Dari Silaturahmi ke “Battle Rap”: Ketika Komunikasi Elite Daerah Gagal Total

31 Mar 2026 | Oleh: Rastono Sumardi

Dari Silaturahmi ke “Battle Rap”: Ketika Komunikasi Elite Daerah Gagal Total

Lebak - Acara silaturahmi biasanya identik dengan suasana hangat: senyum, jabat tangan, dan kalimat klasik “mohon maaf lahir dan batin.” Tapi yang terjadi di Pendopo Kabupaten Lebak justru sebaliknya—panggung formal berubah jadi arena adu serangan verbal.

Dua tokoh utama dalam drama ini,

Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya dan Amir Hamzah,

menyuguhkan sesuatu yang lebih mirip “battle rap politik” daripada pidato kenegaraan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Dan lebih penting lagi: kenapa komunikasi mereka bisa gagal separah ini?

Salah Panggung, Salah Gaya

Dalam ilmu komunikasi, ada satu prinsip sederhana: setiap pesan harus sesuai dengan konteksnya.

Silaturahmi adalah ruang simbolik:

untuk meredakan ketegangan

memperkuat hubungan sosial

membangun citra positif

 

Namun, saat Bupati Hasbi justru menyinggung masa lalu pribadi wakilnya di depan publik, konteks itu runtuh seketika.

Alih-alih menciptakan kehangatan, pesan yang muncul justru memicu konflik. Ini yang disebut sebagai context collapse—ketika pesan tidak lagi cocok dengan situasi sosialnya.

 Ketika “Muka” Dijatuhkan di Depan Umum

Dalam budaya seperti Indonesia, menjaga harga diri atau “muka” adalah hal krusial. Menyinggung masa lalu seseorang—apalagi dalam forum resmi—bukan sekadar kritik, tapi bisa dianggap penghinaan terbuka.

Saat Hasbi menyebut Amir sebagai mantan narapidana, itu bukan hanya informasi—itu adalah serangan terhadap identitas.

Reaksi Amir yang langsung berdiri dan siap membalas bukan sekadar emosi spontan. Dalam teori komunikasi, itu adalah bentuk pertahanan diri untuk memulihkan harga diri yang diserang di depan umum.

Dari Emosi ke Strategi: Balasan yang Lebih “Berbahaya”

Menariknya, konflik tidak berhenti di lokasi acara. Justru setelah itu, Amir melancarkan serangan balik—dan kali ini lebih terarah.

Alih-alih menyerang pribadi, ia:

mengungkap dugaan absensi kerja Bupati

menyoroti kinerja kepemimpinan

Di sini terjadi pergeseran penting:

Dari konflik personal → menjadi konflik legitimasi

Secara komunikasi politik, ini langkah yang lebih efektif. Publik mungkin bisa mengabaikan serangan pribadi, tapi isu kinerja menyangkut kepentingan bersama.

 Panggung Depan yang Berantakan

Sosiolog Erving Goffman pernah menggambarkan kehidupan sosial seperti teater. Ada:

front stage (panggung depan): citra publik

backstage (panggung belakang): konflik sebenarnya

 

Pendopo seharusnya menjadi “front stage” yang rapi dan terkontrol. Tapi yang terjadi justru sebaliknya—konflik yang seharusnya diselesaikan di belakang malah dibawa ke depan.

Akibatnya:

citra pemimpin runtuh

publik menyaksikan konflik tanpa filter

 Etika Komunikasi yang Terabaikan

Dalam kasus ini, kedua pihak sama-sama bermasalah:

Hasbi melakukan serangan personal (ad hominem) yang tidak relevan dengan kepentingan publik

Amir membalas dengan membuka konflik internal ke ruang publik

Keduanya menjadikan komunikasi sebagai alat menyerang, bukan menyelesaikan masalah.

Ketika Konflik Masuk Mode “Spiral”

Yang paling mengkhawatirkan, konflik ini menunjukkan pola eskalasi spiral:

1. Serangan awal

2. Reaksi emosional

3. Balasan yang lebih tajam

4. Konflik melebar ke ruang publik

Jika tidak dihentikan, pola ini bisa terus berulang dan semakin membesar.

 Lebih dari Sekadar Drama

Bagi masyarakat Kabupaten Lebak, ini bukan sekadar tontonan viral. Ada dampak nyata:

Fokus pemerintahan bisa terganggu

Koordinasi internal melemah

Kepercayaan publik menurun

Yang terlihat seperti drama sebenarnya adalah gejala krisis komunikasi dalam kepemimpinan.

 

Pelajaran Penting

Kasus ini mengingatkan satu hal mendasar dalam komunikasi publik:

“Bukan hanya apa yang disampaikan, tapi di mana, kapan, dan bagaimana itu disampaikan.”

Ketika ruang formal digunakan untuk konflik pribadi, dan komunikasi berubah jadi senjata, yang kalah bukan hanya individu—tapi juga kepercayaan publik.

Kalau situasi seperti ini terus berlanjut, mungkin benar kata netizen: warga bukan cuma butuh informasi… tapi juga stok popcorn 

Tapi jujurnya, yang lebih dibutuhkan adalah satu hal:

kedewasaan komunikasi dari para pemimpinnya.

Ditulis oleh:

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: