CERPEN : RAMBU PERTAMA DI TOILI

11 Feb 2026 | Oleh: Ridayati

CERPEN : RAMBU PERTAMA DI TOILI

Pagi itu, Toili terasa berbeda.
Di persimpangan jalan yang selama ini hanya mengandalkan kebiasaan dan isyarat tangan, kini berdiri sebuah rambu lalu lintas baru—mengilap, tegak, dan mencolok. Merah, kuning, hijau. Untuk pertama kalinya.

Beberapa warga berhenti sejenak. Ada yang tersenyum bangga, ada yang memotret, ada pula yang hanya mengangguk pelan seolah berkata, akhirnya.

Bagi kaum muda Toili, rambu itu bukan sekadar penunjuk jalan. Ia adalah momen.
Ponsel langsung terangkat, kamera dibuka, jempol menari.

“Pertama kali di Toili!”
“Sekarang Toili makin maju!”
“Bangga jadi orang kampung!”

Unggahan demi unggahan membanjiri media sosial. Rambu lalu lintas itu viral—lebih cepat dari kendaraan yang melintas di bawahnya.

Namun dunia maya tak pernah satu suara.

Di antara komentar bangga, muncul pula nada nyinyir: “Baru sekarang ada rambu, norak banget.”
“Kayak orang kampungan, rambu aja difoto.”
“Mangkage, sok-sokan era digital.”

Komentar itu menusuk, meski hanya berupa kata.
Beberapa anak muda yang tadinya bangga, mulai ragu. Ada yang menghapus unggahan, ada yang memilih diam.

Arman, salah satu pemuda Toili, membaca semuanya tanpa membalas. Ia berdiri di bawah rambu itu sore hari, melihat motor, mobil, dan pejalan kaki mulai lebih tertib. Tak lagi saling teriak, tak lagi saling mendahului.

Ia tersenyum kecil.

“Biar dibilang kampungan,” gumamnya,
“yang penting kami sedang belajar tertib.”

Malamnya, Arman kembali mengunggah foto rambu itu. Tanpa filter berlebihan, tanpa caption panjang. Hanya satu kalimat:

“Kami tidak terlambat. Kami hanya sedang bertumbuh.”

Unggahan itu tak seramai sebelumnya, tapi komentarnya berbeda.
Ada yang mengerti. Ada yang mendukung. Ada yang akhirnya berhenti mencibir.

Di Toili, rambu lalu lintas itu tetap berdiri.
Tak peduli pada pujian atau nyinyiran.
Ia menjadi saksi bahwa kemajuan tak selalu datang bersamaan—
dan bangga pada daerah sendiri bukanlah sebuah aib.

Karena bagi Toili, hari itu bukan tentang rambu pertama,
melainkan tentang langkah kecil menuju perubahan. 


Toili 11 Pebruari 2026

Ditulis oleh:

Ridayati

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: