Akar yang Menancap Dalam
14 Feb 2026 | Oleh: Rastono Sumardi
Di rimba sunyi jiwa mencari arah,
di antara bayang ragu yang resah.
Angin badai menderu tanpa jeda,
menguji langkah, menakar setia.
Langit redup tak selalu bersahabat,
petir menyambar tanpa isyarat.
Namun di dada, cahaya tak padam
keteguhan tumbuh perlahan dan dalam.
Bukan baja yang dingin membatu,
tapi api hangat yang tahu
kapan harus sabar bertahan,
kapan harus tegak melawan.
Ia jadi jangkar saat ombak meninggi,
menahan karamnya mimpi-mimpi.
Bukan keras kepala mengejar kehendak,
tapi setia pada janji yang terucap.
Hati yang kukuh adalah pondasi,
tak goyah oleh sunyi dan ironi.
Tak runtuh oleh bisik caci,
tak retak oleh luka hati.
Aku akar yang menancap dalam,
menggenggam bumi di gelap malam.
Tak tergoyah walau dunia kelam,
tak menyerah walau diterpa tajam.
Dalam gelap kutemukan terang,
di antara perih tumbuh harapan.
Dari luka kupetik kemenangan,
dari air mata lahir kekuatan.
Aku percaya pada langkah ini,
meski jalannya sepi sendiri.
Sebab badai yang datang menghadang,
hanyalah guru yang menguatkan.
Walau langkah terasa berat,
seperti kaki terikat penat,
pandangan tak pernah berpaling,
tetap menatap ufuk yang bening.
Sebab kutahu rahasia waktu
setiap badai pasti berlalu.
Awan hitam bukan selamanya,
ia hanya singgah sebelum cahaya.
Di tanah keras benih ditanam,
dalam gelap akar menghujam.
Tak terlihat, namun bertumbuh,
diam-diam menguatkan tubuh.
Jika dunia meragukan langkahku,
biarlah waktu yang menjawab itu.
Karena yang teguh tak selalu lantang,
namun kokoh saat diterjang.
Dan bila lelah menyentuh jiwa,
kuingat tujuan semula
bahwa harapan tak pernah mati
selama iman tinggal di hati.
Aku akar yang menancap dalam,
menyatu tanah, memeluk alam.
Tak tergoyah walau dunia kelam,
karena jiwaku telah berdiam.
Dalam gelap kutemukan terang,
dari kegagalan lahir kemenangan.
Setiap badai yang datang menghadang,
adalah jembatan menuju harapan.
Dan aku tetap berjalan,
meski tertatih pelan
sebab kutahu di ujung perjuangan,
menunggu cahaya kehidupan.