Malam Seribu Cahaya
13 Feb 2026 | Oleh: Rastono Sumardi
Pada sunyi yang lebih hening dari doa,
langit membuka pintu-pintunya.
Bintang-bintang bersaksi tanpa suara,
tentang hati yang pulang kepada-Nya.
Di antara desir angin Ramadhan,
ada rindu yang tak mampu kusembunyikan.
Rindu pada ampunan yang lapang,
pada rahmat yang tak pernah berkurang.
Malam itu turun perlahan—
bukan sekadar gelap tanpa cahaya,
melainkan samudra kemuliaan
yang berkilau lebih dari seribu bulan maknanya.
Setiap sujud menjadi sayap,
setiap doa menjelma cahaya.
Air mata jatuh sebagai saksi,
bahwa hamba ingin kembali suci.
Ya Rabb,
lipat gandakan pahala di detik yang Kau muliakan,
jadikan hati ini ladang kebaikan,
yang tumbuh hingga selepas Ramadhan.
Jika fajar tiba membawa terang,
biarkan jiwaku tetap bersinar—
karena pernah bersentuhan
dengan Lailatul Qadar,
malam penuh keberkahan