakkan. Kunjungan Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada tahun 2025 menegaskan komitmen pemerintah untuk menjadikan Otanaha sebagai pusat kegiatan budaya yang terintegrasi.50 Upaya dokumentasi melalui buku dan media visual kreatif juga dilakukan oleh para akademisi untuk menanamkan nilai-nilai sejarah bagi generasi muda agar identitas kota tidak hilang ditelan zaman.26

Strategi Kolaboratif Pelestarian

Masa depan warisan kolonial di Sulawesi sangat bergantung pada strategi kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Beberapa poin kunci yang perlu diperhatikan meliputi:

  1. Penguatan regulasi dan insentif bagi pemilik bangunan kolonial agar tidak membongkar aset bersejarah mereka.40

  2. Edukasi publik yang berkelanjutan untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap cagar budaya sebagai jati diri bangsa.51

  3. Adaptasi fungsi bangunan lama (revitalisasi) agar dapat digunakan kembali untuk kegiatan modern tanpa merusak nilai arsitektural aslinya.38

  4. Perlindungan hukum terhadap cagar budaya dari dampak konflik atau bencana alam melalui implementasi regulasi yang lebih ketat.52

Jejak kolonial di Tanah Sulawesi adalah cermin dari pergulatan identitas yang panjang. Melalui pelestarian yang bijaksana, warisan-warisan ini tidak hanya akan berdiri sebagai monumen masa lalu, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dan kreativitas untuk membangun masa depan Sulawesi yang lebih berbudaya dan berkarakter. Kesadaran bahwa sejarah kolonial adalah bagian tak terpisahkan dari narasi kebangsaan kita akan menjadi modal sosial yang kuat dalam menghadapi tantangan global di masa depan.26

Karya yang dikutip

  1. Kedatangan Bangsa Portugis di Indonesia: Tujuan, Proses, dan Dampaknya - Liputan6.com, diakses Maret 14, 2026, https://www.liputan6.com/feeds/read/5830295/kedatangan-bangsa-portugis-di-indonesia-tujuan-proses-dan-dampaknya

  2. Pembelajaran 3. Kehidupan Bangsa Indonesia pada masa Kolonial, Pergerakan Nasional, Penjajahan Jepang hingga Kemerdekaan, diakses Maret 14, 2026, https://cdn-gbelajar.simpkb.id/s3/p3k/IPS/Sejarah/PER%20Pembelajaran/PEMBELAJARAN%203.%20IPS-SEJARAH%202021.pdf

  3. Menjelajah Benteng Rotterdam: Warisan Kolonial di Tengah Kota Makassar - Indonesia Travel, diakses Maret 14, 2026, https://www.indonesia.travel/id/id/travel-ideas/heritage/benteng-rotterdam/

  4. Perkembangan Kolonialisme & Imperialisme Eropa di Indonesia - Ruangguru, diakses Maret 14, 2026, https://www.ruangguru.com/blog/sejarah-kelas-11-perkembangan-kolonialisme-dan-imperialisme-eropa-di-indonesia

  5. Apa itu VOC: Sejarah, Tujuan dan Dampaknya di Indonesia - Liputan6.com, diakses Maret 14, 2026, https://www.liputan6.com/feeds/read/5869017/apa-itu-voc-sejarah-tujuan-dan-dampaknya-di-indonesia

  6. Penjajahan Spanyol di Indonesia: Awal Mula, Tujuan, Penyebab, dan Saat Spanyol Tiba di Indonesia - Gramedia, diakses Maret 14, 2026, https://www.gramedia.com/literasi/penjajahan-spanyol-di-indonesia/

  7. Dampak Kolonialisme Dan Imperialisme | PDF | Agama & Spiritualitas - Scribd, diakses Maret 14, 2026, https://id.scribd.com/document/558595846/Dampak-Kolonialisme-dan-Imperialisme

  8. Tahun Kedatangan Bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda di Indonesia, Materi Kelas 5 SD, diakses Maret 14, 2026, https://bobo.grid.id/read/083687090/tahun-kedatangan-bangsa-portugis-spanyol-dan-belanda-di-indonesia-materi-kelas-5-sd?page=all

  9. (PDF) Masa Pemerintahan VOC di Nusantara: Awal Kedatangan Hingga Penyebab Bubarnya VOC - ResearchGate, diakses Maret 14, 2026, https://www.researchgate.net/publication/386355911_Masa_Pemerintahan_VOC_di_Nusantara_Awal_Kedatangan_Hingga_Penyebab_Bubarnya_VOC

  10. PERDAGANGAN DAN EKONOMI DI SULAWESI SELATAN, PADA TAHUN 1900-an SAMPAI DENGAN 1930-an - Neliti, diakses Maret 14, 2026, https://media.neliti.com/media/publications/163174-ID-perdagangan-dan-ekonomi-di-sulawesi-sela.pdf

  11. PERLAWANAN SULTAN HASANUDDIN TERHADAP VOC 1660-1669M SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana da - Digilib UIN Sunan Ampel Surabaya, diakses Maret 14, 2026, http://digilib.uinsa.ac.id/53974/1/Husni%20Firmansyah_A92217111.pdf

  12. Sejarah Perlawanan Rakyat Makassar Terhadap Kekejaman VOC di Abad ke-17 - detikcom, diakses Maret 14, 2026, https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6396192/sejarah-perlawanan-rakyat-makassar-terhadap-kekejaman-voc-di-abad-ke-17

  13. STUDI KOMPARATIF SISTEM PEMERINTAHAN KERAJAAN GOWA DAN BONE DALAM PERSPEKTIF OTONOMI DAERAH, diakses Maret 14, 2026, https://journal.unismuh.ac.id/index.php/alurwatul/article/view/5022/3766

  14. benteng ujung pandang (fort rotterdam) - Repositori, diakses Maret 14, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/17095/1/BENTENG%20UJUNG%20PANDANG%20%28Fort%20Rotterdam%29.pdf

  15. Benteng Rotterdam - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Maret 14, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Rotterdam

  16. Buku Bangunan Bersejarah di Kota Makassar - Repositori Institusi Kemendikdasmen, diakses Maret 14, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/8142/1/BANGUNAN%20BERSEJARAH%20DI%20KOTA%20MAKASSAR.pdf

  17. Analisis Historis Tentang Perjuangan Sultan Hasanuddin Melawan VOC Di Sulawesi Selatan Tahun 1660-1669 - M I N D - YAYASAN KAJIAN RISET DAN PENGEMBANGAN RADISI, diakses Maret 14, 2026, https://jurnal.radisi.or.id/index.php/JurnalMIND/article/download/563/317/2063

  18. (PDF) Ilmu Pengetahuan Sosial Jilid 1 Kelas 10 Nur Wahyu Rochmadi - Academia.edu, diakses Maret 14, 2026, https://www.academia.edu/33173961/Ilmu_Pengetahuan_Sosial_Jilid_1_Kelas_10_Nur_Wahyu_Rochmadi

  19. Dampak Monopoli Perdagangan VOC bagi Rakyat Nusantara | kumparan.com, diakses Maret 14, 2026, https://kumparan.com/rizky-ega-pratama/dampak-monopoli-perdagangan-voc-bagi-rakyat-nusantara-267rDHA68BQ

  20. Benteng Fort Rotterdam, Ikon Wisata Sejarah di Makassar - Indonesia Kaya, diakses Maret 14, 2026, https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/benteng-fort-rotterdam-ikon-wisata-sejarah-di-makasaar/

  21. UPT Museum La Galigo – Museum Indonesia di Sulawesi Selatan - Indonesia Travel, diakses Maret 14, 2026, https://www.indonesia.travel/id/id/destination/sulawesi/south-sulawesi/upt-museum-dan-taman-budaya-sulawesi-selatan-la-galigo/

  22. Sejarah perlawanan terhadap imperialisme kolonialisme sulawesi utara.pdf - Repositori Kemendikdasmen, diakses Maret 14, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/13022/1/Sejarah%20perlawanan%20terhadap%20imperialisme%20kolonialisme%20sulawesi%20utara.pdf

  23. Benteng Otanaha, Jejak Portugis di Tanah Gorontalo - Indonesia Kaya, diakses Maret 14, 2026, https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/benteng-otanaha-mengenang-jejak-portugis-di-tanah-gorontalo/

  24. Fakta Unik Hingga Sejarah di Balik Peninggalan Benteng Otanaha Gorontalo, diakses Maret 14, 2026, https://www.liputan6.com/regional/read/5868272/fakta-unik-hingga-sejarah-di-balik-peninggalan-benteng-otanaha-gorontalo

  25. Benteng Otanaha, Cagar Budaya di Gorontalo yang Dibangun saat Era Portugis, diakses Maret 14, 2026, https://kumparan.com/jendela-dunia/benteng-otanaha-cagar-budaya-di-gorontalo-yang-dibangun-saat-era-portugis-22s3QqJNWdj

  26. PERANCANGAN BUKU VISUAL CAGAR BUDAYA GORONTALO SEBAGAI BENTUK PELESTARIAN DAN EDUKASI SEJARAH KEBUDAYAAN INDONESIA, diakses Maret 14, 2026, https://journal.stekom.ac.id/index.php/pixel/article/download/1377/1117

  27. SEJARAH SINGKAT TENTANG BENTENG OTANAHA - ILHAM PANGGI - UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO, diakses Maret 14, 2026, https://mahasiswa.ung.ac.id/911412142/home/2013/2/11/sejarah_singkat_tentang_benteng_otanaha.html

  28. Jangkar Raksasa : Peninggalan Sejarah Dari Abad 17 - Kepulauan Selayar, diakses Maret 14, 2026, https://pariwisata.kepulauanselayarkab.go.id/2014/09/jangkar-raksasa-peninggalan-sejarah-dari-abad-17/

  29. Cagar Budaya Selayar dan Peninggalannya | PDF | Ilmu Sosial ..., diakses Maret 14, 2026, https://id.scribd.com/document/597473992/Cagar-Budaya

  30. Profil Museum, diakses Maret 14, 2026, http://asosiasimuseumindonesia.org/9-profil-museum

  31. PEMUKIMAN MASA KOLONIAL DI KOTA BENTENG SELAYAR ..., diakses Maret 14, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/16769/1/Pemukiman%20Masa%20Kolonial%20di%20Kota%20Benteng%20Selayar.pdf

  32. Mandar dalam Arus Perjuangan Bangsa Indonesia - Semantic Scholar, diakses Maret 14, 2026, https://pdfs.semanticscholar.org/a592/740e4a2d493015abda3e7f4cc16279f12466.pdf

  33. (PDF) Sibali Parri': Gerakan Perlawanan Andi Depu di Mandar 1942-1946 - ResearchGate, diakses Maret 14, 2026, https://www.researchgate.net/publication/328808454_Sibali_Parri'_Gerakan_Perlawanan_Andi_Depu_di_Mandar_1942-1946

  34. Buku: Perlawanan Rakyat Balanipa – Mandar - Bengkel Narasi, diakses Maret 14, 2026, https://bengkelnarasi.com/2021/10/05/buku-perlawanan-rakyat-balanipa-mandar/

  35. Perjuangan Hammad Saleh - Repositori Institusi Kemendikdasmen, diakses Maret 14, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/16637/1/Perjuangan%20Hammad%20Saleh.pdf

  36. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - unhas repository, diakses Maret 14, 2026, https://repository.unhas.ac.id/48387/2/F071191028-Bab%201-2.pdf

  37. SEJARAH KOLONIAL INDONESIA A. Perkembangan Arsitektur Indonesia Arsitektur kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam ars, diakses Maret 14, 2026, https://ocw-mirror.telkomuniversity.ac.id/wp-content/uploads/2024/06/ARSITETUR-KOLONIAL-INDONESIA-18-AIB.pdf

  38. Arsitektur Kolonial Indonesia | PDF | Seni - Scribd, diakses Maret 14, 2026, https://id.scribd.com/document/731772738/Historical-Site-Studies-kelompok-1

  39. “INDISCHE EMPIRE STYLE”, diakses Maret 14, 2026, http://old-pubs.petra.ac.id/pePublikasi/download/id/0dff28af-91e5-4b19-9bd0-f41e814712f4

  40. Volume 1 Nomor 1, Mei 2025 - Pelestarian Bangunan Kolonial ..., diakses Maret 14, 2026, https://ejournal.cvddabeeayla.com/index.php/J-Multitechno/article/download/79/97/513

  41. Adaptasi Bangunan Gaya Arsitektur Kolonial Belanda terhadap Iklim Tropis Kota Manado, diakses Maret 14, 2026, https://www.researchgate.net/publication/327674280_Adaptasi_Bangunan_Gaya_Arsitektur_Kolonial_Belanda_terhadap_Iklim_Tropis_Kota_Manado

  42. GAYA BANGUNAN ARSITEKTUR KOLONIAL PADA BANGUNAN UMUM BERSEJARAH DI KOTA MANADO | Sabua, diakses Maret 14, 2026, https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/SABUA/article/view/8279

  43. PERKEMBANGAN SOSIAL MASYARAKAT PADA MASA PENJAJAHAN - T I P S, diakses Maret 14, 2026, https://jurnaltarbiyah.uinsu.ac.id/index.php/jurnaltips/article/download/3273/1330

  44. Dampak Kolonialisme di Indonesia dari Berbagai Bidang, diakses Maret 14, 2026, https://bpika.uma.ac.id/2023/01/17/dampak-kolonialisme-di-indonesia-dari-berbagai-bidang/

  45. Dampak Monopoli Perdagangan VOC di Indonesia | PDF | Pengelolaan Keuangan & Uang, diakses Maret 14, 2026, https://id.scribd.com/document/465968397/monopoli

  46. Analisis dampak imperialisme dan kolonialisme belanda terhadap struktur sosial dan ekonomi Indonesia, diakses Maret 14, 2026, https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/download/15047/4819/

  47. Menjadi Modern Tanpa Kehilangan Identitas: Problematika Pelestarian Cagar Budaya di Wilayah Sulawesi Tenggara, diakses Maret 14, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/365/1/Menjadi%20Modern%20Tanpa%20Kehilangan%20Identitas.pdf

  48. MELINDUNGI MEGALITIK LORE LINDU: RESPON TERHADAP UPAYA PENGUSULAN SEBAGAI WARISAN DUNIA - Penerbit BRIN, diakses Maret 14, 2026, https://penerbit.brin.go.id/conference/kms/article/download/79/1/471

  49. pemanfaatan museum la galigo sebagai media pembelajaran ilmu pengetahuan sosial, diakses Maret 14, 2026, https://ejournal.penerbitjurnal.com/index.php/humaniora/article/download/40/32/43

  50. Menbud Sebut Benteng Otanaha Punya Potensi Jadi Pusat Kegiatan Budaya - detikNews, diakses Maret 14, 2026, https://news.detik.com/berita/d-8163299/menbud-sebut-benteng-otanaha-punya-potensi-jadi-pusat-kegiatan-budaya

  51. UMULOLO BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA GORONTALO - Repositori, diakses Maret 14, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/25667/1/umulolo%202014_CETAK.pdf

  52. ditjen ahu berupaya melindungi cagar budaya di gorontalo - Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, diakses Maret 14, 2026, https://portal.ahu.go.id/id/detail/75-berita-lainnya/2272-ditjen-ahu-berupaya-melindungi-cagar-budaya-di-gorontalo

 

Ditulis oleh:

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: